Memberi Makan Bangsa: Mengurangi Buangan Makanan

Memberi Makan Bangsa : Mengurangi Buangan Makanan

Sheila Andita Putri

 

Bencana yang Menanti: Krisis Pangan Dunia

Berdasarkan data yang dihimpun oleh Jonathan Foley, Director of the Institute on the Environment (IonE) at the University of the Minnesota dalam tulisannya yang berjudul Feed the World untuk National Geographic, jumlah populasi manusia yang tersebar di muka bumi berada di kisaran angka 9 miliar orang. Pada 2050, kenaikan populasi diperkirakan meningkat hingga 35%, dan untuk memenuhi kebutuhan makanan populasi manusia tersebut memerlukan produksi pangan hingga dua kali lipat dari yang ada sekarang. Hal ini juga dapat disebabkan oleh meningkatnya taraf hidup masyarakat sehingga permintaan akan jenis makanan tertentu, terutama yang berasal dari hewan, juga meningkat.

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Gambar 1.1. Pemetaan pemanfaatan bumi hingga 2015 (Nationalgeographic.com)

Dengan bertambahnya populasi, kebutuhan akan ruang/ area untuk kehidupan terus meningkat. Luasan bumi sendiri terancam terus berkurang karena kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global yang melelehkan es dari kutub. Ukuran planet bumi sendiri tentunya takkan berubah menyesuaikan pertumbuhan manusia, sehingga kemudian muncul pertanyaan: bagaimana memberi makan seluruh manusia di bumi?

Di Indonesia sendiri, bencana kelaparan diam-diam mengancam akibat kondisi ekologi yang mulai rusak akibat aktifitas eksploitasi material alam yang berlebihan oleh industri baik legal maupun tidak. Rusaknya kondisi alam diperparah dengan perubahan iklim global yang berpotensi memunculkan bencana kekeringan yang tentunya berdampak pada produksi bahan makanan.

Berdasarkan keterangan dari  Robert Aritonang, antropolog dari Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dalam berita yang dimuat di KOMPAS 3 maret 2015, munculnya fenomena kematian beruntun yang dialami kelompok Orang Rimba di sekitar Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, yang diakibatkan bencana kelaparan. Tanpa penanganan darurat dan cepat, angka kematian itu akan terus bertamba. Bencana serupa pernah terjadi tahun 1999 dengan menewaskan 13 warga Orang Rimba. Wilayah itu mengalami paceklik, dan diperparah pembukaan hutan menjadi kebun dan hutan tanaman industri. Pada masa itu, sekitar 30.000 hektar hutan yang menjadi sumber pangan Orang Rimba lenyap.

Krisis pangan juga seiring dengan pembukaan hutan tanaman industri di sekitar area jelajah Orang Rimba. Dari 130.000 hektar luas hutan Orang Rimba dalam ekosistem Bukit Duabelas di Kabupaten Sarolangun, Tebo, Merangin, dan Batanghari, kini tersisa hanya 60.400 hektar. Sumber obat alami dalam hutan yang biasa dimanfaatkan Orang Rimba kini semakin berkurang.

Food Waste : Kebiasaan Kita Membuang Makanan

Ironisnya, meskipun kebutuhan akan makanan terus meningkat, Lebih dari sepertiga dari semua makanan yang diproduksi di planet kita tidak pernah mencapai meja.. Penyebabnya dapat berupa kerusakan produk dalam proses pengiriman ataupun dibuang begitu saja oleh para konsumen di negara negara kaya , yang cenderung membeli terlalu banyak dan menciptakan sisa makanan yang berlebihan (Smith, Roff. How Reducing Food Waste Could Ease Climate Change. Nationalgeographic . Published January 22, 2015). Apabila buangan makanan ini dapat ditekan dan produksi makanan dapat lebih dioptimalkan, hal ini dapat membantu penanggulangan krisis makanan di belahan dunia yang lain.

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Gambar 1.2. Buangan makanan di restoran (image.google.com)

Beberapa sumber yang menyebabkan tingginya angka buangan makanan antara lain:

  • Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual. Beberapa perusahaan yang memiliki regulasi yang ketat mengharuskan produk makanan yang diproduksi pada hari tersebut tidak boleh dijual kembali kepada konsumen keesokan harinya. Secara umum produk masih layak dikonsumsi namun harus dibuang karena regulasi tersebut.
  • Hasil pertanian yang tak memenuhi seleksi standar yang ditetapkan oleh pasar. Produk reject ini sesungguhnya dapat dikonsumsi, hanya saja tidak memenuhi ketentuan ukuran, warna, dan kualitas tertentu sehinggan harus dibuang.
  • Pembelian yang berlebihan. Mudahnya produk makanan diperoleh dan gaya hidup yang menuntut kepraktisan mengembangkan kebiasaan menyetok makanan dalam jumlah banyak. Namun terkadang stok yang banyak ini tidak sempat dikonsumsi hingga melewati batas kadaluarsa dan pada akhirnya harus dibuang. Kebiasaan makan di luar dan pengaruh marketing terhadap makanan yang dijual juga mendorong orang untuk memesan lebih banyak daripada yang bisa mereka makan.

Proses menyediakan makanan bagi kita ini sendiri adalah proses yang panjang dan kompleks. Mulai dari proses produksi, pengiriman, hingga akhirnya sampai di piring kita telah meninggalkan jejak ekologi yang tidak sedikit. Selain mengancam keberlangsungan alam, Food Waste yang tidak ditangani dengan baik menciptakan ketidakseimbangan kualitas hidup di bumi. Bencana kelaparan di belahan bumi yang satu, sementara penyianyiaan bahan makanan di belahan bumi lain.

Permasalahan Food Waste ini sesungguhnya merupakan isu global yang tidak bisa kita abaikan. Langkah kecil yang dimulai dari kita sendiri dapat mendorong terjadinya perubahan besar bagi bumi.

Bagaimana Desain dapat membantu mengatasi Food Waste

Desain dapat membantu dalam meningkatkan kesadaran tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan sumber makanan yang ada. Salah satu solusi desain yang bias diajukan adalah, sistem informasi pada label produk makanan. Selain informasi mengenai fakta nutrisi dan tanggal kadaluarsa, seyogyanya label juga memuat cara penyimpanan yang baik dan benar, lamanya produk harus di-display di toko (terutama produk bahan mentah), dan informasi lain terkait pemanfaatan maksimal dari produk tersebut, misalnya link ke situs yang mengajarkan cara mendaurulang makanan produk tersebut menjadi produk lain seperti pakan ternak atau pupuk.

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Gambar 1.3. Konsumen mengecek label kemasan ( chip somodevilla, gettyimage. nationalgeographic.com)

Selain sistem labelling, desain kemasan hendaknya dapat memuat info untuk meningkatkan kesadaran tentang food waste. Kesadaran ini terkait bijak berbelanja dan kesadaran untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Bentuk program CSR terkait isu ini dapat dilakukan dengan campaign dan ad. Info yang diberikan berupa upaya sederhana yang dapat dilakukan untuk mengatasi food waste.

Upaya sederhana itu antara lain:

  • Berbelanja dan mengkonsumsi makanan sesuai kebutuhan
  • mendonasikan makanan yang tidak terkonsumsi namun masih dalam keadaan baik
  • mendaur ulang sisa makanan (menjadi pupuk kompos ataupun pakan ternak)

Solusi lain dalam skala yang lebih besar, dapat dibentuk sebuah tim khusus yang bertugas mengumpulkan Sisa produk makanan di restoran ataupun toko yang tidak laku terjual namun dalam keadaan yang masih layak konsumsi untuk dibagikan kepada orang- orang yang membutuhkan. Makanan tersebut dibagikan di hari yang sama, dalam jumlah yang dibatasi. Titik pembagian dipusatkan pada lokasi yang telah disurvei, dan produk tersebut diberi penanda tertentu untuk mencegah makanan tersebut dijual kembali. Setiap pengusaha makanan dapat membuat suatu perjanjian resmi dengan tim khusus tersebut terkait distribusi produk dan kualitas keamanan sisa produk makanan tersebut.

One Response to Memberi Makan Bangsa: Mengurangi Buangan Makanan

  1. Menyesal karena sering membuang makanan sisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: