2 baGoes = 1 bor biopori = kurangi resiko banjir

Terasa ya, terutama bagi kita yang tinggal di Bandung, bahwa di musim yang seharusnya sudah lebih ‘kering’ ini, hujan justru turun terus? Bagi yang rajin baca berita, pasti tahu ya, kalau hujan deras sebentar saja sudah bisa membuat jalan-jalan di Bandung menjadi sungai-sungai dadakan? Secara logika, mestinya kita ngerti ya, bahwa limpahan air itu kalau tidak ditampung pasti akan mengalir terus, dan bahwa air itu mengalir ke tempat yang lebih rendah? Bagi yang cukup beruntung tinggal di daerah bebas banjir dan longsor, tentunya bisa berpikir dengan lebih tenang ya, dan dapat membantu mencarikan solusi agar sesama warga Bandung ini dapat hidup lebih tentram tanpa harus merasa cemas setiap kali turun hujan deras, karena harus segera menyelamatkan harta-benda dan mengungsikan keluarga?

Berikut ini adalah salah satu caranya, bila kita ingin berperan dalam mengurangi beban banjir.

Poster baGoes untuk Biopori dari situs FHB

Karena luasnya area serapan air di bagian Utara Bandung yang tertutup akibat pengerasan permukaan (untuk bangunan, jalanan, dsb), air hujan yang turun deras tidak dapat meresap ke tanah. Selokan-selokan di sisi jalan pun mulai tertutup juga oleh pengerasan area, dan kalaupun ada, biasanya jalur-jalurnya sudah tersumbat oleh berbagai sampah padat yang sulit disingkirkan: botol & gelas plastik, kemasan makanan, tas kresek, kaos belel, kaleng kosong, sendal karet, dll. Wajar, bukan, kalau salah satu solusinya itu berupa penambahan lubang-lubang penampungan air di wilayah Bandung yang lebih tinggi, supaya air hujan tidak segera mengalir ke wilayah yang lebih rendah? Caranya adalah membuat lubang resapan biopori (LRB), yaitu sebuah lubang di tanah yang dalamnya kurang lebih 1 meter, dengan alat sederhana: bor biopori. Kalau saja dibuat minimal tujuh LRB di setiap halaman rumah di Bandung Utara, pasti sesama warga kota di wilayah Selatan dapat menjadi lebih tenang setiap kali hujan turun.

Cara mendapatkannya di Bandung? Dengan berkontribusi sebesar 200 ribu rupiah, satu unit bor biopori ini dapat diantar ke tempat, dengan bonus 2 (dua) buah baGoes, sebuah tas lipat yang praktis dibawa-bawa untuk menggantikan tas kresek ketika berbelanja. Detailnya bisa dilihat di situs Forum Hijau Bandung (FHB).

Berikut ini Q&A yang dikutip dari Bijaksana Junerosano, koordinator FHB, ketika membicarakan tentang LRB dan baGoes pertemuan FHB Senin 29 Maret 2010 lalu:

Kenapa harus lewat FHB kalau mau punya alat pembuat LRB? Sebenarnya tidak harus, bisa juga memesan langsung dari pembuat alat tersebut melalui situs Biopori di http://www.biopori.com/. FHB menawarkan layanan ini supaya teman-teman makin tergerak untuk berkontribusi. Coba: hanya dengan dua ratus ribu rupiah, alatnya dapat diantar langsung ke alamat dan mendapatkan dua tas baGoes(!)

Bor Biopori Type L01 buatan IPB

Kalau tidak mau membeli alatnya, tapi tetap mau berperan dalam pembuatan LRB ini, bagaimana? Bisa dengan cara berkontribusi sebesar (minimal) seratus ribu rupiah, dan mendapatkan satu tas baGoes. Nantinya uang ini akan dipakai oleh FHB untuk membeli bor biopori, yang akan disimpan di FHB, untuk dapat dipinjamkan secara gratis bagi siapa pun yang memerlukannya. Atau, bisa denganmenyumbangkan tenaga dalam pembuatan LRB. FHB sedang mempersiapkan sebuah hari-H di mana komunitas-komunitas yang berniat membuat LRB dapat secara serentak bergerak membuat LRB. Silakan mengikuti situs FHB di http://forumhijaubandung.wordpress.com/ untuk memperoleh update informasi mengenai rencana ini.

Alat pembuat LRB ini sepertinya mudah dibuat. Kalau mau membuat sendiri atau menirunya, kan bisa punya bor biopori dengan harga yang lebih murah? Memang tidak ada yang bisa menjamin bahwa desain alat ini bebas dari peniruan, tapi setidaknya dengan program ini, FHB menunjukkan penghargaannya pada Hak Kekayaan Intelektual pembuat alat LRB ini.

baGoes itu apa? Sebuah tas yang bisa dlipat sehingga praktis untuk dibawa-bawa, bisa menggantikan tas kresek bila kita berbelanja, produksi Greeneration Indonesia. Selengkapnya bisa dilihat di http://greeneration.org/products

Jadi, terlihat ya, bahwa ini adalah salah satu solusi untuk memperbaiki lingkungan yang sudah kita rusak separah ini, yang ditawarkan oleh FHB. Silakan bagi yang berminat untuk berkontribusi dengan membeli bor biopori, dan bagi yang memiliki energi dan waktu yang berlebih untuk berkontribusi dengan bergabung dalam pembuatan LRB.

Envirovolution: Pemenang Kompetisi Green Technology

Nata dari jerami nangka, yang sempat diicipi (enak juga :D)

Seperti dijanjikan kemarin, siang ini tim pemenang Kompetisi Green Technology ditentukan. Akumulasi dari penilaian yang diberikan tim juri menunjuk ke 3 produk hasil teknologi dengan nilai tertinggi: kertas daur ulang wangi, nata dari jerami nangka, dan bioethanol dari limbah buah salak untuk bahan bakar kompor. ‘Kemenangan’ produk-produk ini bukan berarti bahwa produk-produk finalis lainnya kalah unggul, tapi terutama karena faktor kesiapan tim (baik dalam mempresentasikan secara lisan, kemampuan menjawab pertanyaan juri, dan memeragakan prototype) dan hal-hal lain yang dipertimbangkan dalam setiap tahap penjurian. Selamat bagi para pemenang, mudah-mudahan mereka dan rekan-rekan di kampus masing-masing makin terpacu untuk mengembangkan teknologi berbasis potensi lokal.

Envirovolution: Kompetisi Teknologi ‘Hijau’

Hari Senin tgl 29 Maret 2010 lalu, berlangsung sesi presentasi para finalis Kompetisi Green Technology dalam rangkaian acara Envirovolution yang diadakan oleh U-Green ITB (sebuah unit mahasiswa yang aktif di bidang ekologi/lingkungan). Terdapat 10 finalis dari berbagai perguruan tinggi: ITB, IPB, Universitas Brawijaya, UGM, dsb. Saya berlaku sebagai juri, bersama dengan Pak Nyoman (SITH) dan Pak Fauzi (FTMD), di basement Campus Center Timur, sejak pk.08:30 hingga 14:00, mendengarkan presentasi para finalis dan mengajukan pertanyaan.

Nata dari jerami nangka di meja juri, dilatari para pembuatnya

Hasil teknologi ‘hijau’ yang ditampilkan sangat beragam, seluruhnya memberdayakan potensi lokal, meskipun sebagian masih berkutat di sisi hulu. Meskipun merupakan salah satu syarat, tidak semua finalis membawa prototype untuk diperagakan; sebagian tim membawa hasil eksperimen yang belum tuntas karena kendala waktu dan sebagainya. Yah, ini kompetisi, jadi tentu saja yang mendapat nilai lebih adalah mereka yang lebih siap. Catatan saya secara keseluruhan (tidak dimasukkan ke dalam form penilaian, karena mungkin tidak relevan): produk-produk teknologi hasil penelitian ini belum siap benar diterapkan di masyarakat atau dipasarkan secara meluas, karena masih banyak aspek-aspek usability yang belum tergarap tuntas. Contohnya, sebuah produk pengolahan sampah organik skala rumah tangga (pengompos sekaligus pencacah): prinsip mekaniknya jelas dan alat dapat berfungsi (meskipun memerlukan perbaikan detail), tapi masih dapat hal-hal yang bisa diolah supaya alat ini dapat dipakai dengan baik dalam sebuah rumah. Seorang anak kecil, ketika membuang sampahnya, harus memasukkan tangannya pada sebuah corong – padahal corong tersebut mengarah ke pisau pencacah. Bagaimana jiga si anak memasukkan tangannya terlalu jauh? Seseorang, ketika hendak mencacah, harus mengengkol sebuah tuas di sisi alat. Bagaimana posisi orang tersebut: membungkuk, berjongkok? Tuas itu sendiri sangat seadanya, sehingga dari melihat bentuknya saja orang tidak dapat mengetahui arah putar yang benar. Ketika kompos sudah jadi, cara mengambilnya adalah membuka lubang di bawah alat. Tapi harus ‘ditumpahkan’ ke mana, dan bagaimana mewadahinya dengan dasar serupa itu?

Kertas daur ulang yang berbau wangi, karena dicampur dengan limbah shampoo

Nah- hal-hal ini lah yang seharusnya jadi perhatian para desainer (produk). Teknologi tepat guna sebenarnya sudah banyak dikembangkan teman-teman dari berbagai bidang ilmu, dan adalah peran kita untuk dapat mewujudkannya menjadi sebuah produk yang dapat diterapkan secara optimal di masyarakat.

Dua foto yang saya tampilkan ini, adalah hasil teknologi yang prototype-nya paling terlihat siap dikembangkan produknya dan dibisniskan. Yang pertama, nata dari jerami nangka (sulur-suluran di sekitar daging buah nangka yang biasanya dibuang), sebagai alternatif kudapan berserat tinggi. Kemasan dan branding-nya jelas harus diolah lagi agar produk tersebut menjadi lebih representatif. Satu lagi adalah kertas daur ulang yang berbau wangi, karena dicampur dengan limbah shampoo saat pembuatannya. Wanginya bertahan berapa lama? Menurut tim pembuatnya, kertas-kertas ini dicetak sekitar 6 bulan lalu, dan hingga sekarang masih menguarkan bau sabun dengan kuat. Bayangkan bila dicetak menjadi bentuk2 lain dan diperkuat strukturnya sehingga dapat berfungsi menjadi gantungan baju, pasti kita tidak perlu lagi melemparkan pewangi ke dalam lemari baju. Masih banyak lagi hasil-hasil yang sangat menantang untuk dibuatkan product development dan business plan-nya, semoga berlanjut!

Hari ini, Selasa 30 Maret 2010, akan dilakukan penjurian terakhir untuk menentukan para pemenangnya (saya sendiri belum tahu, tim mana yang memperoleh nilai tertinggi dari hasil penjurian kemarin). More news, coming up after the winners announcement! 🙂

7 Prinsip Keberlanjutan untuk Komunitas Interaktif

Limpahan informasi, terutama tautan ke berbagai situs, salah satunya telah membawa saya ke sebuah tulisan berjudul Designing a Movement: Seven Principles for Sustainable Action (Valerie Casey), di mana Valerie Casey, pendiri Designers Accord, menyimpulkan prinsip-prinsip “keberlanjutan” yang dapat ia tawarkan ke komunitas desainer interaktif – sekelompok orang yang secara mendarah-daging selalu menganggap bahwa keberlanjutan adalah suatu desain sistem. Selengkapnya tentu saja bisa dibaca langsung di situs tersebut; di sini saya hanya merunut ke-tujuh prinsip tindakan berkelanjutan yang disampaikan Valerie.

1. Sebuah sistem bukanlah hanya sebuah gabungan dari bagian-bagian dari sistem tersebut. Satu bagian sistem pasti berpengaruh pada yang lain; tidak ada yang berada di luar sistem.

Tindakan: Memahami konsep sistem. Di sebuah bentangan benang yang ujung-ujungnya telah tertanam pasti/fixed (diagram Bruce Mau), tarikan pada satu bagian pasti akan mengulur bagian-bagian yang lain. Petakanlah proyek, sumber daya dan dampaknya dengan cara ini.

2. Masukan yang tertunda menyebabkan “jebakan desain”. Desainer bisa membuat keputusan buruk bila masukan/tanggapan terlambat datang.

Tindakan: Jangan mendesain untuk gejala tertentu saja. Banyak proyek desain terfokus hanya pada pemecahan masalah yang mudah untuk dicerna, daripada mengatasi sumber permasalahannya. Contohnya, orang lebih dianjurkan untuk mendaur ulang, tapi tidak pernah benar-benar dianjurkan untuk mengurangi belanjaan atau membeli produk-produk lokal.

3. Tidak ada yang namanya efek samping. Kita sering menentukan batasan-batasan artifisial di sekitar proyek kita bukan saja untuk memfokuskan diri pada permasalahan, tapi juga untuk menghindari tanggung-jawab terhadap hal-hal di luar batasan tersebut.

Tindakan: Alamilah produk-sampinganmu sendiri. Cobalah membawa-bawa sampahmu sendiri selama seminggu. Jangan buang benda-benda non-organik yang kamu pakai: botol plastik, kemasan, tisu, peralatan makan, semuanya. Ini akan jadi sebuah pelajaran kilat untuk mengetahui ‘efek samping’ dari semua konsumsi kita.

4. Tetapkan ukuran-ukuran kesuksesan yang tepat. Kurang buruk tidak berarti baik.

Tindakan: Buka sebuah jejaring sosial dengan sebuah tujuan sosial. Kita suka menciptakan jejaring, tapi bagaimana kalau kita menciptakan sebuah alasan untuk berjejaring? Kalkulator jejak karbon jadi kurang laku karena keabstrakan data hasilnya, berbeda dengan situs-situs di mana orang berbagi kasus-kasus nyata, perkembangan-perkembangan dan usaha-usahanya.

5. Pilih tingkatan yang tepat untuk perubahan.

Tindakan: Jadilah seorang mentor. Luangkan enam minggu bekerja dengan seorang siswa tingkat menengah atas, dan pelajari dirimu sendiri sambil membantu orang lain memakai pemikiran desain untuk mengubah lingkungan mereka (misalkan, sebuah sekolah).

Peta perjalanan bahan pembuat sebuah taco, menempuh hingga 64,000 mil (sumber: http://www.fastcompany.com/1567625/the-anatomy-of-a-taco)

6. Kenali hubungan antara struktur dan perilaku. Struktur sebuah kelompok, organisasi, komunitas, industri secara keseluruhan menentukan perilakunya.

Tindakan: Lakukan investigasi terhadap sebuah sistem. Telitilah sistem makanan dalam segala kejayaan politisnya yang korup. Mengertilah bahwa yang kau masukkan ke mulut adalah sebuah aksi politis. Cari berbagai referensi yang membuat kita tahu bagaimana pasar makanan global membuat lapar pihak-pihak yang miskin. Bayangkan dan berbagilah sumber-sumber mengenai hal-hal yang kau sukai, dan tambahkan sedikit data dalam investigasimu, mungkin kau bisa mempertentangkan berbagai asumsi tentang keberlanjutan, dan meluncurkan cara baru dalam berpikir.

7. Perhatian publik seringkali tidak mencerminkan perubahan dalam kondisi sebenarnya. Jangan terbuai oleh efek memabukkan dari isu-isu yang beredar tentang keberlanjutan – kamu juga harus melakukan sesuatu!

Tindakan: Kontribusi, distribusi. Bertindaklah sekarang!

Walk the Talk, and Do It With Your Style

PMLCC Report, Bangkok, 12-19 October 2009

by Deny Willy, Director of Apikayu Foundation

Surprisingly, I was selected to represent Indonesia as a participant of Project Management and Leadership Training for Climate Change (PMLCC) 2009. Frankly, there is a big question in mind, wondering why I was chosen, since ‘environmental subject’ is not my background, which I find the reason later on. Together with Ghani Kunto, and Pungky Widiaryanto, another participants from Indonesia, we joined this international program.

I have joined a similar program of young leadership training with young leaders from South-East Asia countries, but PMLCC open a discussion among European and Asian young leaders, so I could imagine how fruitful the program was.

We learned about leadership quite a lot, each activity pushed everyone to learn in depth about basic principles of  leadership. We used various games to approach  those basic principles, we took a moment to think about ourselves in relation to the leadership dimensions and in the same time tried to assess our behavior and awareness against each dimension, there we had a chance to dig deeper.

Next to doing those exercises, we had input about the situation and other people’s ideas in term of reacting to climate change and environmental issues around the world. I had my first learning of understanding the low-carbon control and economy through this forum. I was fascinated when Dr. Anond Snidvong (Director of  START Regional Center) explained very clearly about what we have done to our planet and our daily activity emitted carbon emission and produced green gas house which supposed to be a cause of extreme climate change, devastating disaster we are witnessing right now. The message is how we could control carbon emission by changing our lifestyles. He gave an illustration how our 1 kg organic trash in our daily life will emit more than 10 kg carbon during two years of its biodegradation. Then things come up in my mind, how many carbon we released in my creative process of producing sketch to design prototyping, and what about my students, no one ever explained them to concern on this. No lectures to my students in my college about our responsibility to have a low carbon diet!

We had chance to watch and discus ADB “Mini Stem” Climate Change film introduced by Mr. Khan ram-Indra, Climate Change Office, British Embassy Bangkok. I remembered Prof. Emil Salim emphasized that, Indonesia had lost 29 islands during years because of sea level rising, the expert says in next coming years if sea level raising further we could be lost up to 2005 islands, and it could be more, Professor stressed, to Indonesia, climate change is not a theory but a survival of this country.

But I found also different thoughts from other participants during our discussion. This forum consisted of young scientist, young policy maker, young social leader, academician, from Europe and Asian countries. This forum has became so colorful with their thoughts, I remembered my friend from Greece Theodoros Anagnostopoulos and  Stefan Balici from Romania said, don’t be so romantic about climate change issue since we don’t have any convincing evidence that extreme climate change caused by human, so far we are assuming. Michaela Rýgrová from Czech responded that climate change is happening since the beginning of the universe, thanks to climate change from ice age to nowadays, what becomes a problem is its speed up of climate change, do we need a proper word for climate change?

Another interesting point on that day was we need to have a illustration about what bad things could happen in term of climate change based on more specific targets, for instance the lost of 6,7 billion GDP in next 100 years ahead will not be easily understood by people, rather than policy maker. It means we need to fit the message we are trying to say about the climate change to the purposive target, for instance some people will easily understand what happen by seeing sea level up and island lost, but some people will get the idea by seeing figures, numbers or graphic, etc.

We had very fantastic presentations from a number of delegates, how lucky I am to be here to see creative people from different fields, from creative artist who uses technology that produces sounds from the plants, water, and then young ambassador of climate change from different countries sharing their activities that vibrant of one dimension of becoming a leader which is I WALK THE TALK; I act as I wish others to do. Theater Artist that showed their big talent with children around the world. Also a group of young creative scientists with their ideas of science communication with fun around the world through science theater. They had a Christmas performance for children, a way of scientists explained the science of Santa Claus would shared million presents to kids around the world within a night, they explained the physics theory of relativity, they explain also diabetes in term of Santa Claus should take care his health (you may find this group at www.scico.gr).

One of the programs was a site visit to a few places, where all delegates had to choose one of the locations;

1. Population & Community Development Association (PDA) is the leading and most diversified NGO in Thailand. PDA has pioneered sustainable grassroots endeavours, marked by extensive villager involvement not only as beneficiaries, but also as partners, planners, managers and leaders. PDA’s programs are based on the belief that local people are best suited to be an equal partner in shaping and sustaining their own development (http://www.pda.or.th/eng/)

2. Appropriate Technology Association (ATA), ATA is a non-profit organisation established in 1982 with a mandate to carry out research and development, and promote appropriate technology for the betterment of rural society i.e. biomass, biodiesel, energy efficient cooker, organic farming. ATA also promotes the alternatives on sustainable development to local community in Northeast area of Thailand for their sustainable living conditions. The development objective of the project is by 2010 the use of sustainable energy in Thailand is increased in relation to total energy supply.

3. Elephant Conservation in Khao Yai Area, where people could see how they manage this conservation area, the reason…

4. Khao Yai National Park is situated two hours from Bangkok in a complicated mountain range  where this park is the second largest in Thailand. Its waterfalls include the 80 meters Haeo Narok and Haeo Suwat made famous from the film The Beach. The Park was established in 1962 and is the Thailand’s first national park. In 1984, the Park was made an ASEAN Heritage Park and in 2005 it was inscribed as an UNESCO World Heritage Site. The most important think I learned from this site visit was Thai people had chance to see perfect scenery of huge forest with its richous special and biodiversity, just by having a two hours land trip from their hectic capital, Bangkok. How many hours should we reach a forest from our capital city, Jakarta? You guess..

(I supposed to go to PDA rather than Khao Yai National Park, since I didn’t read the information seriously. I have missed the important information written that PDA has pioneered sustainable grassroots endeavours for water resource development and sanitation, income-generation, environmental conservation and promotion of small-scale rural enterprise programmes instead of instead  of HIV/AIDS education and prevention which I thought it was not my field, how come!? However I enjoyed pretty much the green scenery out there).

We had a thoughtful learning while watching ‘The Age of Stupid’ movie, to understand that we are heading to age of  passiveness or the age of ignorance, we can be too late, and it was so horrible. On the last day, we came to realize there are many ways to set up a creative work by tools that are provided to sharpen our design projects. The training welcome each to negotiate, looking for partnership and gaining our communication skills in order to conduct an environmental project with a background of creative activity.

I felt enlightened by so many examples from participant’s presentation, advocacy, technical assistance,  campaigns, performing art, artwork in the field of environmental which can be approached by the media art. I presented my last project of utilizing local raw materials (the trunk of snakefruit/salacca edulis) to increase the income of local people and keeping them away from landslide disaster in the future. Through this forum, I promised myself to re-set up the project since some problems had set off the activity right now.  I share my thought about 3 things in relation to the potential of art as a tool of environment advocacy:

  1. Easy to be delivered
  2. Low investment
  3. Are easily replicated

I consider art as a mean of an inexpensive and an effective way to create a movement based on community participation, however, the movement at the same time should be a benefit to the targeted people as well. Whether it is financially or mentally benefited, this means that people can be pushed to participate in the global movement to protect the environment if they make benefit of it. That was my thought to share in this forum.

(The illustrated project can be seen from the activities accompanied by Apikayu Foundation, in Cineam Village, Kab. Tasikmalaya, Indonesia in terms of utilizing local raw materials (snakefruit trunks) to increase local people income and keeping them away from landslide disaster in the future (you can see this project through the website www.yayasanapikayu.org).

My educational background is not directly related to the environment, however, I worked my way to admire and appreciate nature and the environment. My job as a consultant in the field of skill training handicraft products provide opportunity to see a lot of potential and challenges in the nature around me. Some development of handicraft products that I developed with the use of natural materials around us has a positive potential in building awareness of local communities to preserve and protect the environment. Besides using natural raw materials designed become an added-value product.

Walk the talk, and do it with your style!

Workshop di Magno, Temanggung

Panda dan Artha, mengapit sebuah rambu di 'hotel' tempat kami menginap di hari pertama

Akhir Agustus 2009 lalu, saya bersama empat mahasiswa (Panda, Artha, Radit dan Mei) berangkat ke Temanggung untuk memenuhi undangan Mas Singgih: mengikuti workshop bersama beberapa mahasiswa dari Tokyo Zokei University, Jepang, yang diantar oleh profesor mereka, Fumi Masuda, dan Mie Suzuki dari Open House Inc. Selain kami dari Desain Produk ITB, datang juga Dodi, Nur dan Mufti dari Greeneration Indonesia dan seorang mahasiswa dari Jakarta. Oh ya, ada satu lagi tamu dari jauh: Moryl Mamie, yang sedang melanjutkan studi di UK. Kami yang berangkat dari Bandung sore-sore, tiba dini hari di Temanggung sempat beristirahat dulu di sebuah ‘hotel’, sebelum berangkat ke Kandangan, desa tempat Magno diproduksi.

Sebelum memulai workshop, kami semua dibawa melihat hutan di sekeliling Kandangan, tempat Mas Singgih memperoleh material utama produk-produknya: kayu. Kami melewati beberapa perkampungan, menemui orang-orang yang tinggal di sana, dan melihat langsung baik hutan rakyat maupun milik negara (HTI). Setelah itu, kembali ke Piranti Works, kami berkenalan dengan timnya Mas Singgih yang sehari-harinya berkutat dengan produksi dan pengemasan radio-radio kayu “Magno”.

Kerja kelompok

Workshop dimulai dengan pengantar dari Prof. Fumi Masuda, dilanjutkan oleh Mas Singgih. Tantangan utamanya di sini adalah, membuat produk dari material sisa atau reject dari proses produksi Magno. Material sisa ini sebagian besar adalah berbagai jenis kayu dalam berbagai ukuran dan bentuk komponen produk (radio), yang – menurut Mas Singgih – biasanya berakhir sebagai kayu bakar saja. Padahal volumenya cukup masif. Jadi, dalam workshop ini, diharapkan terdesain produk-produk baru dengan material utama kayu sisa ini, dengan tetap mengindahkan craftsmanship dan prinsip-prinsip desain produk industri.

Para peserta kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari campuran mahasiswa Jepang dan Indonesia. Sebelum makan siang, tiap kelompok telah mendiskusikan kemungkinan produk yang mereka buat, dan setelah makan siang mereka mulai mewujudkan konsep desain mereka menjadi prototype.

Kayu sisa berbentuk lingkaran mini, sedang dirangkai untuk membentuk suatu produk

Siang dan sore itu benar-benar diisi dengan kerja keras: memotong, menghaluskan, merangkai, sekaligus membuat presentasi konsep produk. Menjelang terbenamnya matahari, tiap kelompok maju mempresentasikan produk masing-masing. Malam itu, sekembalinya ke hotel dan setelah makan malam, mereka diminta menyiapkan hasil workshop untuk dipresentasikan keesokan harinya, di akhir presentasi TEDx Temanggung oleh Fumi Masuda dan Singgih S. Kartono.

Produk-produk yang dihasilkan dari sisa kayu produksi Magno hasil workshop ini, meskipun diciptakan hanya dalam satu hari, dapat menampilkan ide-ide segar dan berpotensi untuk dapat dikembangkan dan dimatangkan ke tingkat produksi.

Sebuah seri produk "tempat kartu nama", hasil workshop satu kelompok

Namun hasil dari workshop ini tidaklah sebatas sampai prototype produk saja: waktu perkenalan yang sangat ringkas dan kebersamaan secara intensif selama bekerja yang dialami para peserta telah meninggalkan kesan mendalam, sehingga prototype itu juga merupakan cerminan hasil komunikasi dan kolaborasi dua hingga tiga budaya yang menyatu. Kerja sama seperti ini diharapkan dapat berlanjut, meningkat dan – suatu hari – benar-benar dapat bermanfaat bagi masyarakat lokal.

“Envirovolution” Green Tech Competition

poster event envirovolution

U-Green, sebuah unit mahasiswa yang aktivitasnya terfokus ke isu-isu lingkungan dan ekologi, sedang mengadakan sebuah event bernama ENVIROVOLUTION. Di antara event yang terselenggara, terdapat Green Technology Competition, di mana tim dari berbagai perguruan tinggi diundang untuk mengajukan proposal teknologi ‘hijau’. Proposal-proposal yang masuk telah diseleksi hingga terpilih 10 (sepuluh) tim finalis, yang akan mempresentasikan karya mereka (termasuk prototype produk yang mereka ajukan dalam proposal) di hadapan tim juri pada hari Senin minggu depan, 29 Maret 2010. Kesepuluh karya finalis tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tungku Sekam Sebagai Alternatif Energi Rumah Tangga Pedesaan – Institut Pertanian Bogor

2. Mesin Komposter Skala Rumah Tangga – Institut Pertanian Bogor

3. Pengolahan Sampah Organik Skala Komunitas dengan Metode Keranjang Takakura di Desa Legok Hiris – Institut Teknologi Bandung

4. Pemberdayaan Makrozoobentos untuk Pengelolaan Air Sungai (Studi Kasus di Sungai Dawuhan Desa Tawangsari Kecamatan Pujon Kabupaten Malang) – Universitas Brawijaya

5. Biosurya (Subur dan Bercahaya): Inisiasi Desa Subur  dan Mandiri Energi Melalui Pengolahan Limbah Salak Pondoh Turi Menjadi Organic Fertilizier dan Bioethanol – Universitas Gadjah Mada

6. Bioetanol dari Limbah Buah Salak Pondoh dan Aplikasinya Sebagai Bahan Bakar Kompor – Universitas Gadjah Mada

7. Pembuatan Nata Jerami Nangka Sebagai Aplikasi Teknologi Pangan Berbasis Sampah Organik – Universitas Negeri Malang

8. Penerapan Teknologi Biogas untuk Pengolahan Limbah Cair Pabrik Tahu Sebagai Sumber Energi Alternatif  Rumah Tangga – Institut Teknologi Bandung

9. Teknologi Pembuatan Kertas Daur Ulang Beraroma Wangi yang Solutif, Aplikatif, dan Ramah Lingkungan – Institut Teknologi Bandung

10. Pemanfaatan Limbah Industri Agar-Agar (Gracilaria sp) Sebagai Bahan Baku Dalam Pembuatan Kertas Berkarakteristik Ramah Lingkungan – Institut Pertanian Bogor

Selamat untuk para tim finalis, mudah-mudahan hasil prototype dari berbagai teknologi ini tidak hanya berhenti sampai pada presentasi nanti, tapi juga dapat direalisasikan demi perbaikan kondisi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Untuk para tim yang tidak masuk final, semoga juga dapat tetap bersemangat dan terus mengembangkan ide dan produk teknologi yang telah ditekuni selama ini. Demi Indonesia yang lebih baik.

Selengkapnya mengenai ENVIROVOLUTION, silakan klik di sini.