Desain, Teknologi & Krisis Urban

Berikut ini adalah beberapa pointers dari materi kuliah Ridwan Kamil saat menjadi dosen tamu di mata kuliah Desain Berkelanjutan 2, Program Magister Desain, FSRD ITB, Senin 30 April 2012.

[Catatan lain dari mata kuliah yang sama, 4 Mei 2011: Negotiating a New Indonesia]

Emil saat mengisi kelas Desain Berkelanjutan 2

Science itu ilmu yang mencari kebenaran. Ilmu Sosial & Humaniora mencari keadilan. Sementara Desain itu ilmu yang mencari kecocokan, sehingga sifatnya memang subyektif.

=====

Tidak harus jadi orang kaya utk bahagia. Kita yang hidup di kota kebanyakan harus stress karena konstrain waktu. Ini karena sistem kapitalis yang ternyata sedang menang sekarang.

=====

Kota yang stress akan melahirkan manusia-manusia yang stress, sehingga peran desain menjadi sangat penting (untuk mengobati stress itu).

=====

Jalanan yang makin padat dengan kendaraan pribadi [lokasi: Jl. Dago, Bandung]

Dengan segala keterbatasan kita, kita bisa menciptakan inner sanctum happinesskita.

=====

Kalau ada waktu, lakukan sesuatu yang mikro, yang kalau banyak dilakukan bisa membuat banyak orang bahagia.

=====

Your city, your responsibility”. Kota tempat tinggalmu adalah tanggung jawabmu juga.

=====

Manfaatkan kelebihan orang Indonesia yang ini: hobi ngumpul. Makanya budaya arisan hanya ada di Indonesia. Buat sesuatu dari situ.

=====

High levels of resource consumption do not reliably produce high levels of well being. It is possible to produce high levels of well being without excessive consumption.

=====

Ada komunitas yg senang-senang saja, tapi ada juga yang based on issues seperti Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, Bridge for Life, dan sebagainya.

=====

Bila sering berperjalanan, kita bisa melihat kebiasaan atau budaya di tempat lain. [Foto: Shanghai, manula berdansa di jalan dan Paris, pasangan ber-tango] –> Mulai dari orang tua hingga anak-anak menemukan kebahagiaan di ruang publik.

=====

Ciri peradaban yang sakit adalah, ruang publik tidak dipakai. Ciri yang sehat, ruang publik habis terpakai.

Deretan warung memakai sisi jalanan, sehingga jalur pejalan kaki menjadi berada di ‘belakang’ warung-warung tersebut. [Lokasi: Jl. Hasanudin, Bandung, sisi selatan RS Boromeus]

 =====

Dari 500 taman di Bandung, yang diurus oleh Pemerintah Kota hanya 200. Lalu harus bagaimana?

Ada konsep 1 taman 1 komunitas: satu komunitas ‘mengambil’ satu taman untuk diaktifkan, seperti yang sudah dilakukan oleh komunitas fotografi, komunitas sahabat anak, dan seterusnya.

Bayangkan kalau semua taman itu bisa penuh terisi. Di akhir pekan, bisa dilakukan wisata taman, tidak melulu harus ke pusat pertokoan.

=====

Jakarta mewakili kota Indonesia.

Yang ditampilkan dari Jakarta selalu high rise building. Namun kaki-kakinya berantakan, baik secara terstruktur maupun organik.

Realita Jakarta adalah yang tidak terurus.

=====

Hidup di Indonesia itu kontras. Sebagai arsitek profesional, ada klien yang minta gedung mahal, sementara ada juga interaksi dengan penduduk kampung lokal yang dapat digarap.

=====

Ciri kota yang sakit adalah: pemerintahnya koruptis, pebisnisnya oportunis, akademianya apatis.

=====

60% orang Jakarta menghabiskan waktu di mal untuk berekreasi. Artinya, tidak ada alternatif lain untuk menghabiskan akhir pekan.  Inilah peradaban yang sedang dibangun oleh kapital. Sementara, utk mencapai shopping mall, fasilitas belum memadai. Akibatnya orang terpaksa berdesak-desakan di jalan raya, dan mengalami urban stress.

=====

Apa gunanya ilmu kalau tidak menyelesaikan masalah?

=====

Kalau Anda tinggal, misalkan, di Amerika, negaranya sudah established in term of urban systems. Di sini, kualitas ruang publik masih menjadi masalah.

Di negara yang sudah berfungsi, kita bisa fokus ke karya sendiri. Tapi di negara yang masih kacau, hati kecil tidak bisa dibohongi. Pasti ada dorongan untuk berbuat bagi lingkungan sekitar.

=====

Jakarta sebenarnya punya uang, tapi uangnya tidak well spent.

APBD Jakarta itu 36 triliun. Tapi kualitas hidupnya: dari 215 kota besar di dunia, Jakarta berada di urutan ke-139 sebagai kota yang nyaman dihuni. Terdapat total 39 faktor sebagai indikatornya, antara lain: political stability, personal freedom, air pollution, quality of healthcare, public spaces, schools, restaurants, theatres, etc.

=====

Urban Explosion: masa depan dunia itu Asia. The most optimistic young people are in Asia.

Dari sisi ekonomi, Indonesia sudah lepas dari krisis 2008 karena banyak yang kelas IKM. Sekarang kita hidup di masa yang ekonominya baik. Tapi masih ada tantangan: ledakan populasi.

Dulu penduduk Bandung jumlahnya 300ribu, sekarang 2,5juta, sementara tidak ada inovasi untuk mewadahi fakta ini.

=====

Harusnya kita bisa menghadirkan produk teknologi yang revolusioner di ITB.  Yang melibatkan partisipasi multi-disiplin ilmu.

=====

Sebelum ada Car-Free Day kita mungkin tidak tahu-menahu mengenai berbagai kegiatan positif di lingkungan terdekat kita. Setelah ada CFD, baru kita tahu ada apa saja di komunitas sekitar kita.

=====

The city is the people. Saat filosofi itu dilanggar, hilang jugalah positifnya.

Yang kita alami sekarang adalah, “kota” mendahulukan mobil, sementara pedestrian tidak ada. Pemikiran orang PU sekarang seperti itu, tidak pernah memperbaiki jalan aspal dengan sidewalk-nya sekaligus.

=====

Hidup “berkelanjutan” (sustainable) itu bisa dengan teknologi tinggi ATAU dengan mengubah gaya hidup. Di negara berkembang seperti Indonesia, lebih cocok dengan strategi mengubah gaya hidup.

=====

Urban Farming, Indonesia.

Power/ kekuatan di Indonesia adalah social cohesion. Indonesia ini negeri indah yang banyak masalah. Di kota-kota besar, banyak unbuilt space yang jadi negative space. Ruang-ruang semacam ini dimanfaatkan menjadi lahan untuk berkebun, yang juga telah menjadi ruang alternatif bagi aktivitas anak-anak.

Bulan Oktober 2011, Urban Farming Indonesia mendapat penghargaan dari Google sebagai Google Web Hero. Alasannya adalah: Internet dipakai sebagai sumber informasi (Google, YouTube), juga untuk menghubungkan orang (Facebook, Twitter). Hanya di Indonesia juga Internet lebih digunakan untuk mengkampanyekan berbagai gerakan. Kita ini masyarakat sosial tapi dekat ke teknologi.

=====

Educating client is the hardest part in design.

=====

Jangan percaya bahwa jalan tol dalam kota itu simbol kemajuan! Keputusan politik dapat menciptakan perubahan. Maju atau tidaknya suatu peradaban itu ditentukan oleh mental orang nomor satunya.

=====

Our fight is the fight for public space.

=====

Keberlanjutan bisa terwujud di level intervensi infrastruktur.

Babakan Asih: inisiatif memperbaiki kampung dengan lintas komunitas kreatif.

Dulu, tiap hujan biasanya banjir selama 3 hari. Sekarang, setelah ada lubang-lubang resapan, 15 menit air bisa surut.

Dulu, harus menggali sedalam 8m untuk mendapatkan air tanah. Sekarang, satu tahun setelah ada lubang-lubang resapan air itu, hanya perlu menggali sumur sedalam 4m. Dulu airnya keruh, sekarang jernih.

Ini adalah tugas kita yang punya ilmu.

=====

Desain sarana publik yg paling tepat utk org Indonesia?

Masalah utama di sini adalah: perawatan, keamanan (vandalisme), dan ‘sense of belonging’.

Pernyataan bahwa “secara sosial kita masih primitif”, mungkin ada benarnya. Karena saat diberi sesuatu yang baru, kaget, kalau tidak biasa, pasti di-abuse.

=====

Ada masalah-masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh desain. Jangan-jangan oleh kampanye, oleh pendidikan, atau sekedar dengan ngobrol. Tapi kita tidak akan bisa maju kalau kalah atau bergantung pada semua itu.

Akhirnya penerapan desain memang sifatnya eksperimental.

Akhirnya orang-orang yang punya ekstra (waktu, tenaga, sumberdaya) saja yang melakukan perbaikan. Satu pesan: kalau membuat sesuatu, buatlah yang keren sekali, jangan nanggung, supaya orang segan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: