SecondPage: extending papers’ lives

SecondPage documents

In a class called SENDAL by students (SENDAL stands for SENi, DesAin & Lingkungan), or Arts, Design & The Environment, taught by five lecturers from each programs at our faculty (Industrial Design, Visual Communication Design, Interior Design, Craft, Visual Arts), we asked students to form groups for their end-term exam. Each group was to bring up an ecological issue and respond to it using their capacities as creative individuals. At the end of the term, they had to submit a video explaining their projects and other documents from their projects (products, photos, posters, etc.)

SecondPage was among the groups that participated in the class in 2011. This project brought up the issues of paper waste, especially the one produced by final year students, who usually have to do several revisions. The first video shows the whole project, the second one gives an introduction to SecondPage, and the third video contains a step-by-step way to produce new notebooks out of used papers. If conducted seriously, this project can be developed into its own business entity, enterprising in taking in used papers, employing (slightly trained) workers, and producing commercially valuable products.

Advertisements

Laut kita juga perlu program “penghijauan”

Terumbu karang (c)Tita1997

Seperti biasa, dalam satu set perkuliahan, saya selalu mengundang setidaknya seorang narasumber yang dapat menambahkan wawasan pada para mahasiswa. Kali ini, di kuliah Desain Berkelanjutan, saya mengundang Daniel Edward V, salah seorang Duta Terumbu Karang Indonesia yang tinggal di Bandung. Kenapa? Karena, meskipun kita tinggal di pegunungan, kita harus selalu ingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang sesungguhnya kaya akan potensi laut dan pesisirnya. Diharapkan, sebagai para calon desainer, para peserta kelas ini dapat menentukan pilihannya dalam berkarya saat masuk ke dunia profesional dengan pertimbangan menyeluruh.

Selain mahasiswa reguler, di sesi ini saya juga mengundang teman-teman dari Forum Hijau Bandung; yang hadir adalah dari YPBB, Komunitas Sahabat Kota, dan U-Green ITB. Berikut ini adalah beberapa hal yang diambil dari sesi pagi ini, Jumat 25 November 2011. Terima kasih untuk Daniel Edward atas waktunya dan kesediaannya berbagi cerita mengenai kekayaan terumbu karang di Indonesia, terima kasih juga untuk para mahasiswa dan peserta kuliah sesi ini. “Indonesia memang edan!” 🙂

Indonesia itu sebenarnya negara kepulauan, tapi yang lebih dieksplorasi adalah hal-hal lainnya seperti bahan tambang. Mineral bumi terus menerus dikeruk hingga habis, seperti timah di Bangka dan Belitung.

Kenapa di Jawa Barat tidak ada terumbu karang? Sebenarnya sekitar tahun 60-70an ada dan mash bagus, tapi sekarang sudah hilang, karena perlahan-lahan dihancurkan oleh masyarakatnya sendiri. Nelayan yang memakai bom, racun, dsb.

Yang sekarang terkenal adalah wilayah Karimun Jawa, tapi yang diangkat hiunya, bukan terumbu karangnya. Jadi kurang perhatian ke arah itu.

Bunaken di Manado itu adalah Taman Nasional, tapi sekarang sudah kalah dari Wakatobi, karena dieksploitasi berlebihan.

Salah satu tugas Duta Terumbu Karang adalah melaksanakan program sosialisasi ke penyedia trip/ perjalanan, supaya tidak sembarangan. Misalkan (mengingatkan wisatawan) untuk tidak berdiri di atas karang ketika melakukan kegiatan snorkeling atau menyelam. Karena sebuah karang, bila patah sedikit pun, akan mati seluruhnya.

Ada kapal di dasar laut Sabang, tapi sudah tidak berbentuk kapal, karena sudah jadi habitat terumbu karang. Terumbu karang itu tumbuh di besi. Terlihat indah, karena selain warna-warni, berarti juga oksigen untuk kehidupan lautnya sangat baik.

Bagaimana daur hidup terumbu karang?

Terumbu karang adalah kumpulan berbagai makhluk laut. Mereka bergerak, meskipun dalam satu satu hari mungkin hanya beberapa sentimeter. Dimulai dari hard coral dulu, yang makin lama makin membesar. Pertumbuhannya bisa 1cm per tahun. Yang sangat besar umurnya bisa puluhan, bahkan ratusan tahun. Hard coral ini lalu dihampiri oleh hewan-hewan laut lain.

Bila di Jawa Barat tidak ada lagi terumbu karang, mungkinkah ada lagi kalau kita tanam lagi?

Mungkin saja. Sekarang di Pulau Pramuka dan Tidung sedang dilakukan, dalam program COREMAP.

Selain Duta Terumbu Karang, ada juga Duta Karang. Duta Karang adalah siswa-siswa SMA dari pesisir yang membuat tulisan tentang daerahnya masing-masing. Yang terpilih adalah yang bertugas untuk menanami kembali daerahnya dengan terumbu karang. Masalahnya, di Jawa Barat belum ada yang mau konservasi. Kapan-kapan mari menanam di Ujung Genteng dan sekitarnya.

Kalau misalkan terumbu karang itu habis, efeknya bagaimana?

Sama seperti kalau hutan di darat habis, tidak akan ada oksigen di dalam laut, hewan-hewan tidak ada yang bisa tinggal di dalamnya, dan polusi dari kapal, dll. tidak terserap.

Makanya, sebenarnya, jangan sampai habis.

Pernah dengar di sebuah siaran, bahwa bintang laut itu makan terumbu karang dan merupakan hama, jadi harus diambil?

Tidak hanya bintang laut, tapi ada beberapa jenis udang yang memakani terumbu karang juga. Untuk saya pribadi, meskipun memang seperti hama, perputaran hidup alaminya sudah seperti itu.

Anemon itu illegal untuk dipelihara?

Sebenarnya terumbu karang itu di mana-mana tidak boleh dibawa atau diambil, kecuali untuk keperluan penelitian, dengan surat-surat ijin khusus. UU khusus untuk ini sepertinya belum ada.

Bagaimana standar kebersihan air laut supaya terumbu karang bisa hidup?

Ada terumbu karang dalam dan ada terumbu karang atas, semuanya sama-sama bisa hidup dengan PH (tingkat keasaman) 27.

Air yang tidak sehat, indikatornya adalah banyaknya bulu babi, karang tidak bisa tumbuh. Kalau sudah begitu, laut harus dibersihkan dulu sebelum membiakkan terumbu karang .

Jumlah terumbu karang di Indonesia bagaimana?

RI negara dengan luasan terumbu karang terbesar di dunia. Australia sangat mengagungkan Great Barrier Reef, padahal lebih besar punya kita. Di Raja Ampat sendiri ada 90ribu hektar.

Tapi promosi dari pemerintah kita yang kurang. Kita agak kesulitan untuk menyebarkan informasi/ sosialisasi tentang hal ini. Inginnya sih dari media atau TV berskala internasional.

Dari pemerintah sendiri, hanya ada dua program per tahun. Pertama adalah program pengenalan ke kampus-kampus yang ada unit selamnya, yang kedua adalah Deep Extreme, sebuah acara besar di JHCC, Jakarta.

Jadinya kita harus lebih banyak berinisiatif sendiri. Para duta terumbu karang yang sekarang ada ditugaskannya adalah untuk ngobrol dulu ke sebanyak mungkin anak-anak muda. Tujuan utamanya adalah supaya orang-orang suka ke laut saja dulu.

Bila dikaitkan dengan Global Warming. Bila es kutub mencair, dan es itu air tawar, maka intrusinya bisa mengurangi kadar garam, yang berarti juga mengurangi keasaman laut? Sehingga kadar PHnya tidak memadai lagi bagi terumbu karang untuk dapat hidup dan berkembang? Sehingga besar kemungkinannya akan mengganggu kehidupan terumbu karang?

Terumbu karang memang sangat sensitif atau rapuh. Jadi memang mungkin saja akan mempengaruhi. Ini topik bagus, karena belum terpikirkan sebelumnya, akan saya cari tahu lebih jauh.

Kalau ingin melihat terumbu karang: mana yang paling dekat, tapi lumayan bagus dan murah?

Dari Bandung sini, mungkin ke Karimun Jawa, perlu biaya sekitar 550rb.

Kalau hanya ingin main saja, pulau seribu juga ada, tapi kecil-kecil.

Penjaga terumbu karang, ada kah?

Ada patroli laut, tugasnya juga menjaga terumbu-terumbu karang itu. Karena terlalu ramainya suatu kawasan bisa berbahaya juga utk terumbu karang di situ.

Dibandingkan dengan Australia, bagaimana sistemnya?

Terus terang mereka lebih baik, karena masyarakatnya lebih sadar bahwa kekayaan alamnya harus dijaga.

Sabang, setelah terkena Tsunami, masih bagus?

Terumbu karang bisa jadi alat pendeteksi gempa, sebetulnya. Garis-garis di gugusan terumbu karang adalah akibat saat terjadinya bleaching, ketika air surut sebelum gempa/ tsunami. Jadi dapat diukur ‘siklus’nya.

Saat terjadinya tsunami, karang di permukaan mungkin mati, tapi yang terletak di bawah 15-30 meter tidak mati.

Disebutkan bahwa salah satu perusak terumbu karang adalah nelayan. Mungkin pengrusakan yang mereka lakukan kecil-kecil dan sedikit, tapi bagaimana dengan industri besar, dibandingkan dengan nelayan? Apakah mereka tidak melakukan pengrusakan yang lebih hebat?

Sebenarnya, jumlahnya lebih banyak nelayan. Bagi industri, ada wilayah tertentu utk mengambil ikan. Pada nelayan, bila diusulkan untuk membuat tambak, mereka malah minta modal untuk hidup selama dilarang mengambil ikan dan menunggu hasil tambak.

Sebenarnya mereka sudah sejak dahulu melaut dan mengambil ikan, tapi sekarang berlebihan dan cenderung merusak karena ada perubahan cara mengambil (ingin cepat dan banyak sekaligus), tujuan (untuk dijual) dan jumlah nelayan yang ada sekarang. Apakah ada organisasi pendamping masyarakat pesisir?

Tidak ada, kecuali duta terumbu karang dan duta karang.

Berbagai pengalaman yang paling berkesan…

Pernah di SeaWorld, sedang asyik ngobrol dengan instruktur selam sambil menyelam, tiba-tiba menabrak hiu. Langsung diberi isyarat untuk tenang, dan diam. Jangan bergerak. Inilah yang harus dilakukan bila dihampiri hiu.

Pernah juga menolong orang yang kena sengat ubur-ubur. Obat penawarnya, selain dikencingi, adalah pakai tembakau. Tidak bisa pake rokok putih, hanya bisa pakai kretek.

Pernah juga kena bulu babi, yang begitu menusuk, patahan durinya tertinggal di dalam daging. Supaya bisa keluar, harus dihancurkan.

Bagaimana dengan eksploitasi berlebihan, misalkan di daerah Karimun Jawa sekarang?

Jumlah pengunjung yang berlebihan memang bisa berbahaya bagi kelestarian terumbu karang. Penyelam bersertifikat mungkin sudah mengerti cara melindungi terumbu karang, tapi tidak demikian halnya bagi kaum awam yang belum mengerti.

Apa yang paling memotivasi duta terumbu karang untuk melakukan inisiatif-inisiatif lingkungan?

Pada dasarnya, dari awal sudah tertarik pada laut, lalu menjadi duta terumbu karang ketika bertemu Departemen Kelautan dan Perikanan pada tahun 2009. Satu lagi, duta itu tidak dibayar, hanya ditanggung biayanya ketika berpromosi mengenai terumbu karang.

Twitter: @DanielEdwardV

Ilustrasi: cuplikan graphic diary saya ttg pengalaman berenang di Bunaken th.1997

I wish these trees could stay…

The story of Babakan Siliwangi Forest Walk goes a long way back, although the Forest Walk itself has been around for only less than three months. I won’t go in length here to tell the story, but anyone living in Bandung knows that Babakan Siliwangi (Baksil) has become one of the most disputable areas in Bandung, concerning building rights and ownership status. Being about the only forest in a dense urban area that is gradually being cramped by concrete buildings, roads and automobiles, it naturally becomes our concern to protect it. The concern becomes more intense upon knowing that a developer plans to build multi-stories apartment, a restaurant, and so on. The struggle goes on, especially since the municipal government seems to take on the developer’s side instead of ours.

Baksil Forest Walk

Therefore it was such an opportunity when about 1300 children and youths from 120+ countries gathered in Bandung for the TUNZA event in September 2011, held by The Indonesian Ministry of Environment (KLH) and The United Nations Environmental Program (UNEP). The venue was SABUGA conference hall, which is actually located within the Baksil area, so it was relatively easy to grab the attention of whoever attended and/or covered the event to the preservation of Baksil forest. Partnering with KLH, Bandung Creative City Forum (BCCF) therefore made sure that the following important events happened during TUNZA: the launching of Baksil as The World City Forest, the opening of Baksil Forest Walk, and the declaration of Urban Farming Global Network. Why are these things important? They somehow validated the existence of Baksil as a city forest that needs to be conserved, voiced by the world’s young generations, who are going to face the consequences of what we do today.

Here’s a video that shows a glimpse of BCCF contribution to the TUNZA event.

Back to the Forest Walk. It’s such a shame if you lived in Bandung, especially in the Northern part, and had never experienced the Walk. It was build at the height of the trees, so one doesn’t walk below the trees, next to the roots on the ground, but at the level of the trees’ huge branches, leaf crowns and the hanging, curtain-like roots. The Walk was built without disrupting any tree, giving way for them to keep living and growing by providing holes wherever necessary.

Dhanu's "Apple Birdhouse"

I took our kids to the Walk in separate times. Getting back home, Dhanu (10) who read about the fact (at info boards placed along the Walk) that Baksil is a habitat for various animals, especially birds, right away designed a birdhouse for the birds that live in the forest. Lindri (8), who was very much impressed by her surroundings, spontaneously exclaimed, “I wish these trees could stay forever”.

Lindri at The Forest Walk

Her wish, I’m sure, also belongs to a lot of people who live and breathe the air of Bandung. Baksil is among a few green sites in the city that provide us with oxygen, and whoever plans to demolish these sources must be ignorant of common human rights to have access to clean air and water. Baksil Forest Walk is a design that serves as a form of protest, to show what people actually want and need, as opposed to what the government and the developer have planned. Let’s just hope that the Walk stays intact, or even grows bigger, and that people can take care of it: keeping it clean, safe and comfortable. Let’s express our care for the site by enjoying the space, making it our playground – like HUB!, a community that concentrates on having fun activities at Baksil, does.

Save. Babakan. Siliwangi.

Bicycle Line: Repeating Mistakes?

As a person who has spent about ten years living in The Netherlands, and as a believer in all the goodness of a bicycle, I got intrigued when an acquaintance posted a link at Twitter to a YouTube video about How The Dutch Got Their Cycle Path.

The video tells the history about how, in the early 70s, The Netherlands was full of cars. Buildings had to be demolished to make ways for cars. A lot of people rode their bikes, but since there’s no proper paths, road accidents bound to happen. It’s similar to our current condition here, where cars and other vehicles are kings, roads and highways are being made and getting wider, with very few considerations toward pedestrians and bicycles.

[Read also the blog: How the Dutch got their cycling infrastructure]

The remarkable lesson from this history is the struggle of the people to fulfill their demand: having proper bicycle lanes, which was also backed by political willingness. Authorities joined in the voice of the people in their demand, and therefore appropriate bicycle lanes could be provided. They started by having car-free days, then gradually changed the road plans (widening the lines for pedestrians and bicycles). As the result, city centers became entirely car-free up to today, and The Netherlands becomes among the most bicycle-friendly countries. Numbers of road accidents have been greatly declining within the decades, and roads become a safe space for children and elderly people.

Watching this video has brought to mind a comment from an exchange student from Germany who currently joins my Design & Sustainability class. We were discussing strategies for eco-design, when he said that Indonesia, as a developing country with a lot of resources, should be able to skip all the mistakes that advanced industrial countries made. The industrial countries are now ‘paying for their mistakes’ by ‘cleaning up the mess they’ve made’ in an expensive way, such as restructuring their infrastructures and facilities to become more humane.

Concerning the bicycle line, cars and roads. We are indeed going to the direction where cars are considered as having more rights to the roads, compared to pedestrians and cyclists. There’s no policy limiting the use and purchase of motored vehicles, not to mention the loose regulations and practices concerning driving licenses. Although people (including children and elderly people) keep using the roads as pedestrians, there’s no guarantee about their safety even in crossing the street or walking at the sidewalk (which, if available at all, are mostly occupied by street vendors). Bicycle paths, if any, are almost impossible to ride on, since they’re merely (fading) blue paints over existing paving block sidewalks, which are lined by electricity poles, etc. – and also are often blocked by parking cars and motorbikes.

Are we really going to repeat the mistakes of the developed countries, or even making worse mistakes? Do we really want to live in a world where human beings worth less than automobiles and motorbikes? Aren’t we concerned about the safety of our young children and our elderly parents?

Whatever the answers are, I’d refer to the lessons from the video: public demands can only be fulfilled if the authorities have the strong political will to change. Like Al Gore once said, during The Climate Project Asia Pacific Summit (January 2011):

“You can always change your light bulbs with the energy-saving ones, but it takes the government’s commitment to change the energy policy, to create significant impacts”

==========

 

 

P.S. I should also mention about the availability and improvement of public transportation facilities, since it is among the crucial factors of successful, well-planned mobility, especially within a dense urban area. But I’m sure you’ve got the point.