Tugas I SENDAL2015

Assignment I Art, Design, Environment FSRD ITB semester II/2014-2015

logo itb 1920In a group of 5, compose a proposal containing an idea and/or a project for a design/art/craft work/object/artifact (including system, activation, etc.). Theme: SMART CITY (within Bandung context)

Ideas or projects for this theme include:

  • Responds in a form of a creative intervention toward current smart city issues in Bandung
  • Works on spaces, functions, or systems of city elements that relate to smart city issues (signage, public art, program, etc.)
  • Problem solving through creative ideas/works that do not depend on massive infrastructure, big budgeting, or complex bureaucracy

Format:

  • Paper size A4, horizontal
  • Page 1: title/theme + group identity
  • Page 2 onward: concept and visualization
  • Submission: 30 January 2015

Page 1 >> Ideas/Projects Concept:

  • Basic ideas/ motivations, objectives
  • Material
  • Scenarios of placement/ function/ operational, etc.
  • Other points that are relevant to the realization plan

Page 2 onward >> Visualization of ideas/projects (sketches, digital image, model/mock-up, etc.). Free techniques, as long as the ideas/projects can be clearly presented.

Advertisements

Chiang Mai Design Week

Born Creative

Born Creative

Ini adalah pertama kalinya Chiang Mai menyelenggarakan Design Week (Chiang Mai Design Week/ CMDW), dengan tema Born Creative, diselenggarakan oleh Thailand Creative & Design Center (TCDC) dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Chiang Mai dan The Office of Knowledge Management and Development (OKMD). Selama satu minggu penuh, 6-14 Desember 2014, beragam aktivitas dan program yang berhubungan dengan desain dan kreativitas diselenggarakan di banyak titik di Kota Chiang Mai. Saya berkesempatan hadir di CMDW perdana ini karena diundang untuk menjadi salah satu narasumber di salah satu acara utama CMDW yaitu di sesi Creative City dalam program Creative Dialogue, sebuah talk show yang diselenggarakan di venue utama CMDW, yaitu TCDC Chiang Mai. Berikut ini adalah beberapa hal menarik mengenai penyelenggaraan CMDW di kota yang karakter dan skalanya menyerupai Bandung ini.

 

Paket Buku Acara dan Peta

Penyelenggara telah menyiapkan buku acara dengan jadwal dan detail tiap program, plus peta yang memberi informasi lokasi sebaran venue tempat program/acara berlangsung. Titik-titiknya pun memiliki kode berbeda untuk tiap jenis acara, misalkan: pameran, instalasi kota, workshop, dll. Paket buku acara dan peta ini dapat diperoleh gratis di booth informasi CMDW yang tersebar juga di beberapa titik kota yang menjadi venue besar CMDW, selain juga dapat diakses melalui website CMDW http://www.chiangmaidesignweek.com/map_location/. Dengan adanya informasi yang selalu ter-update ini, pengunjung dapat merencanakan perjalanan dan waktu kunjungannya ke CMDW.

 

This slideshow requires JavaScript.

Elemen kota: Instalasi Seni dan Penanda Venue

Tersebar di Chiang Mai, beberapa instalasi seni yang juga ditandai sebagai bagian dari CMDW. Tiap instalasi diberi penanda yang serupa dengan penanda di setiap venue atau gedung yang berpartisipasi di CMDW; bentuknya mirip penyangga kanvas untuk melukis. Penanda ini, selain diberi nomor sesuai dengan yang terdapat di peta dan buku acara, juga memuat informasi mengenai instalasi yang terpasang dan pembuatnya.

Penanda ini sangat membantu bagi pengunjung yang sengaja hendak mampir ke berbagai venue CMDW, terutama karena beragamnya jenis venue yang berpartisipasi di CMDW ini; dari café, gudang ‘kosong’ dan gedung-gedung pemerintahan, hingga hotel bersejarah dan spa yang memiliki reputasi global. Hal ini juga menyebabkan siapa pun yang berada di Chiang Mai menjadi mengetahui mengenai CMDW dan dapat turut menikmati suasana dan karya-karya di CMDW.

Selain instalasi dan penanda venue, terdapat pula elemen promosi di beberapa titik seperti di terminal kedatangan di bandara Chiang Mai, di persimpangan jalan, dan lain-lain, namun tidak sampai mengalihkan dari rambu-rambu utama maupun mengganggu pemandangan kota.

 

This slideshow requires JavaScript.

Tur Sepeda

Selama berlangsungnya CMDW, terdapat tawaran tur sepeda gratis yang menawarkan kunjungan ke beberapa venue CMDW, sekaligus paket-paket workshop selama tur berlangsung. Chiang Mai belum mempunyai sistem bike sharing di kotanya, dan tim operator tur sepeda ini pun sebagian besar datang dari Bangkok, sementara sepeda-sepedanya diadakan oleh sponsor. Di luar acara tur, sepeda-sepeda ini dapat dipergunakan secara gratis oleh siapa pun, dan dapat diambil atau dikembalikan di pos-pos sepeda mana pun yang tersedia di venue CMDW.

Tur sepeda ini berlangsung sejak pagi hingga sore hari. Pagi hari, sekitar 15 pesertanya sudah berkumpul di meeting point awal, di TCDC. Setelah diberi pengarahan singkat mengenai cara berkendara yang aman dan membentuk buddy system untuk selama tur berlangsung, kami berjalan kaki ke sebuah venue CMDW lain yang terletak di seberang jalan TCDC. Venue ini berupa sebuah lahan kosong di mana terdapat sebuah gudang semi-terbuka, yang selama CMDW berlangsung menjadi tempat pameran. Di pelatarannya terdapat satu kontainer barang yang diubah menjadi ruang display (pameran furnitur Skandinavia) dan satu area yang berfungsi sebagai dapur dan café terbuka untuk acara diskusi, serta sebagian lahan yang menjadi tempat parkir dan pos sepeda. Setelah melihat pameran di venue pelataran terbuka ini, kami kemudian berjalan kaki menuju venue di sebelahnya, sebuah gedung 4 lantai yang biasanya tidak terpakai. Selama CMDW berlangsung, seluruh lantai gedung ini diisi oleh pameran dari beragam produk, mulai dari produk-produk tradisional (mis. lacquer works), karya kontemporer (mis. poster dan desain produk daur ulang), hingga display mengenai organisasi seperti Handmade Chiang Mai. Setelah selesai melihat display di gedung ini, kami kembali ke venue gudang semi-terbuka, untuk memilih dan mulai mengendarai sepeda masing-masing menuju venue CMDW lain.

Tiba tengah hari, venue yang kami kunjungi adalah sebuah hotel di kawasan kota tua Chiang Mai, yang sebagian bangunannya masih berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu. Di hotel ini terdapat pameran textile for fashion dan hasil studi eksplorasi material alam untuk berbagai produk berbahan dasar kertas. Setelah disambut oleh manajer pemasaran hotel yang juga menerangkan bahwa hotel ini juga sangat terkenal oleh spa-nya, tim tur sepeda ini dijamu minuman segar dan makanan kecil sebelum melanjutkan perjalanan. Saya harus berpisah dengan rombongan, karena harus segera mempersiapkan diri untuk mengisi acara Creative Dialogue, sementara peserta tur lain berangkat ke venue lain dan berpartisipasi di berbagai workshop yang termasuk dalam paket tur sepeda ini.

 

This slideshow requires JavaScript.

“Angkot” Gratis

Selain sepeda, selama CMDW disediakan pula kendaraan gratis dari venue ke venue, yaitu “angkot” (kendaraan umum yang lazim digunakan di Chiang Mai, mirip Mikrolet di Jakarta), yang diubah menjadi shuttle gratis CMDW dengan menambahkan penanda dan infografis peta venue yang menjadi titik hop-on/-off pada bagian muka dan sisi kendaraan.

 

This slideshow requires JavaScript.

Meskipun hanya sempat berada di Chiang Mai selama 2 hari saat CMDW berlangsung, cukup terasa suasana penyemarakkan kota dengan berbagai aktivitas desain. Apalagi saat itu juga berlangsung Nimmanhaemin Art&Design Promenade (NAP), acara tahunan yang telah menjadi salah satu tujuan utama pengunjung Chiang Mai di minggu ini. Beragamnya jenis acara yang ditawarkan juga menggambarkan lingkup pengembangan desain di Thailand pada umumnya, dan Chiang Mai pada khususnya: mulai dari karya mahasiswa desain, pengrajin tradisional, hingga designer-residence dan karya warga ekspatriat, mulai dari karya eksperimen hingga yang telah memiliki brand eksklusif; seluruhnya disajikan dengan cara yang dapat memperkenalkan dunia Desain dengan ramah dan menyenangkan.

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

*Pertama kalinya menulis artikel untuk Warta Gereja GKI Maulana Yusuf, Bandung, dalam perjalanan antara Seoul dan Jeju, Korea Selatan. Artikel ini dapat pula diakses di http://gkimy.or.id/main/kolom-bina-jemaat/325-kolom-bina-2014-11-23

 

Merayakan Hari Pohon dengan Kreativitas dan Aktivasi Ruang Kota

 

Dari sekian banyak hari besar dan peringatan di muka bumi ini, salah satu yang paling mengekspresikan kemesraan antara manusia dan habitatnya adalah Arbor Day, atau Hari Pohon (arbor berarti “pohon” dalam Bahasa Latin), yang jatuh pada tanggal 21 November, di mana orang diajak untuk menanam dan merawat pepohonan. Pada awalnya, Hari Pohon ini dimulai di Villanueva de la Sierra, sebuah kota kecil di Spanyol, ketika seorang rohaniwan lokal mencanangkan inisiatif tersebut pada tahun 1805, yang disambut dengan antusias oleh seluruh warga. Hingga kini, Arbor Day masih dirayakan di berbagai negara, meskipun dalam tanggal yang berbeda-beda, disesuaikan dengan iklim dan musim tanam di negara masing-masing.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah memberi perhatian khusus pada pohon yang terus memberi manfaat bagi kita? Atau mungkin karena saking terbiasanya merasakan kehadiran pohon, kita terkadang menganggap remeh keberadaannya? Bagi kita yang hidup di kota besar, padat penduduk, dan terus berkembang seperti Bandung: perilaku apa yang kita biasakan dalam menghadapi sesama makhluk hidup ciptaan-Nya ini?

Berbagai hal yang berkaitan dengan kualitas lingkungan, yang telah menjadi keprihatinan bersama belakangan ini, antara lain meliputi bencana banjir, polusi udara, dan suhu yang makin panas dan tidak nyaman, terutama di berbagai wilayah padat penduduk. Secara langsung maupun tidak, hal-hal ini berkaitan dengan keberadaan dan kualitas pepohonan di lingkungan tersebut.

Terbatasnya Ruang Terbuka Hijau di perkotaan padat penduduk seperti Bandung ini menjadi salah satu sebab berkurangnya lahan yang dapat ditanami dan ditumbuhi pepohonan. Namun hal ini tidak menjadi halangan bagi berbagai komunitas dan masyarakat lokal untuk dapat memperbaiki kualitas lingkungan hidupnya. Tentu beberapa dari kita telah akrab dengan istilah urban farming dan sejenisnya, yang mengarah pada pemanfaatan lahan yang paling sempit sekali pun untuk bercocok tanam. Bahkan juga pemanfaatan berbagai lokasi tanam yang (dulunya) tidak lazim, seperti dinding, pagar, hingga atap rumah, dengan media tanam yang juga berbagai rupa. Bandung, yang dikenal sebagai kota dengan berbagai komunitasnya yang sangat aktif, telah banyak pula melahirkan gerakan yang berkaitan langsung dengan upaya penghijauan wilayah permukiman, hingga aktivasi ke kampung-kampung kota dan taman-taman publik, hingga hutan kota.

Forest Walk at Babakan Siliwangi. (c)GalihSedayu2013

Forest Walk di Hutan Kota Babakan Siliwangi (c)GalihSedayu2013

Kreativitas warga dan komunitas di Bandung bahkan telah berupaya mengajak masyarakat luas agar menyadari adanya hutan kota satu-satunya yang ada di Kota Bandung, Babakan Siliwangi, dan memanfaatkannya sebagai ruang publik yang inspiratif. Hutan kota ini telah dideklarasikan menjadi Hutan Kota Dunia pada tahun 2011 bersamaan dengan event Tunza, sebuah konferensi internasional untuk anak-anak dan pemuda yang diadakan oleh United Nations Environmental Program (UNEP) dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), bekerja sama dengan Bandung Creative City Forum (BCCF). Saat itu, Hutan Baksil tengah menjadi subyek pembicaraan yang hangat berkenaan dengan rencana pembangunannya menjadi sebuah apartemen bertingkat dan ditentangnya rencana tersebut oleh masyarakat luas. Pada saat yang bersamaan, sebuah komunitas mengadakan sayembara pemanfaatan Hutan Baksil, yang desain pemenangnya benar-benar diwujudkan di hutan kota tersebut. Hasilnya adalah ForestWalk, sebuah canopy walk, atau “jembatan” di mana kita bisa berjalan sejajar atau mendekati pucuk pepohonan besar. ForestWalk dilihat sebagai salah satu upaya pernyataan warga terhadap keinginannya untuk tetap memiliki hutan kota, juga sebagai upaya mendekatkan warga kepada hutan kotanya, di samping mengekspresikan pula kesadaran warga terhadap pentingnya memiliki paru-paru kota yang tetap dapat menjadi sumber oksigen dan peredam polusi suara. Sejak didirikannya pada tahun 2011 lalu, ForestWalk hingga kini masih dapat dinikmati warga Bandung, namun, sayangnya belum dapat terawat secara optimal, sehingga banyak bagiannya yang rusak dan kotor.

Regia Infographic

Regia Infographic

Usaha untuk mendekatkan warga kepada hutan kota dilakukan lagi pada tahun 2012, ketika, dalam rangkaian acara Helarfest, diadakan Lightchestra, sebuah konser musik dan cahaya yang digelar selama tiga malam berturut-turut dalam Hutan Baksil, tanpa dipungut biaya dan dilaksanakan dengan penuh pertimbangan terhadap habitat alami dan komunitas dan warga yang beraktivitas di hutan kota tersebut. Di tahun berikutnya, 2013, bertepatan dengan Hari Bumi, Hutan Baksil kembali diaktifkan dengan event bernama Regia. Dalam Regia, dilaksanakan berbagai acara seperti yoga pagi di ForestWalk, workshop anak-anak di dalam Hutan Baksil, konser blues di Sanggar Olah Seni yang berlokasi di sisi Hutan Baksil, Forest Dining untuk memberikan pengalaman makan malam yang berbeda, pameran dan workshop fotografi, dan lain-lain, yang semuanya masih tetap bertujuan untuk mendekatkan warga pada hutan kota, dan secara kreatif memberikan informasi seputar hutan kota dan berbagai faktanya, seperti jumlah oksigen yang dihasilkan, jenis pohon yang mendominasi Hutan Baksil, fungsi Hutan Baksil sebagai tempat singgah berbagai spesies burung yang bermigrasi, dan sebagainya.

Berbagai aktivitas kreatif seperti ini dapat menjadi salah satu cara untuk kembali menyadarkan warga akan pentingnya keberadaan pohon dalam jumlah yang memadai di wilayah tempat tinggal kita, sekaligus juga mengajak warga untuk dapat merawat dan menambah jumlah pohon yang kita butuhkan tersebut. Adalah baik untuk mengadakan acara menanam pohon dalam merayakan Hari Pohon ini, terutama di area yang benar-benar membutuhkan, namun akan lebih seru lagi bila dilakukan juga berbagai inisiatif dalam bentuk yang baru dan menyenangkan untuk mengaktivasi ruang-ruang publik sekaligus merawat pepohonan yang sudah ada di tempat-tempat tersebut. Mari, tingkatkan apresiasi terhadap pepohonan, bukan hanya dengan menanam dan merawat, tapi juga dengan mengajak keterlibatan warga seluas mungkin untuk menjaga keberlangsungannya dengan cara-cara yang menyenangkan.

=====

Tita Larasati, Dosen Program Studi Desain Produk FSRD ITB & SekJen BCCF