Negotiating A New Indonesia

Ridwan Kamil filled in my Design & Sustainability class today as a guest lecturer, at the Master Program of The Faculty of Arts and Design, Institute of Technology Bandung (ITB). I invited him to talk about architecture, creative urbanism and creativity. Negotiating A New Indonesia was the title of his lecture, which actually contained lots of images and examples of his works, and activities he’s currently involved in, among others are: Tsunami Museum in Aceh, his renowned Bottle House, the award-winning Al-Irsyad Mosque in Padalarang, a locally-produced school for disaster victims in Padang, One Village One Playground program at Babakan Asih in Bandung, Bandung Creative City Forum, and Urban Farming movement.

Ridwan Kamil (white T-shirt, third from left) with fellow BCCF members, during the launch of Creative Entrepreneur Network of Bandung Creative City Forum in Bandung, 2009

Following are some lines from the session (in Indonesian).

===========================================

Selama ini alam Indonesia yang kita kenal kekayaannya biasanya adalah yang di wilayah pelosok, rural, alam bebas. Seharusnya wilayah urban juga bisa dikenal ke-Indonesia-annya melalui kekayaan alamnya. Tapi kenyataannya tidak demikian.

===

Ruang-ruang yang kumuh di Indonesia ini sebagian besar bukannya diselesaikan, tapi malah disembunyikan.

===

Green issues seharusnya tidak ada kalau cara hidup kita seimbang. Green seharusnya tidak menjadi trend, tapi menjadi hal yang lumrah. Ibaratnya “hidup sehat”, yang seharusnya dialami dan dijalankan setiap orang. Ajakan untuk “hidup sehat” biasanya ditujukan pada seseorang yang sudah mulai sakit, jadi sifatnya mengingatkan.

Begitu pula gaya hidup hijau, ditujukan pada manusia kini yang selama ini ‘lupa’ dan berfoya-foya memakai sumber daya, sehingga merusak kelangsungan hidup manusia sendiri.

===

Gaya hidup hijau ini seharusnya tidak diseminarkan lagi, karena berarti tidak ada perubahan sejak isu itu pertama kita ketahui.

===

Konsep keberlanjutan selalu melibatkan 3 hal: Ekonomi, Lingkungan dan Sosial-budaya. Tambah satu hal lagi: Lokalitas.

===

Tantangannya bagi kita sekarang adalah: mewujudkan keseimbangan 3 hal tersebut, sambil mencari yang “sangat Indonesia”. Jangan secara langsung meniru konsep di negara-negara Skandinavia, misalkan, atau di Jepang.

===

Desainer-desainer di Indonesia belum ‘janjian’ atau membuat manifesto tentang bagaimana karya desain yang ‘berkelanjutan’ itu untuk Indonesia. Sehingga kita sekarang memproduksi banyak hal, tapi tidak mencerminkan spirit yang sama.

===

Biasanya penciptaan karya desain selama ini mengikuti tahap berikut ini: Existing Culture -> Design -> Status Quo Value

Dengan tahap ini, hasilnya tidak akan berbeda dari yang sudah-sudah, tidak akan ada inovasi. Sehingga akan lebih baik kalau memakai tahap berikut ini:

Design -> New Culture -> New Value

Kekuatan terbesar pada tahap ini adalah kreativitas.

===

Desain harus menjadi wacana dan membuat orang berpikir.

===

Masyarakat yang tinggi peradabannya adalah masyarakat yang memiliki apresiasi yang tinggi terhadap desain.

===

Dalam hal Lokalitas terkandung tiga hal: cultural/vernacular, sosial/urban–non urban, dan klimatologis/lingkungan.

===

Desain arsitektur saya adalah desain story-telling. Tidak sekedar mengambil simbol atau ikon visual, tapi menerjemahkan ide dan konsep menjadi bentuk/ruang.

===

Konsep museum seharusnya dibuat sebagai ruang publik, bukan ruang ‘privat’ seperti sekarang ini.

===

Pendidikan arsitektur cenderung mengajarkan doktrin Cartesian: sumbu XYZ, bangun geometri logis, kotak-kotak. Padahal seharusnya tidak selalu begitu.

===

Karya arsitektur saya banyak dikolaborasikan dengan Desain Grafis.

===

Konsep ruang makan sekarang harus memperhatikan dan dapat merangsang semua indera manusia; tidak cukup hanya menawarkan makanan yang enak. Sajikan lokalitas dengan geometri yang baru.

===

Bagi bangunan di iklim tropis, bayangan itu penting. Merasakan keteduhan itu penting.

===

Arsitektur yang paling emosional adalah yang dapat berpuisi.

===

Pendidikan adalah yang membatasi cara kita berpraktik. Saya arsitek, karena saya dididik (formal) dengan ilmu arsitektur. Tapi bukan berarti saya tidak bisa menggarap hal-hal lain di luar arsitektur.

===

Ubahlah Indonesia dan masyarakat Indonesia dengan imajinasi.

===

Jangan pernah mendesain tanpa melihat/ mempelajari lokasi.

===

Desainer paling senang bila pesan yang ia ekspresikan melalui karyanya berhasil disampaikan dan karya tersebut feasible.

===

Sekarang sekitar 20% waktu saya untuk aktivitas sosial. Hidup di Indonesia ini, tidak akan tenang kalau kita makmur sendiir, tapi tetangga kesusahan.

===

Networking is everything. Kita harus bisa bergaul dengan setiap orang.

===

Urbanitas di Indonesia ini sudah ‘sakit’. Indikasinya adalah orang sudah enggan atau takut keluar rumah. Takut berjalan kaki, kuatir tersenggol kendaraan bermotor, takut bersantai di taman dan ruang terbuka lain.

===

Di jam-jam macet, traffic Twitter paling tinggi. Ekonomi kemacetan lahir: tiba-tiba ada tukang bapau, tukang jual minuman, dsb. muncul di jalan raya. Contoh lagi, tukang ojek mangkal sembarangan. Kalau ditanya, pasti jawabnya, “Yang lain juga begitu”.

Ini karena urbanitas kita hanya dalam konteks, bukan mindset.

===

Urban itu kata sifat, yang artinya harus dapat menerima perbedaan, harus mau mengikuti aturan, harus bertoleransi terhadap yang lain, demi kepentingan bersama.

===

Di kota-kota besar Indonesia, manusia dijauhkan dari arsitektur. Ini adalah penghargaan terendah terhadap profesi arsitek.

Pendidikanlah yang menyebabkan terjadinya hal ini. Tugas kita sekarang adalah melawan norma-norma yang salah kaprah. Yang, karena sudah terlalu banyak dilakukan orang dan menjadi biasa, lalu dianggap ‘benar’.

===

Perubahan tidak bisa ditunggu. Ia harus dijemput.

===

Salah satu mimpi saya adalah adanya Bandung Biennale, di mana kreativitas tersedia di ruang-ruang publik, tidak hanya di ruang privat seperti galeri atau museum.

===

*All images, except the first one, are taken from Ridwan Kamil’s presentation slide

3 Responses to Negotiating A New Indonesia

  1. Pingback: Urban Acupuncture: Cikapundung « o2 Indonesia

  2. Faril says:

    Di dalam presentasi disebutkan adanya tambahan “lokalitas”. Apakah “sosial-budaya” tidak mencakup “lokalitas” juga?

  3. Pingback: Desain, Teknologi & Krisis Urban « o2 Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: