Apa Kata Prof. John Howkins Sekarang?

Name tag sebagai pembicara di #ASEANCC2017

ASEAN menyelenggarakan Creative Cities Forum & Exhibition di Manila, Filipina, pada tanggal 26-27 April ini. Bandung diundang sebagai pembicara di hari kedua sebagai salah satu kota di Asia Tenggara yang telah menjadi anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/ UCCN), yaitu sebagai Kota Desain, sejak Desember 2015. Selain Bandung, kota yang telah masuk jejaring UCCN adalah Pekalongan (Kota Kriya & Seni Rakyat), Phuket (Kota Gastronomi), dan Singapura (Kota Desain). Suatu kehormatan untuk dapat mewakili Bandung di forum ini, terutama waktu tahu bahwa ada teman dari jejaring BCCF, SouthEast Asian Creative Cities Network (SEACCN), yang juga akan hadir. Lebih semangat lagi ketika mengetahui bahwa pembicara kunci untuk forum ini adalah Prof. John Howkins, yang pertama kali memunculkan istilah “Ekonomi Kreatif” sekitar 20 tahun lalu.

Prof. John Howkins membawakan materinya di #ASEANCC2017

Catatan berikut ini adalah beberapa hal dari materi yang disampaikan oleh Prof. John Howkins pada keynote speech-nya yang berjudul What, When and How? The Creative Economy in The Philippines.

  1. What? Dalam tahun-tahun belakangan ini, lebih dari 150 negara dan ribuan kota membuat komitmen tingkat tinggi terhadap ekonomi kreatif. Terjadi peningkatan luaran secara global dari 2,200 Milyar USD di tahun 2000 menjadi 4,600 Milyar USD di tahun 2016.
  2. What? Kreativitas memanfaatkan berbagai gagasan untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru. Sifatnya individual, pribadi, subyektif, dan ekspresif. Ekonomi Kreatif adalah menghasilkan uang dari gagasan-gagasan (The Creative Economy is making money out of ideas).
  3. What? Di UK (DCMS), Industri Kreatif bernilai sebesar 89 Milyar GBP, atau berkontribusi hingga 5,2%. Ekonomi Kreatif (seluruh bisnis kreatif) bernilai 133 Milyar GBP, atau 8,1%. Di Amerika (BEA), industri kreatif terhitung sebesar 704 Milyar USD, atau 4,2% dari GDP.
  4. When? Sejak kapan fenomena menguangkan gagasan ini terjadi? Bisnis kreatif memiliki sejarah panjang. William Shakespeare, seorang pujangga Inggris, adalah seorang jutawan. Mengutip Daniel Defoe, seorang penulis dan pebisnis, “Menulis telah menjadi sebuah cabang dalam dunia komersil di Inggris yang sangat diperhitungkan” (1725).
  5. When? Apa istilah yang tepat untuk fenomena ini? Berbagai istilah telah diperkenalkan, seperti Information Economy di tahun 1962 oleh Fritz Machlup, kemudian Knowledge Economy oleh Peter Drucker (1969), Post-Industrial Society oleh Daniel Bell (1973), dan Digital Economy oleh Don Tapscott (1995). Selain itu, muncul pula istilah-istilah lain seperti entertainment economy, attention economy, wired economy, network economy, dan cultural economy. Namun sejak tahun 1990an hingga kini, lebih dikenal dengan istilah Creative Economy.

    Grafik pertumbuhan sub-sektor industri kreatif di UK tahun 2008-2014

  6. Apa yang terjadi di tahun 1990an? Kreativitas menjadi gerakan massal. Orang-orang kreatif jadi bersikap seperti pebisnis. Para pebisnis menjadi lebih kreatif. Konsumen menginginkan kebaruan, gaya, dan hiburan. Pemerintah Inggris mempromosikan kreativitas sebagai sumber kesejahteraan, mengoleksi data industri inti, meluncurkan paket kebijakan menyeluruh.
  7. Apa yang terjadi di tahun 1990an? Teknologi digital mengubah konten, jejaring, format, produksi, promosi, harga, dan distribusi.
  8. Kita sekarang berada di mana? Prof. Howkins mengutarakan tiga konsep terkait Ekonomi Kreatif yang belum berubah banyak sejak dahulu: (1) Setiap orang terlahir kreatif, (2) Kreativitas memerlukan kebebasan, (3) Kebebasan memerlukan pasar.
  9. (1) Setiap orang terlahir kreatif. Setiap orang terlahir dengan memiliki imajinasi, dan gairah untuk memanfaatkannya untuk kesenangan pribadi dan tujuan umum. “Menjadi kreatif adalah berlaku sewajarnya.”
  10. (2) Kreativitas memerlukan kebebasan. Kita menginginkan kebebasan dalam mengatur hubungan kita dengan gagasan-gagasan.
  11. (2) Kreativitas memerlukan kebebasan. Untuk berkata ya, berkata tidak, berekspresi, mengeksplorasi, mengungkap, mempertanyakan, mengikuti, menyadur, mengendalikan, menolak, memuntir, mempopulerkan, memproduksi, mengemas, menampilkan, membingkai, meminjam, menggandakan, mencuri, mengembangkan, meneliti, menguji, menguji lagi, mengetahui, berbagi, bertukar, membuat purwarupa, mempromosikan, menjual, membeli, … “Cari, Tiru, Gabung dan Pelajari.”

    Bagian 1 graphic note Howkins

  12. (3) Kebebasan memerlukan pasar. Dalam Ekonomi Kreatif, terdapat aset, industri, pasar, dan transaksi. Sektor-sektor inti adalah: seni, desain, entertainment, media, dan inovasi – selain juga makanan, penjaga pesisir (US) dan pertanian (Cina).
  13. Bekerja dalam Ekologi Kreatif. Kreativitas adalah hal yang sangat kompetitif: lebih kompetitif dari pekerjaan yang sifatnya berulang, selalu berupaya mencari kebaruan, “sebuah ekonomi kegagalan”? Terdapat risiko pribadi: kesepian dan ketakutan, karena proses kreatif bagi penciptanya biasanya dilakukan secara pribadi. Terdapat risiko bisnis: aset takbenda (ide, kekayaan intelektual), ketidak-pastian pasokan, permintaan dan nilai; dan pengusaha pemula (start-up) memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi.
  14. Bekerja dalam Ekologi Kreatif. Kita semua menghadapi dua ‘hakim’: yang satu akan selalu mempertanyakan: apakah ini hal terbaik yang bisa kamu lakukan? Sementara yang satu lagi akan bertanya, mungkin karyamu ini cukup baik, tapi apakah ini yang dikehendaki pasar? Pertimbangannya adalah pada “suara pribadi dan kekuatan kelompok.”

    Bagian 2 graphic note Howkins

  15. Universality: Kepemimpinan Pemerintah. Pemerintah UK (1998) menyatakan bahwa kreativitas merupakan hal yang penting untuk: kepuasan pribadi, kesejahteraan sosial, kekayaan ekonomi. Adanya pernyataan ini berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri para pelaku kreatif, politisi, orang tua dan generasi muda – yang makin menjadi yakin akan pilihan masing-masing pada bidang kreatifnya. Aksi: deklarasi tingkat tinggi bahwa ekonomi kreatif adalah sebuah sumber daya nasional untuk semua orang.
  16. Universality: Pendidikan. Mereka yang berpendidikan tinggi menjadi semakin memiliki keinginan bereksplorasi dan lebih ekspresif, dan ingin bekerja di bidang bisnis kreatif (pasokan) dan ingin membeli produk kreatif (permintaan). Terdapat generasi baru: angkatan kerja dengan kapasitas pengetahuan, 70% lapangan kerja baru kini mensyaratkan “kreativitas” (McKinsey). Aksi: memperpanjang durasi edukasi, menambah kampus-kampus spesialis. Mahasiswa kini harus makin dihadapkan pada berbagai permasalahan nyata.
  17. Universality: Pendidikan. “Para pembelajar muda” harus “didorong untuk berkreasi, untuk mau mengambil risiko” (Peraturan Edukasi Prasekolah). Aksi: membuat hal ini menjadi dasar pendidikan di pra-TK, setelah TK, dan sepanjang hidup (belajar secara terus-menerus).

    Bagian 3 graphic note Howkins

  18. Kebebasan: Belajar. Edukasi tidak sama dengan belajar. Edukasi merupakan hal yang diarahkan oleh negara, bersifat wajib, dan memiliki batasan umur. Belajar merupakan hal yang diarahkan oleh diri sendiri, bersifat sukarela, dan terus berlanjut. Belajar lebih penting dibandingkan edukasi. Mengacu dari Soedjatmoko mengenai Kapasitas Pembelajaran: infrastruktur SDM perlu diolah untuk mewujudkan masyarakat pembelajar. Aksi: membuka lebih banyak kesempatan belajar di luar sistem edukasi (UK Skillset).
  19. Pasar: Managing Talent. Keberhasilan memerlukan keterampilan khusus: kepemipinan (mengintegrasikan kreativitas dan bisnis), memaksimalkan gagasan baik, kontrak (cara menuliskan, cara menutup perjanjian), finansial (menyertakan aset takbenda dalam neraca), pemasaran (memanfaatkan media sosial), dan penjualan (hubungan konsumen). Aksi: kampus manajemen dan bisnis.
  20. Pasar: Copyright. Copyright adalah mata uang ekonomi kreatif. IP memungkinkan kita untuk memiliki dan mengendalikan aset kita. Tapi kita memerlukan keseimbangan antara kepemilikan dan akses. Aksi: mendirikan sebuah pusat konsultasi IP gratis dan sebuah simpul untuk Digital Copyright Exchange.

    Bagian 4 graphic note Howkins

  21. Pasar: Retail. Di seluruh hal ekonomi, penjualan sama pentingnya dengan pembuatan. Drucker: sebuah perusahaan memiliki hanya dua fungsi, inovasi dan penjualan. Penjualan dalam hal ini bertujuan: menghasilkan pendapatan, memungkinkan pengembangan bisnis, dan menyebar gagasan-gagasan baru. Aksi: ikuti pendapat Drucker, dan kebijakan yang mendukung distribusi dan penjualan.
  22. Empat kriteria untuk memulai aksi: Perubahan dan Keberagaman, dan Pembelajaran dan Adaptasi.
  23. “Masa depan tidak menunggu untuk ditemukan. Masa depan itu untuk diciptakan, terlebih dahulu dalam pemikiran, lalu dalam kegiatan.” Walt Disney.

Prof. Howkins dengan graphic note dari materi keynote speech

Beberapa hal yang tertangkap dalam graphic notes antara lain:

  • mengenai pentingnya bagi pemerintah untuk memiliki kepemimpinan dan cara berpikir yang berbeda (mau menanyakan, “apa yang bisa kami bantu? apa masalah yang kalian hadapi?” pada para pengusaha pemula), dan bahwa pemerintah seharusnya mendengarkan juga saran dari para pelaku dalam bidang desain dan media;
  • karya ekonomi kreatif merupakan hal yang subyektif, sehingga sulit untuk menjadikannya sebuah kebijakan yang memerlukan perhitungan-perhitungan kuantitatif;
  • mengenai cara meyakinkan pemerintah lokal: melalui demo/ pilot project yang tidak terlalu mewah, tapi dapat menjadi sebuah simpul yang dihargai baik oleh sektor bisnis maupun oleh komunitas;
  • bahwa kita makin hidup dalam dunia jejaring takbenda, di mana konsumen lebih memilih untuk bukan lagi membeli, melainkan memiliki benda, dan lebih menginginkan untuk mendapatkan akses ke sebuah pengalaman;
  • setiap negara perlu memiliki sekolah seni khusus (film, desain, dsb.).

Dan ada banyak hal lagi yang membuat bahasan mengenai ekonomi kreatif ini menjadi tak kunjung habis. Bagi yang masih penasaran, terutama yang berada di Bandung November 2017 ini, bisa berinteraksi langsung dengan Prof. John Howkins yang telah bersedia hadir di Bandung Design Biennale! Nantikan update selanjutnya ^_^

Prof. Howkins menutup presentasinya dengan kutipan dari Walt Disney, tokoh kreatif dunia

Karangan Bunga Imitasi: Terlihat Indah Namun Berdampak Buruk pada Bumi

Rahmat Zulfikar (27116049)

Sekilas karangan bunga terlihat sangat menarik, namun dibalik keindahannya terdapat masalah yang sangat meresahkan. Masalah tersebut timbul dari penggunaan bahan yang tidak lagi 100% berbahan organik. Pada mulanya para pedagang karangan bunga menggunakan bunga asli sebagai bahan utama dalam merangkai karangan bunga pesanannya. Namun para pedagang kini sudah menggantinya dengan bunga imitasi yang dibuat dari bahan styrofoam. Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup kota Yogyakarta tahun 2008 menyebutkan bahwa, komposisi limbah styrofoam berada pada kategori lain-lain sebesar 25, 83% dari 350 ton jumlah sampah harian. Berarti ada sekitar 90 ton sampah styrofoam dalam sehari. Jumlah tersebut belum mencakup keseluruhan sampah styrofoam yang ada di Indonesia. Angka tersebut sudah pasti sangat mencengangkan bila harus dihubungkan pada niat kebaikan empati terhadap saudara atau teman. Pernahkah kita berpikir bahwa karangan bunga yang kita berikan kepada sanak saudara atau teman itu, sangat merepotkan mereka setelah acara selesai. Mungkin saudara dan teman kita justru tidak bahagia karena harus direpotkan dengan hal-hal yang membuatnya ribet. Mereka harus membereskan tumpukan karangan bunga yang umurnya sangat sebentar. Karangan bunga hanya dipajang pada saat acara berlangsung. Mungkin hanya beberapa orang dari sekian banyak tamu acara yang benar-benar memperhatikan karangan bunga tersebut. Umurnya yang sebentar dan pengaruhnya terhadap acara tidak sebanding dengan dampak kerusakan lingkungan yang harus ditanggung bumi setelah acara tersebut selesai. Bila dalam satu hari ada banyak acara serupa yang para tamunya juga memberikan karangan bunga serupa sudah bisa dibayangkan betapa banyak sampah styrofoam yang akan ditanggung bumi. Membereskan karangan bunga yang terbuat dari styrofoam itu tidak mudah. Tidak mungkin meraka akan menumpuk lalu membakarnya begitu saja. Karena pasti akan berat hati bila asap yang ditimbulkan mengganggu tetangga mereka. Sampah styrofoam tidak dapat diuraikan oleh tanah, sifatnya yang abadi tidak cukup hanya dengan dikubur di dalam tanah.

Pada tanggal 1 November 2016, bandung melarang adanya penggunaan styrofoam. Pertanyaanya apakah peraturan ini hanya berlaku untuk kemasan makanan atau berlaku pada semua sektor kehidupan dikota bandung. Apapun kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, sudah semestinya masyarakat mulai mengurangi jumlah penggunaan styrofoam. Harusnya pemerintah juga melaranga penggunaan styrofoam pada sektor lain. Mulai sejak dini penggunaan styrofoam pada karangan bunga harus mulai dibatasi. Masyarakat harus bisa aware terhadap kebutuhannya sendiri. Alangkah baiknya perbuatan baik selalu dimulai dengan yang baik. Menyampaikan rasa empati bukanlah hal yang buruk. Namun tanpa disadari masyarakat kurang memeperhatikan secara detail kebutuhan bersosialnya. Sehingga kebaikan sosial yang dilakukan berdampak pada pencemaran lingkungan yang ujungnya akan meresahkan masyarakat itu sendiri. Sudah semestinya masyrakat mencari alternatif lain dalam menyampaikan empatinya terhadap lingkaran sosialnya. Masyrakat harus sudah mulai memilah sendiri material yang akan digunakanya dalam beraktifitas. Bila masyarakat tidak memulainya sudah bisa dipastikan bumi akan menanggung banyak sampah styrofoam yang tidak bisa diurai. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat harus benar-benar berhenti menggunakan styrofoam bila tidak ingin menyaksikan bumi tenggelam dengan tumpukan styrofoam. 

Fun with your closet: Reuse, Reduce, Repair and Reconditioning, Recycling of cloth

 

Sari Yuningsih (27116044)

Pakaian tidak dapat terlepas dari kebutuhan setiap individu, namun pernahkah mengalami kebingungan dimana akan menyimpan pakaian yang baru saja dibeli. Apakah anda pernah berhitung berapa jumlah pakaian yang anda miliki? jika ya, berapa dari pakaian tersebut yang sering anda pakai? Menurut anda apakah perlu menambah lemari baru di dalam rumah/ kamar? atau mengurungkan membeli pakaian yang sangat diidamkan, dengan model terbaru dan telah ditunggu lama? Pilihannya ada di tangan anda. Namun sebelum anda putuskan, alangkah lebih baik jika anda menyimak beberapa hal berikut agar lebih bijak dalam memutuskannya.

Konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recyling) sudah sangat sering kita dengar, dan identik penerapannya pada benda pakai seperti botol minuman, kantung plastik, limbah kayu, botol kaca dan lainya. Penerapan konsep tersebut sebenarnya cakupannya luas, tidak terbatas pada benda-benda seperti yang telah disebutkan tadi. Fletcher dalam bukunya Sustainable fashion & textiles : Design Journey dapat mengispirasi anda dengan konsep 3R yang dibahas, bahwa “to reuse – not bought new; to reduce–by choosing products made with environmentally friendly production practices; to recycle –making garments from a previously existing item”. Lebih jelasnya mari kita bahas bersama.

  1. Reuse 

Reuse merupakan pemakaian kembali pakaian dari koleksi yang anda miliki dan layak pakai. Dengan menggunakan pakaian dari koleksi yang anda miliki, tentunya akan sangat mengurangi kebutuhan pakaian baru sehingga volume lemari anda akan tetap. Berkaitan dengan reuse ini, akan sangat membantu jika anda memiliki koleksi pakaian yang paling sering anda gunakan seperti pada pakaian kerja atau pakaian sehari-hari lainnya dengan menerapkan mix and match dari koleksi yang ada.

  1. Reduce 

Sistem reduce pada pakaian yaitu dengan mengurangi jumlah pakaian yang anda miliki. Ada baiknya anda melakukan pengecekan secara berkala pada pakaian-pakaian yang sudah tidak ingin anda gunakan lagi. Pakaian tersebut dapat anda berikan pada saudara, adik, atau orang lain yang membutuhkan.  Selain cara tadi dapat juga menerapkan sebuah aturan jika anda menginginkan pakaian baru anda harus mengeluarkan beberapa pakaian lama yang anda miliki, sehingga jumlah pakaian masih dapat terkontrol.

  1. Recycling 

Proses pembaharuan dalam pakaian merupakan proses yang paling sulit, karena membutuhkan biaya yang besar baik dari segi material serta energy. Proses ini tidak dapat dilakukan sendiri memerlukan teknologi dan keterampilan lebih untuk mengubah pakaian menjadi bahan baku kembali. Pada umumnya perusahaan pun lebih memilih untuk membuat bahan baku baru daripada membuatnya dari hasil proses pembaharuan mengingat besarnya materi yang harus dikeluarkan.

  1. Repair dan Reconditioning

Perbaikan dan rekondisi pada pakaian dapat memberikan nilai tambah pada pakaian yang anda miliki. Contohnya anda dapat mempraktekan metode-metode DIY yang sekarang dapat dengan mudah diakses seperti kemeja lama anda yang semula polos tanpa hiasan, anda berikan renda atau contoh lain adalah pakaian yang hangus akibat penyetrikaan jika biasanya anda buang, kali ini cobalah berkreasi dengan memberikan kain lain sebagai aplikasi.

Pemaparan di atas merupakan salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk mengelola pakaian. Seperti yang telah dibahas penguraian pakaian menjadi bahan baku memerlukan materi yang banyak, belum lagi terhitung dampaknya terhadap lingkungan dan siklus ekologi. Apapun yang menjadi pilihan anda konsep 3R di atas mengajak kita untuk bijak dalam memilih serta meluangkan ide, imajinasi serta kreatifitas dalam berbusana masa kini. Apakah anda tertarik untuk mencobanya?

SERAGAM OLAHRAGA RECYCLED POLYESTER UNTUK DAN KAITANNYA DALAM MENGURANGI CARBON FOOTPRINT

Juan Vito (27116035)

 

 

Carbon Footprint merupakan jumlah total karbon yang diproduksi untuk mendukung kegiatan manusia baik secara langsung ataupun tidak langsung. Setiap kegiatan manusia memproduksi karbon yang banyak dapat meningkatkan suhu di bumi, yang dapat mengakibatkan perubahan cuaca. Nilai Carbon Footprint tiap orang berbeda-beda, berdasarkan gaya hidup sehari-harinya. Terdapat aplikasi online untuk menghitung Carbon Footprint, sehingga kita dapat mengetahui kadar karbon yang dihasilkan dihitung dari kegiatan rutin yang kita lakukan. Kalkulasi Carbon Footprint diperlukan sebagai patokan, apakah sudah melebihi batas normal atau tidak.  National Geographic pernah memuat tentang 14 cara sederhana untuk mengurangi carbon footprint, yaitu dengan merubah gaya hidup sehari-hari, mulai dari mengefisiensi pemakaian lampu di rumah, mengurangi perjalanan dengan menggunakan pesawat bila memungkinkan, mengganti peralatan elektronik lama seperti kulkas dan setrika dengan model baru yang lebih ‘pintar’, melakukan daur ulang, menghemat bahan bakar dengan menggunakan bahan bakar elektrik ataupun memakai kendaraan berteknologi hibrida, mengurangi berkendara apalagi masih bisa berjalan kaki atau bersepeda, mengurangi makanan daging terutama daging impor karena mendatangkan daging impor memproduksi karbon yang besar, dan mengurangi minuman berbotol plastik dan minuman berkemasan lainnya.

pastedGraphic.png

Mengurangi makan daging sapi dapat mengurangi Carbon Footprint

Sampah plastik merupakan salah satu yang paling merusak lingkungan karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk terurai. Kesadaran manusia akan hal tersebut membuat banyak inovasi dilakukan terkait sampah plastik, mulai dari membuat kemasan dari kertas, memakai tas kain sebagai pengganti plastik ketika berbelanja, menciptakan plastik yang lebih mudah terurai, dll. Untuk menciptakan 1 kg polyethylene, bahan dasar plastik, menggunakan energi dengan membakar setara 2 kg minyak. Sementara membakar 1 kg minyak menciptakan sebanyak 3 kg karbon dioksida. Dengan kata lain, dalam pembuatan 1 kg plastik, tercipta sebanyak 6 kg karbon dioksida.

Salah satu inovasi yang dilakukan oleh perusahaan peralatan olahraga Nike sejak 2010 hingga saat ini adalah pembuatan seragam olahraga dengan menggunakan recycled polyester. Dengan etos Nike Better World, perusahaan ini memproduksi seragam olahraga ramah lingkungan dengan menggunakan limbah botol plastik yang dipotong-potong dan dilelehkan, yang kemudian dijadikan bahan dasar kain untuk membuat seragam. Sekitar 96% dari bahan baku untuk membuat pakaian olahraga menggunakan limbah botol plastik. Dibutuhkan setara 8 botol plastik untuk membuat satu buah T-shirt, dan 5 botol plastik untuk membuat celana olahraga. Dalam pengerjaannya, menggunakan recycled polyester menghemat 30% penggunaaan energi dibandingkan dengan membuat polyester baru. Pembuatan seragam dengan teknik recycled polyester dalam setahun mengkonsumsi setidaknya 13 juta botol plastik, yang jika dihitung seluas 28 lapangan sepakbola, cukup signifikan mengurangi jumlah sampah plastik dari lingkungan.

pastedGraphic_1.png

Seragam tim nasional Brazil dengan menggunakan recycled polyester

pastedGraphic_2.png

Seragam cabang olahraga basket, renang dan sepakbola dengan recycled polyester

Pada Piala Dunia 2010, Euro 2012, semua tim nasional yang menggunakan produk Nike memakai seragam dengan recycled polyester. Bahan yang sama juga dikembangkan Nike untuk cabang olahraga lain. Pada Olimpiade London 2012 dan Olimpiade Rio 2016, seragam basket dan pakaian renang dari Negara yang menggunakan produk Nike menggunakan bahan recycled polyester. Teknologi daur ulang plastik juga digunakan produk perlengkapan olahraga Adidas dan produsen alat olahraga Asia dalam membuat sepatu olahraga dan sneakers. Hal ini memperlihatkan kesadaran manusia untuk menciptakan produk yang tidak hanya untuk mencari keuntungan namun memperhatikan kondisi lingkungan.

 

BIOMATERIAL TEKSTIL

Tetes Annisa Lestari (27116028)

Industri tekstil adalah salah satu penyumbang karbon terbesar di dunia. Produksi bahan pakaian membutuhkan banyak energi. Dalam global industri tekstil memproduksi sekitar 60 juta kilogram bahan pakaian dan bertanggung jawab atas besarnya emisi karbon yang dihasilkan dari beberapa proses seperti proses pewarnaan, bleaching, dan finishing. Bahan pakaian ini kebanyakan diproduksi dari bahan sintetik seperti nilon, polyester dan rayon. Bahan tersebut tidak hanya membutuhkan energi yang cukup besar saat diproduksi, namun juga bahan kimia yang digunakan pada saat proses produksi selalu berakhir sebagai limbah beracun yang mencemari udara, tanah dan air. Yang lebih mengejutkan adalah bahan pakaian dari serat alam seperti katun yang diproses dengan cara konvensional itu menggunakan pestisida, pupuk kimia dan penggunaan air yang banyak. Masalah lain adalah limbah kain yang dihasilkan dari sebelum dan sesudah diproduksi menjadi pakaian siap pakai. Limbah kain merupakan salah satu jenis limbah yang sulit diolah, karena merupakan limbah anorganik yang tidak mudah terurai sehingga tidak dapat dikompos. Industri tekstil adalah salah satu industri yang sangat besar, begitu pula polusi dan limbah yang dihasilkan setiap harinya.

Dengan latar belakang industri tekstil yang kurang ramah terhadap lingkungan karena penggunaan bahan kimia pada proses manufaktur dan proses-proses setelahnya sehingga menghasilkan karbon yang tidak terkontrol, maka kebutuhan pencarian beberapa biomaterial tekstil sebagai material alternatif dan bersifat biodegradable dalam dunia tekstil yang diharapkan ideal untuk segala aspek khususnya ramah terhadap lingkungan.

National Geography memuat artikel tentang material tekstil biodegradable. Young-A Lee seorang profesor dari Universitas Iowa, menciptakan rompi, sepatu dan tas dari limbah produksi teh fermentasi: kombucha. Material ini diciptakan dari campuran simbiotik dari ragi dan bakteri. Proses fermentasi dari kedua bahan itu akhirnya menumbuhkan selulosa bakteri dan dapat diproses menjadi pakaian siap pakai atau aksesori fashion. Ketika material ini kering sempurna, tekstur dan kelenturannya mirip dengan karakter kulit binatang. Tetapi kelebihan dari material ini adalah seratnya mudah terurai dengan cepat, tidak seperti katun organik atau serat alam lainnya. Setelah materialnya sudah tidak layak dipakai sebagai pakaian atau aksesori fashion, maka material tersebut dapat digunakan sebagai kompos.

pastedGraphic.png

(sumber: http://www.nationalgeographic.com/people-and-culture/food/the-plate/2016/05/turning-food-waste-into-a-fashion-statement/ diakses pada tanggal 12 Maret 2017)

Berikut beberapa contoh biomaterial lain yang telah dikembangkan untuk menjadi material alternatif yang lebih ramah lingkungan:

Istilah Muskin diambil dari ‘mushroom-skin’, 100% biodegradable kulit yang terbuat dari nabati diekstrak dari jamur dan proses pewarnaan menggunakan bahan bebas kimia, lembut, lentur, anti-air secara natural, dan tidak berbahaya ketika bersentuhan dengan kulit manusia, mudah untuk dibentuk (contohnya untuk diproduksi sebagai tas, sepatu dll), dan tes laboratorium menyatakan bahwa material ini higienis karena dapat membantu menghentikan perkembangan bakteri.

pastedGraphic_1.png

(sumber: http://www.ecouterre.com/muskin-a-vegan-leather-made-entirely-from-mushrooms/muskin-mushroom-leather-5/ diakses pada tanggal 12 Maret 2017)

XXLab dari Yogyakarta menciptakan biomaterial tekstil terbuat dari limbah produksi tahu. Proses pembuatannya dengan cara direbus dengan cuka, gula, diberi penyubur, ditambahkan bakteri, diendapkan selama 10 hari sampai membentuk selulosa mikrobia dan ditunggu sampai kering. Material dari limbah produksi tahu ini adalah biomaterial dengan biaya murah dengan zero waste.

pastedGraphic_2.png

(sumber: http://xxlab.honfablab.org, diakses pada tanggal 12 Maret 2017)

Semoga material-material biodegradable seperti telah dijabarkan diatas dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi emisi karbon dan limbah dari industri tekstil.

 

Dominasi Fast Fashion sebagai Pemicu Peningkatan Karbon

Amelinda Alysia Anette (27116016)

Banyak dari kita menyadari runtuhnya Rana Plaza pada tahun 2013 di Bangladesh menewaskan hampir 1134 nyawa. Keruntuhan kondisi kerja pabrik dan industri ‘fast fashion’ memicu perhatian dan menjadi sorotan media secara global. Upah dan kondisi kerja bagi buruh yang membuat pakaian masyarakat luas adalah salah satu dari factor motivasi terbesar dalam berbelanja secara lebih etis. Namun, masalah etika yang penting untuk diperhatikan adalah pertimbangan terhadap carbon footprint yang berdampak besar pada lingkungan.

Persebaran kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang diimplementasikan secara global saat ini telah memlahirkan sebuah fenomena yang memicu melesatnya peningkatan carbon footprint dunia. Kapitalisme mengkonstruksikan paradigma dunia terhadap budaya konsumerisme sebagai suatu hal yang lumrah. Masyarakat memiliki kecenderungan untuk membeli barang-barang yang mereka tidak butuhkan, terutama dalam sektor pakaian yang terus mengalami pergantian tren dan gaya.

Akan tetapi, budaya konsumerisme terhadap aspek pakaian di masa kini banyak dikritisi oleh para aktivis buruh sebagai suatu fenomena “fast fashion”, di mana tren pakaian yang terus berganti memicu masyarakat untuk lebih konsumtif dan terus membeli pakaian, meski di saat mereka tidak membutuhkannya sekalipun. Mayoritas pola konsumerisme para pecinta gaya pakaian pun hanya mementingkan tren dan harga pakaian yang semurah mungkin.

Apa yang kita kenakan menampakkan salah satu faktor dampak terbesar pada lingkungan dan industri global dan dapat dinyatakan bahwa fashion merupakan salah satu pencemar terbesar di dunia. Keberadaan beragam rantai pasokan bahan baku, produksi, manufaktur, pengiriman, dan ritel yang ikut berkontribusi dalam pembentukan pakaian. Besarnya rantai yang saling terkait ini melaksanakan persebaran terhadap banyak garmen, hampir mustahil untuk menghitung ulang carbon footprint yang tepat dalam kasus ini. Namun dampak dari industri fashion terhadap lingkungan yang sebegitu besar, hal ini sulit untuk diabaikan.

Dalam produksi pakaian, bahkan katun organik yang sering dipandang sebagai salah satu pilihan yang paling etis dapat memerlukan lebih dari 5000 galon air dalam pengolahan kapas sehingga cukup untuk memproduksi sepasang t-shirt dan celana. Walaupun serat sintetis dapat intensif untuk menanggulangi permasalahan konsumsi air secara berlebihan, namun material ini serta proses pencelupan warna secara kimiawi menyebabkan polusi selama proses manufaktur.

Globalisasi juga menyimpulkan bahwa pakaian cenderung melakukan perjalanan di seluruh dunia pada kapal yang didukung oleh bahan bakar fosil, juga adanya dampak pada lingkungan dari proses pencucian yang berujung disposal dari pakaian-pakaian tersebut. Dengan kecepatan yang berlebih pada produksi pakaian sekali pakai, fast fashion menyediakan tren runway dalam harga yang rendah diikuti dengan meningkatnya demand pasar juga tentunya mempercepat emisi karbon. Hal ini memicu perekonomian yang tidak seimbang dan peningkatan pemanasan global karena tingkat produksi yang dihasilkan.

Akhir kata, meskipun industri fashion tidak dapat diperbaiki secara instan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam memperbaiki dan mengurangi perputaran siklus carbon footprint yang sedang mendominasi di dunia masa kini. Hanya dengan memperpanjang umur pakaian selama 3 bulan aktif dapat membantu mengurangi limbah, pemanfaatan air, dan carbon footprint hingga paling banyaknya 10% dari apa yang sedang terjadi. Salah satu hal sederhana yang juga bisa kita lakukan untuk mencegah ketidakadilan pada buruh industri pakaian ini terjadi adalah dengan mengasah kepekaan kita terhadap latar belakang perusahaan dari pakaian bermerek yang akan kita beli.

Banyak merek slow fashion yang membuat pakaian etis yang lebih terjangkau yang juga menjaga kesejahteraan para buruh pekerja. Lebih dari sekedar mengikuti tren, pakaian yang digunakan harus dipandang sebagai perwujudan prinsip setiap individu. Sebagai konsumen, masyarakat mampu membangun kesadaran yang lebih baik terhadap masalah ini dengan menyesuaikan pilihan konsumsi dengan pengetahuan mengenai realitas kesejahteraan buruh industri dan peningkatan karbon di seluruh dunia. Dengan harapan masyarakat dapat lebih peka dalam menciptakan dampak postif kepada dunia.

Jam Tangan Ramah Lingkungan dari Limbah Kayu

Reny Maryani (27115046)

Indonesia merupakan negara dengan memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam, salah satunya kayu. Kayu merupakan salah satu sumber daya alam yang di manfaatkan oleh manusia selama berjuta-juta tahun lamanya. Pemanfaatannya berawal dari kayu bakar, kemudian berkembang menjadi bermacam-macam kegunaan seperti tempat tinggal, kendaraan, alat musik, rumah lampu, furniture, peralatan rumah tangga, alas kaki, mainan hingga aksesoris. Dalam proses pengolahannya tidak jarang menghasilkan limbah kayu dengan jumlah yang tidak sedikit, ditambah apabila produk yang dihasilkan dibuat secara mass production maka semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Kayu adalah salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan kembali meskipun sudah menjadi limbah. Di Indonesia, limbah kayu sudah dimanfaatkan menjadi produk dengan fungsi yang sama atau baru. Mulai dari yang bernilai ekonomi rendah seperti arang sampai yang bernilai ekonomi tinggi seperti peralatan rumah tangga hingga aksesoris. Selain kenaikan nilai ekonomi dari limbah kayu yang diolah yaitu kita dapat memaksimalkan dan memperpanjang usia kayu tersebut karena seperti yang kita ketahui kayu (contohnya kayu jati) baru dapat dipanen setelah usia pohon minimal 5 – 10 tahun. 

Melimpahnya limbah kayu dari workshop interior-furniture yang tidak termanfaatkan dengan baik menjadikan ide bagi para industri kreatif untuk menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku dalam pembuatan produk baru. Peluang pengolahan limbah kayu ini sudah banyak dimanfaatkan oleh orang-orang kreatif dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Matoa, brand jam tangan pertama yang menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku utamanya dan merupakan hasil karya anak bangsa dengan mengambil konsep urban, simplicity and nature menjadikan produk ini terasa eksklusif karena dibuat oleh para pengrajin dengan keahlian tinggi yang detail oriented dan tentu saja di desain dengan cukup apik oleh para desainernya. Ditambah dengan menggunakan limbah kayu berkualitas baik yaitu Maple dan Ebony Makasar menjadikan kualitas jam tangannya sangat baik.

Secara tidak langsung Matoa mengajak para konsumen menjadi bagian dari orang-orang yang peduli tentang penggunaan limbah kayu dengan memakai produk yang ramah lingkungan dan bahan baku yang berkelanjutan. Dan menegaskan bahwa pengolahan limbah kayu yang dilakukan secara professional dalam arti secara konsep desain dan proses pengerjaannya matang serta di dukung dengan packaging yang menarik dapat menghasilkan suatu karya atau produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Tren sustainability design yang sedang digembar-gemborkan oleh para komunitas, pelaku industri, desainer dan pelaku yang lainnya juga bisa menjadikan pengolahan limbah kayu menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan desain yang berkelanjutan. Potensi pengolahan limbah kayu menjadi produk dengan nilai ekonomi masih terbuka lebar bagi para pelaku industri kreatif, karena masih banyak peluang produk-produk lain yang belum di ciptakan atau diciptakan kembali dengan menggunakan bahan baku utama dari limbah kayu. Selain itu dengan memanfaatkan atau menggunakan produk dari limbah kayu juga membuat kita turut berpartisipasi atas keberlanjutan usia produktif kayu. Karena tidak dapat dipungkiri, dengan meningkatnya permintaan pasar akan kebutuhan kayu sebagai bahan baku utama untuk di olah menjadi berbagai macam produk menjadikan pasokan kayu semakin berlimpah di pasaran, ini berakibat semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Setidaknya dengan memanfaatkan limbah kayu yang ada menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah kayu, namun lebih baik lagi apabila kita dapat memanfaatkan limbah kayu menjadi zero waste.

SUMBER :

http://www.trubus-online.co.id/panen-jati-lima-tahun/ di akses 10 Maret 2017

https://www.matoa-indonesia.com/ di akses 10 Maret 2017