“Design & Sustainability”? Cari Makan Saja Susah!

DESIGN AND SUSTAINABILITY? CARI MAKAN SAJA SUSAH!

 Achmad Fadillah | 27111098

Di suatu siang di dalam angkot jurusan Terminal Dago-Stasiun Hall di kota Bandung tercinta. Setelah semalaman hampir tidak tidur gara-gara mengejar deadline proyek, saya duduk sambil sepertiga ketiduran di kursi penumpang di dekat pintu masuk. Matahari di luar lumayan terik tapi anginnya masih lumayan segar, apalagi waktu angkotnya sedang  jalan. Saya perhatikan di kaca angkot refleksi wajah saya dan saya lihat mata saya tampak sendu dan sayu. Saya perhatikan wajah para penumpang di bangku seberang mulai dari yang paling belakang terus ke depan, tidak ada yang istimewa.

Lalu pandangan saya berhenti di pak supir yang tampak belakang. Dia sedang ngobrol dengan orang di sebelahnya, mungkin temannya. Saya perhatikan wajahnya melalui kaca spion dalam, sepertinya pak supir terlalu muda untuk dipanggil pak supir, tebakan saya umurnya mungkin masih di 20an awal, antara 20-23 tahun lah kira-kira. Jadi untuk selanjutnya saya akan sebut aja dia ‘si supir’.

Rasa kantuk saya pelan-pelan mulai luntur waktu waktu saya perhatikan si supir. Bukan cuma sambil ngobrol sama temannya, dia juga mengendarai angkotnya sambil makan buah duku yang bergerombol di dalam plastik kresek hitam di samping kirinya. Duku dibuka dengan tangannya, kadang-kadang dengan giginya. Daging buahnya dia makan lalu yang bikin saya agak risih melihatnya adalah waktu kulit dukunya dia buang ke luar jendela angkot, ke jalan. Terus begitu sepanjang jalan. Waktu berhenti di lampu merah, duku yang dimakannya makin banyak dan kulitnya tetap dibuang ke luar jendela. Jadilah sampah kulit duku itu berserakan di tengah jalan. Di setiap lampu merah, perhitungan statistik saya mengatakan rata-rata buah duku yang dia makan berjumlah antara 5 sampai 10 buah dan semua sampah kulitnya dibuang ke luar jendela.

Kesal rasanya melihat kelakuan si supir angkot itu. Kenapa sampahnya tidak dibuang saja ke kantong plastik tempat dia menyimpan buah dukunya? Atau paling tidak ya dibuang saja di dalam angkotnya.

Kalau kita perhatikan, banyak orang yang melakukan hal seperti yang dilakukan si supir angkot itu. Walaupun tidak semua yang menyampah sembarangan seperti supir angkot itu adalah mereka yang datang dari masyarakat kelas sosial menengah ke bawah, tetapi yang paling sering saya lihat ya memang mereka yang berasal dari kelas sosial itu. Memang tidak jarang juga saya lihat orang yang buang sampah sembarangan ke luar jendela dari dalam mobil bagus. Bukan cuma pengendaranya -yang kemungkinan adalah supirnya- tapi juga penumpangnya.

Kembali lagi  ke si supir angkot, setelah sekian menit menahan kesal, secara tidak sengaja saya semakin larut di dalam pikiran saya sendiri dan berdiskusi dengan diri saya sendiri tentang perilaku si supir angkot itu hingga sampai di satu titik di mana saya mencoba menempatkan diri saya di posisi si supir. Saya mencoba menerobos masuk ke dalam pola pikirnya.

Untuk si supir, tidak ada masalah dengan perilaku menyampah sembarangannya itu. Malah, itu mempermudah hidupnya. Begini, kalau dia buang sampah kulit dukunya itu ke jalan, maka ia tidak perlu repot-repot membersihkan interior angkotnya di akhir harinya. Lagipula, membuang sampah pada tempatnya tidak akan memberikan kebaikan apapun baginya. Untuk apa berperilaku ramah lingkungan? Untuk apa menyediakan fasilitas kebersihan di dalam angkotnya? Itu tidak akan meningkatkan jumlah penumpangnya, tidak juga akan memperbaiki kesejahteraannya. Membuang sampah pada tempatnya dan tetap menjadi supir angkot, apa hebatnya? Buang saja sampahnya ke jalan, supaya petugas kebersihan jadi ada pekerjaan. Memangnya kalau kota ini bersih penghasilan supir angkot akan meningkat?

Perilaku-perilaku tidak ramah lingkungan banyak sekali dapat kita jumpai di sekitar kita. Bukan hanya di daerah-daerah pinggiran saja, tetapi juga di pusat-pusat kota seperti contoh si supir angkot di atas. Seperti yang juga sudah disinggung sebelumnya, kesadaran akan kelestarian lingkungan bisa dikatakan sulit dijumpai di kalangan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Kemungkinan besar sumber utama yang menjadi penyebabnya adalah rendahnya tingkat pendidikan  dan penghasilan masyarakat di strata ekonomi tersebut yang menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan mereka, yang berujung pada rendahnya kesadaran mereka akan kelestarian lingkungan. Seperti pada judul tulisan ini, jangankan memikirkan untuk memiliki perilaku atau produk-produk ramah lingkungan, cari makan saja susah!

Selanjutnya mari kita kupas sedikit tentang design & sustainability. Di sekitar kita sudah mulai dapat dijumpai produk-produk yang mengusung konsep ramah lingkungan. Sebut saja bio-degradable plastic (plastik yang dapat terurai secara alami). Jenis plastik ini sudah mulai digunakan di beberapa supermarket. Tentu itu merupakan sebuah kabar gembira bagi kita yang sangat peduli akan kelestarian lingkungan. Pertanyaannya, kenapa belum semua supermarket menggunakan jenis kantong plastik kemasan seperti itu? Mungkin jawabannya adalah karena harganya yang relatif lebih mahal dari kantong plastik biasa. Atau mungkin juga karena mereka (pengusaha supermarket) tidak ingin merusak hubungan bisnis yang baik dengan suplayer kantong plastik mereka. Atau mungkin karena memang mereka tidak sadar lingkungan saja. Apapun penyebabnya, penggunaan kantong plastik bio-degradable yang belum begitu populer ini pasti ada latar belakangnya.

Kelestarian lingkungan dalam kaitannya dengan desain produk sehari-hari intinya bukanlah bicara soal teknik produksi, penggunaan material ramah lingkungan, pengelolaan sampah atau limbah semata. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini bukanlah plastik -yang kabarnya membutuhkan waktu paling sedikit 50 tahun untuk terurai di tanah-, atau bukan juga zat-zat kimia beracun yang digunakan industri untuk memanufaktur berbagai produk yang ada di keseharian kita. Benda paling tidak ramah lingkungan yang pernah ada di dunia ini adalah manusia. Manusia lah yang mengekstraksi berbagai material mentah dari dalam bumi. Manusia lah yang mengolah material-material itu hingga menjadi produk-produk sehari-hari. manusialah yang menciptakan racun-racun yang mencemari tanah, air dan udara ini. Manusia lah yang mengkonsumsi semua produk itu. Manusia lah yang tidak pernah berpikir untuk menghemat energi. Manusia lah yang menghasilkan sampah. Manusia lah sumber malapetakanya.

Bagian paling merusak dari makhluk yang namanya manusia ini adalah perilakunya. Di tulisan ini saya ingin menekankan untuk tidak melimpahkan semua dosa kepada material yang tidak ramah lingkungan karena yang tidak ramah lingkungan bukanlah materialnya, tetapi perilaku manusia yang mengelolanya. Sampah plastik seakan-akan seperti hantu yang selalui bergentayangan dan diusahakan untuk dibasmi. Pada sampah plastik, kata yang perlu digarisbawahi bukanlah kata ‘plastik’ nya melainkan kata ‘sampah’ nya. Plastik tidak akan menjadi menyebabkan bencana lingkungan bila dikelola dengan baik, didaur ulang, digunakan kembali, dan bukan dibuang sembarangan. Bayangkan kalau kita harus mengganti material plastik dengan material lain yang ramah lingkungan, ribuan pengangguran akan mengantri entah untuk mencari kerja atau demonstrasi di jalan karena pabrik plastik tempat mereka bekerja tutup dan mungkin selanjutnya akan muncul bencana sosial seperti meningkatnya angka kejahatan dan jumlah ‘gepeng’ (gelandangan dan pengemis).

Sebenarnya ada solusi lain yang nampaknya lebih bijaksana dan tidak menyisakan masalah lain yang sama celakanya. Solusinya adalah mendesain ulang produk-produk berbahan tidak ramah lingkungan dengan menekankan pada perilaku manusia konsumennya. Sekali lagi saya kemukakan bahwa sampah tidak akan menjadi sampah bila tidak dibuang. Melalui penerapan ilmu desain, sangatlah dimungkinkan untuk hadirnya produk yang usia kegunaannya bisa lebih panjang walaupun fungsi utamanya sudah habis.

Sebagai contoh, dapat dilihat di halaman website http://geenius.co.uk/advertising/stanley-honey-full-circle-packaging/. Di sana bisa kita lihat sebuah desain kemasan madu yang berbentuk seperti pot tanah liat. Setelah madunya habis, kemasan ini bisa digunakan sebagai pot untuk menanam bunga dan hal ini disampaikan melalui tulisan yang merupakan pesan utamanya yang berbunyi, ” Reuse this pot to grow more flowers and keep our bees busy”.  Ini adalah sebuah contoh yang ringan namun sangat inspirasional. Dan yang paling penting, desain kemasan ini murah dalam produksinya dan tidak menekankan konsepnya pada material yang digunakan melainkan pada fungsi dan pesan ramah lingkungan yang diusungnya. Hal seperti ini sangat mungkin untuk diterapkan di berbagai produk.

Demikianlah akhirnya saya menyimpulkan bahwa desainer sangat dapat memotivasi perilaku ramah lingkungan pada pengguna produk yang dirancangnya. Dan sangat memungkinkan juga untuk menerapkan hal serupa pada produk-produk konsumen di berbagai lapisan masyarakat. Masih banyak cara dan metode -selain inovasi material ramah lingkungan- yang bisa diterapkan untuk menciptakan hubungan yang lestari dan harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan produk kesehariannya, serta manusia dengan lingkungannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: