Dominasi Fast Fashion sebagai Pemicu Peningkatan Karbon

Amelinda Alysia Anette (27116016)

Banyak dari kita menyadari runtuhnya Rana Plaza pada tahun 2013 di Bangladesh menewaskan hampir 1134 nyawa. Keruntuhan kondisi kerja pabrik dan industri ‘fast fashion’ memicu perhatian dan menjadi sorotan media secara global. Upah dan kondisi kerja bagi buruh yang membuat pakaian masyarakat luas adalah salah satu dari factor motivasi terbesar dalam berbelanja secara lebih etis. Namun, masalah etika yang penting untuk diperhatikan adalah pertimbangan terhadap carbon footprint yang berdampak besar pada lingkungan.

Persebaran kapitalisme sebagai sistem ekonomi yang diimplementasikan secara global saat ini telah memlahirkan sebuah fenomena yang memicu melesatnya peningkatan carbon footprint dunia. Kapitalisme mengkonstruksikan paradigma dunia terhadap budaya konsumerisme sebagai suatu hal yang lumrah. Masyarakat memiliki kecenderungan untuk membeli barang-barang yang mereka tidak butuhkan, terutama dalam sektor pakaian yang terus mengalami pergantian tren dan gaya.

Akan tetapi, budaya konsumerisme terhadap aspek pakaian di masa kini banyak dikritisi oleh para aktivis buruh sebagai suatu fenomena “fast fashion”, di mana tren pakaian yang terus berganti memicu masyarakat untuk lebih konsumtif dan terus membeli pakaian, meski di saat mereka tidak membutuhkannya sekalipun. Mayoritas pola konsumerisme para pecinta gaya pakaian pun hanya mementingkan tren dan harga pakaian yang semurah mungkin.

Apa yang kita kenakan menampakkan salah satu faktor dampak terbesar pada lingkungan dan industri global dan dapat dinyatakan bahwa fashion merupakan salah satu pencemar terbesar di dunia. Keberadaan beragam rantai pasokan bahan baku, produksi, manufaktur, pengiriman, dan ritel yang ikut berkontribusi dalam pembentukan pakaian. Besarnya rantai yang saling terkait ini melaksanakan persebaran terhadap banyak garmen, hampir mustahil untuk menghitung ulang carbon footprint yang tepat dalam kasus ini. Namun dampak dari industri fashion terhadap lingkungan yang sebegitu besar, hal ini sulit untuk diabaikan.

Dalam produksi pakaian, bahkan katun organik yang sering dipandang sebagai salah satu pilihan yang paling etis dapat memerlukan lebih dari 5000 galon air dalam pengolahan kapas sehingga cukup untuk memproduksi sepasang t-shirt dan celana. Walaupun serat sintetis dapat intensif untuk menanggulangi permasalahan konsumsi air secara berlebihan, namun material ini serta proses pencelupan warna secara kimiawi menyebabkan polusi selama proses manufaktur.

Globalisasi juga menyimpulkan bahwa pakaian cenderung melakukan perjalanan di seluruh dunia pada kapal yang didukung oleh bahan bakar fosil, juga adanya dampak pada lingkungan dari proses pencucian yang berujung disposal dari pakaian-pakaian tersebut. Dengan kecepatan yang berlebih pada produksi pakaian sekali pakai, fast fashion menyediakan tren runway dalam harga yang rendah diikuti dengan meningkatnya demand pasar juga tentunya mempercepat emisi karbon. Hal ini memicu perekonomian yang tidak seimbang dan peningkatan pemanasan global karena tingkat produksi yang dihasilkan.

Akhir kata, meskipun industri fashion tidak dapat diperbaiki secara instan, masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam memperbaiki dan mengurangi perputaran siklus carbon footprint yang sedang mendominasi di dunia masa kini. Hanya dengan memperpanjang umur pakaian selama 3 bulan aktif dapat membantu mengurangi limbah, pemanfaatan air, dan carbon footprint hingga paling banyaknya 10% dari apa yang sedang terjadi. Salah satu hal sederhana yang juga bisa kita lakukan untuk mencegah ketidakadilan pada buruh industri pakaian ini terjadi adalah dengan mengasah kepekaan kita terhadap latar belakang perusahaan dari pakaian bermerek yang akan kita beli.

Banyak merek slow fashion yang membuat pakaian etis yang lebih terjangkau yang juga menjaga kesejahteraan para buruh pekerja. Lebih dari sekedar mengikuti tren, pakaian yang digunakan harus dipandang sebagai perwujudan prinsip setiap individu. Sebagai konsumen, masyarakat mampu membangun kesadaran yang lebih baik terhadap masalah ini dengan menyesuaikan pilihan konsumsi dengan pengetahuan mengenai realitas kesejahteraan buruh industri dan peningkatan karbon di seluruh dunia. Dengan harapan masyarakat dapat lebih peka dalam menciptakan dampak postif kepada dunia.

Jam Tangan Ramah Lingkungan dari Limbah Kayu

Reny Maryani (27115046)

Indonesia merupakan negara dengan memiliki berbagai macam kekayaan sumber daya alam, salah satunya kayu. Kayu merupakan salah satu sumber daya alam yang di manfaatkan oleh manusia selama berjuta-juta tahun lamanya. Pemanfaatannya berawal dari kayu bakar, kemudian berkembang menjadi bermacam-macam kegunaan seperti tempat tinggal, kendaraan, alat musik, rumah lampu, furniture, peralatan rumah tangga, alas kaki, mainan hingga aksesoris. Dalam proses pengolahannya tidak jarang menghasilkan limbah kayu dengan jumlah yang tidak sedikit, ditambah apabila produk yang dihasilkan dibuat secara mass production maka semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Kayu adalah salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan kembali meskipun sudah menjadi limbah. Di Indonesia, limbah kayu sudah dimanfaatkan menjadi produk dengan fungsi yang sama atau baru. Mulai dari yang bernilai ekonomi rendah seperti arang sampai yang bernilai ekonomi tinggi seperti peralatan rumah tangga hingga aksesoris. Selain kenaikan nilai ekonomi dari limbah kayu yang diolah yaitu kita dapat memaksimalkan dan memperpanjang usia kayu tersebut karena seperti yang kita ketahui kayu (contohnya kayu jati) baru dapat dipanen setelah usia pohon minimal 5 – 10 tahun. 

Melimpahnya limbah kayu dari workshop interior-furniture yang tidak termanfaatkan dengan baik menjadikan ide bagi para industri kreatif untuk menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku dalam pembuatan produk baru. Peluang pengolahan limbah kayu ini sudah banyak dimanfaatkan oleh orang-orang kreatif dari seluruh dunia. Salah satunya adalah Matoa, brand jam tangan pertama yang menggunakan limbah kayu sebagai bahan baku utamanya dan merupakan hasil karya anak bangsa dengan mengambil konsep urban, simplicity and nature menjadikan produk ini terasa eksklusif karena dibuat oleh para pengrajin dengan keahlian tinggi yang detail oriented dan tentu saja di desain dengan cukup apik oleh para desainernya. Ditambah dengan menggunakan limbah kayu berkualitas baik yaitu Maple dan Ebony Makasar menjadikan kualitas jam tangannya sangat baik.

Secara tidak langsung Matoa mengajak para konsumen menjadi bagian dari orang-orang yang peduli tentang penggunaan limbah kayu dengan memakai produk yang ramah lingkungan dan bahan baku yang berkelanjutan. Dan menegaskan bahwa pengolahan limbah kayu yang dilakukan secara professional dalam arti secara konsep desain dan proses pengerjaannya matang serta di dukung dengan packaging yang menarik dapat menghasilkan suatu karya atau produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Tren sustainability design yang sedang digembar-gemborkan oleh para komunitas, pelaku industri, desainer dan pelaku yang lainnya juga bisa menjadikan pengolahan limbah kayu menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan desain yang berkelanjutan. Potensi pengolahan limbah kayu menjadi produk dengan nilai ekonomi masih terbuka lebar bagi para pelaku industri kreatif, karena masih banyak peluang produk-produk lain yang belum di ciptakan atau diciptakan kembali dengan menggunakan bahan baku utama dari limbah kayu. Selain itu dengan memanfaatkan atau menggunakan produk dari limbah kayu juga membuat kita turut berpartisipasi atas keberlanjutan usia produktif kayu. Karena tidak dapat dipungkiri, dengan meningkatnya permintaan pasar akan kebutuhan kayu sebagai bahan baku utama untuk di olah menjadi berbagai macam produk menjadikan pasokan kayu semakin berlimpah di pasaran, ini berakibat semakin banyak pula limbah kayu yang dihasilkan. Setidaknya dengan memanfaatkan limbah kayu yang ada menjadi salah satu solusi untuk mengurangi limbah kayu, namun lebih baik lagi apabila kita dapat memanfaatkan limbah kayu menjadi zero waste.

SUMBER :

http://www.trubus-online.co.id/panen-jati-lima-tahun/ di akses 10 Maret 2017

https://www.matoa-indonesia.com/ di akses 10 Maret 2017

 

Whose Version of “Smart”?

Bandung Creative City Forum (BCCF) was invited to take part in Asia-Pacific Week in Berlin in 2013, which brought up “Smart City” as the theme, in a traveling exhibition and a debate session. At that time, our understanding about the term “smart city” circulates around digital application for public facilities, full Internet access for communication purposes; mostly aims to make life more practical. The curator of the exhibition, Ulla Giesler, challenged us to define what is “smart” for our city by presenting one of our projects, and through a series of questions concerning the project, of which answers were then referred to as our main statement for our display and/or debate. I’m publishing them here since “Smart City” has now become one of those overused buzzwords – and it seems that some people (or worse, people with power, or authorities) are entranced by that term with less (or no) consideration on the essential foreground that needs to be firmly planted in the daily life of a society, before adding virtual aids.

For this Asia-Pacific Week in 2013, BCCF chose to present Helarfest2012. Helarfest, one of BCCF main programs, is a community festival that initiated the establishment of BCCF. In 2012, Helarfest was held based on the four typical elements of Bandung City: forest, park, kampung and river. Each element was activated by a number of creative communities, resulted in four event titles: Lightchestra (forest), Ulin.bdg (park), Kampong Festival (kampung) and River Cinema (river).

In short, “smart” for us refer to the capability of the citizens to fulfill their needs and to activate their own living habitat, sometimes using tools that are not necessarily digital or hi-tech, but they can even come in another forms, such as creativity, active involvement and initiatives.

Infographics on BCCF programs and activities from 2008 to 2013, responding to diverse urban issues (stated in middle circles)

Infographics on BCCF programs and activities from 2008 to 2013, responding to diverse urban issues (stated in middle circles)

Following are the questions and answers, and an overview on Helarfest2012.

1 How does your project “smarten up” your city?

All Helarfest sub-events in 2012 responded to urgent issues in Bandung, such as preservation of a city forest and revitalization of kampungs that have been enduring ecological and social pressures caused by rapid physical development of the city, by raising awareness towards the issues among local people, and encourage them to become active citizens who knows that they have all the rights to enjoy, create, activate and maintain their living space.

The projects “smarten up” Bandung by raising engagement through creative events and activation programs, these projects increased the confidence and sense of belonging of local citizens toward their habitat. With this new/revived relation, they become eager to learn about various simple yet creative ways to maintain their living space, i.e. keeping vertical gardens, not throwing garbage to the river, personalizing their neighborhood by painting mural arts, etc. These methods are relatively easy to duplicate and applied to different areas with diverse themes, and are expected to be contagious to the neighboring areas, initiated by local communities and conducted using local resources, as much as possible.

2 Why does your city need your project and what challenges are country‐specific to your urban context?

Similar to other growing cities in Indonesia, Bandung becomes highly populated and denser. However, the rapid population growth exceeds the city’s ability to provide adequate facilities for its citizens, including physical infrastructures and public services. Urgent issues that rose due to this condition include the decrease of environmental qualities that has caused disastrous flood, the absence of garbage and solid waste processing, substandard sidewalks and bike lanes, etc. These issues, added by the insufficient governance and lack of law enforcement, have become the common main challenges faced by growing cities in developing countries, including Indonesia.

On one hand, local people have become tolerant of such disorderly conditions and accepted them as the “new normal”. On the other hand, the facts that 68% of Bandung citizens are below 40 years of age, and that Bandung has around 50 colleges and universities, show that Bandung has the potential to produce active citizens. This is what makes it possible for Bandung to respond creatively to the urban issues.

3 What are the new behaviors your building/planning/initiative encourages?

The 2012 program focused on four elements of Bandung: forest, kampong, park and river, involving local people who live around those specific areas, with an objective to raise their responsibility toward their own urban habitat. The programs created in each sub-event encouraged people to understand their specific living space, and, most importantly, to become active urban citizens.

With the Lightchestra event, people take care of the city forest that is actually located at a busy part of the city, and can be easily accessed. During the Kampung Festivals, the inhabitants gained confidence and became motivated in maintaining their cornered neighborhood. In Ulin.bdg, children who are used to find entertainment in shopping malls, or play alone with gadgets and computers, could spend one weekend in a city park that provided a lot of adventure games and activities. Cikapundung River Cinema offered a new experience for people to watch movies for free, while appreciating the unique surroundings, due to the main river that slices Bandung in two. All these events encouraged people to enjoy public spaces in different settings, with different activities, and to gain a sense of belonging to the city.

===================================

HELARFEST

Helarfest is an annual festival for creative communities held by Bandung Creative City Forum (BCCF). Helarfest started in 2008, when creative communities in Bandung gathered and agreed to make a common “umbrella” for their various events. As the result, in 2008, there were more than 30 events within 1,5 months in Bandung. Helarfest 2009 used similar format, which ended up with 67 events within 2,5 months. In 2010, Helarfest took a break. Instead, BCCF held Semarak.bdg, an event (with 7 sub-events within 1 month) that focused on the use of public space, creative intervention to public facilities, heritage building preservation, vehicle-free road, and other issues related to urban space. In 2011, BCCF collaborated with UNEP and The Indonesian Ministry of Environment as a creative consultant for TUNZA, an international conference for children and youth on environment. During this event, BCCF succeeded in having Babakan Siliwangi – an area with conflict of interests – declared as a World City Forest, and to build a canopy walk at the location (called ForestWalk), where people can enjoy walking among the high trees. In 2012 Helarfest was held again, focusing on Urban Acupuncture with the following themes, which were chosen according to the specific urban characteristics of Bandung: forest (Lightchestra), kampung (Kampung Kreatif), park (Ulin.bdg) and river (Cikapundung River Cinema). All events were held in coordination with BCCF, but each was organized and executed by different communities.

LIGHTCHESTRA

5-7 July 2012

At Babakan Siliwangi City Forest, Jalan Tamansari, Bandung

http://bandungcreativecityforum.wordpress.com/2012/07/03/helarfest-1-lightchestra-music-festival-lightlaser-show-community/

Organizer: Design Hub Indonesia

Lightchestra was the opening event for the whole Helarfest series, a music and light concert held in Babakan Siliwangi World City Forest. Design Hub Indonesia was a community of designers/ entrepreneurs that was in charge of this event, which included activities such as a photo contest, spontaneous painting (inviting artists from an artist compound that is located next to the forest), etc., inviting i.e. BULB (Barudak Urban Light Bandung) who makes light graffiti, Bandung Urban Jedi (“lightsaber fighter”), Sahabat WALHI that works with ecological issues in urban areas, Open Your He(Art) Studio that works with orphans, etc. The aim of this event was to re-introduce the World City Forest, which was declared one year before, to public. This forest has been in dispute due to the developing license given by the municipality to a company, which was said to have planned to build a restaurant, a mall and an apartment at the area. Therefore, it is hoped that people become aware of this available urban space, so they would use this inspiring green open space for various activities, to show the government and developer that people still need such space. The music and light concert invited indie band from Bandung, held at an arena in the forest that is used for traditional ram fight each first week of the month.

KAMPUNG KREATIF

Creative Kampung program for 2012 involved 5 (five) kampungs or urban villages in Bandung; each needed different treatment, according to each potentials and characteristics. The five kampungs chosen for this program represented the entrance points to Bandung. These points are: Dago Pojok at the North (entrance to Bandung by car), Cicukang at the West (entrance to Bandung by train and airplane), Cicadas at the South (entrance to Bandung by car), LeuwiPanjang at the East (entrance to Bandung by city bus) and Tamansari that is located at among the most crowded areas in Bandung. A person responsible for this project was Rahmat Jabaril, an artist who has been living in one of these kampongs himself, but then brought the ideas to other kampongs in Bandung, which are mainly inhabited by people with low-income and who have substandard education levels.

Following are the considerations for this program:

  • Bandung has been known as a “creative city”, but upon entering Bandung, people rarely see any display of creativity from the infrastructure and conditions of Bandung. Therefore these entrance kampongs are chosen, with the hope that they could give positive impressions about Bandung at the first sight a visitor enters Bandung.
  • People who live in these urban-kampungs commonly range within the poverty line. However, the locations of their kampungs are strategic, and are mostly targeted by developers (assisted by the government) who would have them evacuated. Knowing this fact, the people of these kampungs have gradually become apathetic toward their own environment, since they kept being pushed by the physical development around them. Therefore, this program aimed to return their confidence by assisting them in discovering their potentials, with the hope that once they gain their confidence through programs that activate their neighborhood, they also gain the sense of belonging toward their habitat and hopefully would take a better care of their living environment.

ULIN.BDG

10-11 November 2012 at Cilaki Park, Jalan Citarum

http://www.bccf-bdg.com/webs/the-news/253-ulinbdg-festival-kaulinan-bandung-helarfest-2012-3.html

Organizer: HONG Community and EcoEthno

Ulin.bdg is a festival for traditional and adventurous games for children. This program meant to tackle two issues at the same time; one was the activation of parks as public space, another was to provide alternative activities for children who rarely have the chance to play outdoor or in a city park.

CIKAPUNDUNG RIVER CINEMA

22 December 2012 at Cikapundung Barat

http://rivercine.com/

Organizer: House The House

This event was the closing of the whole Helarfest 2012, held at the bank of Cikapundung River that runs along the City of Bandung. An inflatable giant screen was the center of the event, as an open-air cinema, where indie short movies were projected for about 10 hours. Next to the screen, a stage was set up for live performances and another was set for food stalls, which were run by young culinary entrepreneurs. This event was held to make people realize the importance of Cikapundung River as the beginning of civilization that formed the City of Bandung, but somehow got neglected and gradually become a place where citizens throw any kind of garbage, which has caused damaged to the river’s quality.

 

All these events in Helarfest 2012 responded to the issues of public space and urban villages within the context of Urban Acupuncture, which is an effort to educate fellow inhabitants of Bandung to appreciate their living space by activating and maintaining their surrounding environment. For the condition of Bandung, active involvement of its citizens is important, since it is their contributions that define a city. Bandung can be seen as “smart” in a way that the city thrives due to the people and their creative potentials, despite the insufficient governance and infrastructures.

Here is the link to a video recording on the talk session at ANCB (Bandung is in Panel VI) http://www.ancb.de/sixcms/detail.php?id=9261829#.VSwCshmuvRc

Desainer Impor, Bukan Solusi

Saya baru membaca salinan sambutan Presiden RI pada pembukaan INACRAFT 2015, tertanggal 8 April 2015. Lalu terpukau pada bagian ini:

 “Tadi saya bisiki Menteri Perdagangan, Menteri Koperasi, desain. Kalau kita mau masuk pasar Eropa, cari desainer dari sana. Pemerintah cari desainer-desainer yang baik dari Eropa. Yang baik dari mana? Dari Perancis? Cari dari Perancis. Yang baik dari mana? Dari Italia? Cari dari Italia.  Memang harus berani seperti itu. Kalau tidak, desain kita akan tidak selalu bergerak ke pasar-pasar internasional.”

Nah, karena konteksnya INACRAFT, “desain” yang saya bahas di sini lebih mengarah ke desain produk yang erat kaitannya dengan kapasitas pengrajin dan industri rumahan, budaya, dan SDA yang umum digunakan sebagai bahan mentah dan bahan produksi. Kalau yang jadi tujuan adalah “masuk ke pasar internasional”, percayalah, sekedar menghadirkan desainer asing untuk mengolah sumber daya kita bukanlah jaminan untuk “produk yang lebih laku”. Jadi apa solusinya? Bukan mengimpor desainer, tapi membenahi ekosistem dari hulu ke hilir, dengan segala dinamikanya.

Magno, contoh karya desain produk "new craft" yang mendunia karena kearifan sistem produksinya

Magno, contoh karya desain produk “new craft” yang mendunia karena kearifan konsep dan ekosistem produksinya (karya Singgih S. Kartono, Temanggung)

Yang pertama, dari hulu, pastikan apakah ketersediaan bahan mentah dan bahan baku bisa konsisten sepanjang tahun? Pengrajin bambu andalan kami pernah gagal deliver produk pesanan kami, karena “petaninya nggak mau jual bambu”. Kenapa? “Karena di bulan yang biasanya bisa panen, jadi banyak hujan, sehingga banyak anakan yang tumbuh. Kalau induknya ditebang, bisa-bisa anaknya mati. Dan nggak bisa tebang di musim banyak hujan begini.” Ini baru masalah Perubahan Iklim. Ada lagi masalah sosial, seperti, tidak memenuhi pesanan sesuai janji karena, “Musim panen, semua orang ke ladang, nggak ada yang ‘nganyam,” atau “Ada upacara sunatan, sekampung nggak ada yang kerja.” Aktivitas adat dan sosial yang tidak bisa disanggah, sehingga target produksi pun seharusnya dapat menyesuaikan dengan ritme alami ini. Apakah desainer asing bisa memahami hal-hal seperti ini?

Eksplorasi material serat alam dengan titik berat pada kapasitas dan kemampuan pengrajin lokal, dengan bantuan teknologi sederhana

Eksplorasi material serat alam dengan titik berat pada kapasitas dan kemampuan pengrajin lokal, dengan bantuan teknologi sederhana (penelitian Desain dan Produk Budaya, ITB)

Hal lain, kita sudah punya desainer-desainer unggul, yang termasuk juga hasil didikan perguruan tinggi desain yang sudah berdiri di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Karya-karya mereka juga sudah masuk ke pasar internasional yang bergengsi, exposure karya mereka juga sudah mendunia melalui website dan media sosial. Di era seperti ini, akses dan wawasan mengenai trend global, proses produksi yang canggih, dan faktor-faktor pendukung lainnya terbuka lebar. Teman-teman, juga para mantan mahasiswa, secara bertahap telah berhasil membangun reputasi dan domain mereka dalam bidang desain yang diakui dunia internasional. Rahasianya apa? Para desainer Indonesia yang unggul ini dengan cermat dan cerdas berhasil memaknai akar budaya Indonesia yang beragam dalam karya-karyanya. Mereka unik karena dapat mengangkat nilai kearifan budaya, bukan hanya “menempelkan” ornamen tradisional pada karyanya. Apakah desainer asing bisa menjiwai hal ini?

Desain produk bambu dengan yang diproduksi dengan existing skill pengrajin, tapi dalam desain kontemporer (karya tugas akhir mahasiswa Desain Produk ITB)

Desain produk bambu dengan yang diproduksi dengan existing skill pengrajin yang diaplikasikan pada desain kontemporer (karya Sadhiya Hanindita, tugas akhir di Desain Produk ITB)

Banyak hal lain yang “menggemaskan” seputar subyek tentang “desainer impor” ini; satu Blog tidak akan cukup untuk membahas mengenai pembenahan ekosistem desain produk dalam konteks ini. Namun, bila ingin mencoba menjawab cepat, solusi atau cara untuk pengembangan produk Indonesia adalah pada endorsement bagi para desainer profesional, terutama desainer pemula dan yang hendak naik kelas (start-up dan step-up), berupa berbagai fasilitas untuk mengeksplorasi kapasitas diri, kemudahan kesempatan untuk tampil dalam berbagai event desain dunia, dan kemudahan akses ke informasi terkini dalam bidang desain dan segala hal yang berkaitan dengannya (teknologi, fenomena sosial, dsb.) Potensinya sudah banyak, dan tersebar; sehingga tinggal diperlukan sebuah sistem manajemen yang strategis, kalau mau unjuk gigi secara masif.

Itu tadi mengenai “masuk ke pasar internasional”. Sementara, saya yakin, pasar dalam negri kita ini cukup kuat. Masih penting bagi sesama bangsa ini untuk menghargai karya saudaranya sendiri; “Aku cinta buatan Indonesia” harus terus digencarkan dan dibuktikan. Jiwa konsumtif bangsa kita ini tinggal diarahkan ke berbagai produk dan jasa yang aman bagi kelestarian lingkungan, dan yang dapat mendukung dan membangkitkan industri kita sendiri.

Saya juga yakin nih, teman-teman desainer, para peneliti dan akademisi, pengusaha desain, dan pengrajin, termasuk para designer-maker yang sedang marak, pasti punya pendapat masing-masing dan solusi nyata untuk isu ini. Ada yang dengan cara bertukar pikiran dengan budaya lain, atau berkolaborasi baik dengan sesama desainer maupun dengan ahli dalam bidang lain, dan sebagainya – tapi pasti mentah-mentah mengimpor desainer, bukan jadi salah satu solusi. Ayo, kita bergerak! ^_^

Arsitektur Hijau Bandara Blimbingsari

Teguh Vicky Andrew

 

Citra kekinian Banyuwangi tak lagi identik dengan sebutan “kota santet”. Pasalnya, dalam kurun waktu lima tahun terakhir, bekas ibu kota kerajaan terakhir di Nusantara ―Blambangan― ini telah bersalinrupa menjadi “kota hijau” yang berkesan ramah bagi setiap orang. Tentu saja, pencapaian ini tidak dapat dilepaskan dari kiprah dan kebijakan Bupati Abdullah Azwar Anas.

Ketika banyak daerah berlomba-lomba menjadi kota pintar (smart city), Azwar malah mengembangkan gagasan kampung cerdas. Seturut konsep itu, selain memberikan pelayanan publik berbasis teknologi informasi, bupati berusia 41 tahun ini juga bertumpu pada budaya dan ekonomi lokal, serta menerapkan pembangunan fisik berbasis lingkungan (green architecture).

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 74)

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 74)

Secara personal, bupati kelahiran Banyuwangi ini memang memiliki kepekaan khusus terhadap seni bangunan. Namun ia juga tak dapat menampik fakta bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di seluruh dunia menghasilkan 40% emisi karbondioksida yang menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global (Yudelson, 2007:3). Oleh karena itu, minat sang bupati tak terbatas pada estetika dan tren arsitektur kontemporer, tetapi juga bangunan-bangunan yang ramah lingkungan.

Untuk itu, selama 5 tahun terakhir, Bupati Azwar melibatkan para arsitektur kondang dalam merenovasi, memperluas, dan mendirikan lebih dari 15 bangunan secara simultan. Salah satu konstruksi yang kental menerapkan prinsip arsitektur hijau adalah Bandara Blimbingsari. Lapangan terbang seluas 240 meter persegi dengan panjang lintasan 1.400 meter―kemudian diperpanjang 1.800 meter― ini mulai dibangun pada 2004 dan mulai beroperasi pada akhir 2010.

“Melipat Jarak”

Kehadiran bandara Blimbingsari sangat penting dan strategis. Berjarak 300 kilometer dari Surabaya, ibu kota kabupaten ini ditempuh sekitar delapan jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Namun, durasi perjalanan ini dapat dipangkas hingga 50 menit bila menggunakan pesawat (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015:76). Dengan begitu, kehadiran lapangan terbang ini akan mempermudah akses wisatawan dan investor yang memicu pertumbuhan ekonomi lokal.

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi (Asdhiana, 2014)

Bandara Blimbingsari, Banyuwangi (Asdhiana, 2014)

Pada kenyataannya, jumlah tamu di Bandara Blimbingsari memang terus meningkat. Bila pada 2011 jumlah penumpang hanya 3.000 orang, maka pada 2012 telah meningkat menjadi 24.000 orang dan 44.000 orang pada 2013 (Rachmawati, 2013). Walhasil, kursi penumpang pesawat ATR72-500 milik Wings Air dan Garuda Indonesia yang melayani rute Surabaya-Banyuwangi berkapasitas 80 orang hampir selalu penuh. Pencapaian ini pun membuat bandar udara ini naik dari kelas V ke kelas III―yang biasanya 25-30 tahun― dalam tempo tiga tahun.

Belakangan, lapangan terbang ini diusulkan untuk naik ke kelas II. Otoritas lokal pun bergerak cepat. Sejak akhir 2013 proyek perluasan bandara mulai dirancang. Rencananya, lapangan terbang Blimbingsari akan diperluas hingga 5.000 meter persegi. Kapasitas bandara ini akan ditingkatkan hingga 250.000 penumpang yang akan dilayani oleh 10 bilik check in dan lima maskapai penerbangan. Lintasan pacu pesawat pun akan diperpanjang hingga 2.250 meter sehingga dapat menampung pesawat jenis Bombardier CRJ 1000 dan Boeing 737-500.

Tak hanya itu, pemerintah Kabupaten Banyuwangi kemudian menunjuk arsitek Andra Martin―perancang Le Bo ye Graphic dan Gedung Dua8 di Jakarta, serta Conrad Chapel di Bali. Namun berbeda dengan karya-karya sebelumnya, Bupati Anas menantang Andra untuk merancang terminal bandara Blimbingsari seturut langgam vernakular yang dipadukan dengan konsep arsitektur hijau.

Desain Bandara Hijau

Rancangan bangunan terminal Bandara Blimbingsari memenuhi enam kriteria bangunan ramah lingkungan, yaitu penggunaan lahan tepat guna, efisiensi energi, konservasi air, kenyamanan udara, siklus material, dan manajemen lingkungan (Bachitar, 2015). Arsitektur  bandara ini juga menerapkan konsep desain pasif yang lebih mengandalkan penataan ruang daripada penggunaan alat-alat canggih untuk mengurangi konsumsi energi.

Perangkat pendingin udara (air conditioner) dan material kaca , misalnya, hampir tidak digunakan di bandara ini. Sebagai gantinya, desain interior gedung terminal dirancang minim sekat dengan dinding berupa kisi-kisi yang membuat sirkulasi udara berjalan lancar dan sinar matahari dapat leluasa masuk sehingga mengurangi penggunaan lampu. Kehadiran empat kolam ikan di lantai dasar juga berpengaruh besar terhadap suhu ruang karena mampu menurunkan tekanan udara.

Sementara bagian atap bangunan terminal Bandara Blimbingsari mengadaptasi bentuk penutup kepala pria suku Osing, udeng. Kehadirannya tak hanya menjadi representasi budaya lokal, tetapi juga membuat cahaya matahari dapat masuk melalui wuwungan sehingga ruang utama tetap terang walaupun tanpa lampu pada siang hari (Tim Tokoh Arsitektur 2014, 2015 : 76). Untuk meredam radiasi sinar mentari, bagian luar atap dilapisi rumput gajah mini yang selaras dengan taman yang menghampar di sekitar bandara.

Purwarupa Bandara Blimbingsari (Bachtiar, 2015)

Purwarupa Bandara Blimbingsari (Bachtiar, 2015)

Bahan utama bangunan terminal Bandara Blimbingsari ini pun berasal dari kayu ulin bekas kapal dan dermaga yang tahan rayap. Penggunaan material ini jelas terlihat jelas pada bagian tiang dan dinding gedung. Bahan lain yang digunakan adalah batu lempeng asli Banyuwangi untuk melapisi dinding dari kayu ulin tadi. Sementara, kisi-kisi dan ornamen bangunan terbuat dari kayu jati yang menampilkan hiasan lokal Banyuwangi, Gajah Oling (Bachtiar, 2015).

Di luar itu, lapangan terbang ini juga tak sekadar berfungsi sebagai tempat turun-naik penumpang pesawat. Seperti hal berbagai bandar udara internasional lainnya, bandar udara ini juga mengakomodasi berbagai kegiatan seturut konsep fungsi ruang pada bangunan hijau. Kelak, lapangan terbang ini akan dilengkapi dengan ruang pertemuan, tempat istirahat, gerai seni, pusat oleh-oleh dan kafe (Ibid., 2015).

Akhirnya, kehadiran Bandara Blimbingsari memberikan warna berbeda dalam tren bandar udara baru di Indonesia. Dengan mengusung konsep arsitektur hijau, proses renovasi besar-besaran bandara ini dapat dilakukan dengan cepat (Juni 2014 – September 2015). Biaya yang dikeluarkan pun relatif murah, 45 milyar rupiah. Namun di luar itu, yang jauh lebih penting, bandar udara ini juga memiliki identitas kuat karena tidak saja mengusung budaya lokal, tetapi juga memiliki kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.

 

Daftar Sumber

Asdhiana, I Made.2015.Penerbangan ke Banyuwangi Tambah, Penumpang Naik. Diakses dari http://travel.kompas.com/read/2014/05/06/1755537/Penerbangan.ke.Banyuwangi.Tambah.Penumpang.Naik (3 Maret 2015, Pukul 15.03).

Bachtiar, Rifki. 2015.Terapkan Green Building, Terminal Bandara Blimbingsari Ditarget Selesai 2015. Diakses dari http://beritajatim.com/politik_pemerintahan /229865/terapkan_green_ building,_terminal_bandara_blimbingsari_ditarget_selesai_2015.html#.VO8OmCymSO0 (3 Maret 2015, Pukul 14.03).

Rachmawati, Ira. 2013.Bandara Banyuwangi Dikembangkan dengan Konsep Hijau. Diakses dari http://regional.kompas.com/read/2013/12/24/1333490/Bandara.Banyuwangi.Dikembangkan.dengan.Konsep.Hijau (3 Maret 2015, Pukul 13.27).

Suprapto, Hadi dan Tudji Martudji.2014.Indonesia Akan Punya Bandara Ramah Lingkungan. Diakses dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/507477-indonesia-akan-punya-bandara-ramah-lingkungan ( 3 Maret 2015, Pukul 14.15).

Tim Tokoh Arsitektur 2014. 2015.Angin Segar dari Ujung Timur Jawa. Majalah Tempo Edisi 5-11 Januari 2015.

Yudelson, Jerry. 2007. Green Building A to Z : Understanding the Languange of Green Building. Gabriola Island : New Society Publisher.

 

Green Roof dan Green Wall

“Greenery” pada Bangunan dalam Isu Desain Berkelanjutan

Kiki Putri Amelia

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Cover Majalah Future Arc, edisi Mei-Juni 2014, Green Awards 2014 (Sumber: http://www.futurarc.com/index.cfm/magazine/)

Isu mengenai Global Warming (Pemanasan Global) bukanlah hal yang baru bagi kita. Menipisnya atmosfer Bumi, dan perkembangan Bumi serta kebutuhan manusia yang tidak ada habisnya merupakan salah satu faktor mengapa isu ini terus bertahan, bahkan menjadi buruk kian harinya.

Pemanasan global telah menjadi lagu lama yang terus menerus dikumandangkan di banyak media, di seluruh dunia. Salah satu gambaran umum yang sering digunakan pada isu ini adalah fasad bangunan tinggi yang seluruhnya menggunakan kaca. Kaca-kaca tersebut dengan jumlah yang tidak sedikit menyelimuti ratusan bahkan ribuan bangunan tinggi di seluruh dunia, bukan merupakan hal yang remeh dan memiliki peran dalam isu ini. Istilah “Greenery” dalam arsitektur merupakan hal yang tidak asing didengar. Dan istilah tersebut termasuk didalam sebuah upaya konseptual seorang arsitek dalam berkontribusi, pada apa itu yang disebut sebagai sustainable design.

Dalam sudut pandang yang lebih luas, salah satu yang berperan menyumbangkan banyak faktor dari pemanasan global ini adalah bangunan. Bangunan sangat berkaitan dengan arsitektur, karena arsitektur sendiri berhubungan erat dengan lingkungan hidup terutama pada penggunaan energi, air, materi dan ruang. Semua bangunan, low-rise, middle-rise, high-rise sekalipun menyumbangkan peran dalam isu ini, peran tersebut bisa menjadi positif atau bahkan negatif, memperburuk atau membantu mengurangi bahkan mencegah. Peran bangunan sangat menarik untuk dibahas lebih lanjut, bagaimana bangunan tersebut memberikan peran dalam isu pemanasan global ini, peran positif dari bangunan dapat memberikan solusi dari isu ini, contohnya dengan desain yang tidak merusak lingkungan dan ekologi, tetapi juga kreatif, memiliki nilai estetika tinggi, fungsional dan solutif. Desain berkelanjutan merupakan sebuah solusi positif dari seorang arsitek dalam kontribusinya terhadap lingkungan.

Sustainable Architecture

Berbagai upaya pemulihan, tindakan untuk mengurangi, mencegah, dan mengoptimalkan dilakukan dari berbagai aspek yang memungkinkan. Desain berkelanjutan pada bangunan secara garis besar dibagi menjadi 2, yaitu pendekatan desain secara pasif dan aktif.

  • Passive Building Desain

Merupakan pendekatan desain dari sebuah bangunan yang disesuaikan dengan iklim dan lingkungan sekitarnya. Bangunan yang dibangun di iklim tropis haruslah menyesuaikan dengan iklim tropis itu tersebut, hal sederhana yang nampak jelas adalah, penggunaan atap miring pada bangunan, adalah untuk menyesuaikan bangunan dengan curah hujan yang tinggi di iklim tropis.

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Contoh Bangunan yang Memperhatikan Potensi Lingkungan Sekitar. (digambar ulang dari David Egan 1975 : 23)

Maka dari itu para arsitek dan desainer tidak dapat memindahkan atau mencontoh bangunan dari Negara beriklim subtropis tersebut. Misalnya bangunan di negara subtropis umumnya memiliki bukaan jendela yang tinggi dan lebar, dengan minimnya teritisan sebagai pelindung jendela. Di Indonesia yang memiliki curah hujan yang tinggi, teritasan atau kantiliver merupakan upaya-upaya arsitek untuk memberikan naungan dari sebuah ruang, dan juga penggunaan cross-ventilation pada bangunan merupakan salah satu pendekatan dari desain pasif dari bangunan berkelanjutan. Pada intinya, pendekatan pasif dalam desain bangunan adalah dengan mengoptimalisasi sebuah desain bangunan untuk mengadaptasi dan juga memanfaatkan lingkungan sekitarnya, untuk memiliki peran dalam sebuah bangunan, dengan harapan memnimalisir penggunaan energi dari bangunan tersebut.

  • Active Building Desain

Pendekatan desain dari sebuah bangunan untuk menghemat energi dengan menggunakan teknologi terbarukan (mekanis dan elektrikal). contohnya adalah penggunaan photovoltaic pada bangunan, lampu LED, dan teknologi-teknologi terbaru yang mendukung penghematan energi.

Greenery in Architecture

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Kanan: penggunaan greenwall pada fasad bangunan, Cafe Origin Bandung | Kiri: penggunaan greenroof pada bangunan, Perpustakaan UI Depok

Salah satu pendekatan populer dalam dunia arsitektur adalah dengan penggunaan greenery pada bangunan. Istilah greenery di sini merupakan sebutan dari penggunaan “tanaman” pada elemen fasad bangunan. Tanaman yang digunakan menjadikan pencitraan dari bangunan tersebut, sebagai bangunan yang “Go green” atau ramah lingkungan, digolongkan kedalam pendekatan Passive Building Desain. Tetapi penggunaan tanaman tersebut belum menjamin sebuah bangunan tersebut ramah lingkungan atau mengikuti prinsip sustainable design yang sesungguhnya. bisa jadi elemen fasad tersebut adalah berupa tempelan yang berperan banyak dalam konsep sustainable. dan memang pada umumnya bangunan dengan greenery pada fasadnya umumnya hanya berupa secondary skin yang menghiasi fasad bangunan saja. Menurut Peck (1999) mengatakan dengan penerapan ‘Skyrise Greenery’ berhasil mereduksi suhu sebesar 5,5°C dan dapat mengurangi jumlah energi yang dibutuhkan untuk AC sebesar 50% sampai 70% dengan mendinginkan suhu udara langsung luar bangunan.

  • Roof garden/greenroof

Roof garden adalah salah satu langkah penghijauan pada bangunan yang diterapkan di atap. Selain sebagai elemen dekoratif, dalam sebuah bangunan komersial green roof dapat menampung fungsi-fungsi yang menguntungkan, misalnya café outdoor, area olah raga, jogging track, mini golf, dan lain lain, ataupun seabagai area urban farmer dan garden. Green roof juga dapat berfungsi untuk menuruni suhu pada ruangan di bawahnya.

  • Vertical garden/greenwall

Vertical garden, istilah yang digunakan pada greenery yang digunakan pada fasad bangunan. Biasanya berupa secondary-skin yang berfungsi sebagai buffer ruang dalam bangunan, untuk mengurangi panas langsung cahaya matahari yang masuk kedalam. Pada bangunan tinggi yang terletak di perkotaan, penggunaan vertical garden merupakan salah satu solusi pendekatan desain berkelanjutan, selain berkontribusi terhadap gi , juga menghasilkan poin tersendiri pada bangunan tersebut. Meminimalisir penggunaan energi dalam bangunan, menurunkan temperatur ruang dalam, sehingga jika tetap menggunakan pendingin ruangan dapat diminimalisir energi penggunaannya.

Penggunaan greenery pada bangunan, dalam skala besar dapat menurunkan temperatur suhu sebuah kota, atau bahkan dunia. Keuntungan pada bangunan dapat disimpulkan di antaranya adalah

  • dari sudut pandang ekologis

sebagai elemen greenery pada bangunan tentunya penggunaan greenery bangunan sedikit banyak memberikan kontribusi pada lingkungan, khususnya mengurangi polusi udara dan dari berbagai riset yang ditemukan, baik greenroof maupun greenwall terbukti dapat mengurangi penggunaan energi pada bangunan.

  • dari sudut pandang teknis

terdiri dari lapisan tanah dan tumbuhan, selain memiliki nilai ekologis dan estetika, greenroof khususnya memiliki fungsi sebagai area resapan. Sehingga bangunan tinggi sekalipun dapat memiliki kontribusi peresapan melalui greenroof tersebut. Sedangkan pada penggunaan greenwall pada bangunan tinggi dapat meminimalisir efek pemantulan cahaya dan panas matahari dari fasad kaca.

Penggunaan dari greenery tergolong dalam passive desain dalam konsep desain arsitektur berkelanjutan, dengan pemanfaatan iklim dan potensi lingkungan sekitar. Dalam sudut pandang arsitektur tropis, Indonesia yang merupakan negara dengan kondisi iklim tropis lembab,  pada dasarnya mendukung akan penerapan desain baik greenroof maupun greenwall pada bangunan. Karena cahaya matahari yang melimpah dan curah hujan yang tinggi maka sangat memungkinkan tanaman tersebut tumbuh  dan berfungsi baik sebagai elemen estetik maupun upaya penghematan energi.

Dalam sudut pandang desain berkelanjutan, penggunaan greenery merupakan salah satu upaya arsitek dalam sebuah konsep pembangunan. Selain sebagai nilai estetik penggunaan greenery juga merupakan upaya meminimalisir energi yang digunakan dari sebuah bangunan. Bangunan merupakan salah satu akibat dari isu pemanasan global yang cukup dominan. Selain tumbuhnya bangunan-bangunan baru setiap tahunnya, dengan penggunaan konsep desain berkelanjutan baik pasif maupun aktif dapat sedikit banyak berkontribusi memperbaiki pemanasan global.

 

Sumber:

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju…

Perbedaan Kebiasaan di Indonesia dan Negara Maju yang Memiliki Pengaruh terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Ni Annisa Nur Adha

 

Pada tahun 2015 diprediksi oleh Bank Dunia bahwa jumlah penduduk Indonesia akan menembus lebih dari 250 juta. Semakin banyak jiwa maka dibutuhkan ketersediaan sumber daya yang dapat mencukupi setiap jiwa selama jangka hidupnya. Kesadaran untuk peduli pada lingkungan di Indonesia masih belum merata. Hal ini disebabkan oleh beberapa kebiasaan yang menyebabkan ketergantungan pada hal-hal yang praktis, orang Indonesia begitu dimanjakan oleh para pelaku bisnis untuk menikmati produk sesuai keinginan mereka, namun para pelaku bisnis tersebut hanya bertanggung jawab hingga pembeli membeli produknya, setelah itu semua terserah kepada konsumen.

Sementara di beberapa negara maju, kebiasaan tersebut sudah jarang dilakukan demi mengelola keberlanjutan lingkungan. Berikut adalah beberapa contoh perbandingan kebiasaan di Indonesia dan negara maju yang dapat berpengaruh kepada keberlanjutan lingkungan. Kebiasaan ini sudah bersifat massal dan kemungkinan sulit untuk diubah, maka dari itu di sini muncul peran desainer untuk mengubah persepsi masyarakat tentang kebiasaan di bawah ini:

1. Kantong untuk berbelanja

Berbelanja merupakan kegiatan wajib sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan. Di Indonesia, hampir seluruh toserba memberikan kantong plastik kepada pelanggan untuk membawa barang belanjaannya. Bahkan tidak jarang satu pelanggan diberikan lebih dari 1 plastik untuk memembungkus beberapa jenis barang yang berbeda. Hal ini bertujuan tak lain untuk kepraktisan pelanggan berbelanja, sehingga mereka dapat berbelanja kapan saja meskipun tidak direncanakan. Plastik juga merupakan material yang kuat untuk melindungi belanjaan dari air, juga terdapat pegangan sehingga orang tidak terganggu apabila mobilitasnya tinggi.

Berbeda dari berbelanja di Amerika, pelanggan cenderung membawa kantong sendiri atau disediakan kantong kertas daur ulang yang tidak memiliki pegangan. Karena kantong kertas merupakan material yang rapuh, kantong tersebut tidak diberikan pegangan agar pelanggan membawanya dengan cara menggendongnya. Apabila belanjaan terlalu banyak, mereka akan menggunakan troli.

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.1. Kantong belanja di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Dari kedua perbedaan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelanggan Indonesia lebih dimanjakan dari pelanggan Amerika, namun apabila dikaitkan dengan penjagaan lingkungan, warga Amerika memiliki kesadaran yang lebih tinggi. Sayangnya saat ini hampir seluruh perusahaan retail di Indonesia masih menggunakan plastik untuk membantu pelanggannya. Sehingga masyatakat Indonesia sudah terbiasa akan hal itu dan membutuhkan waktu lama untuk berubah, karena kemungkinan perusahaan tidak ingin kehilangan pelanggan dengan mengubah regulasi pemberian kantong plastik. Konsumsi plastik di Indonesia pada tahun 2014 mencapai sekitar 3 juta ton, namun hal tersebut tidak diseimbangi dengan pengelolaan sampah yang baik sehingga terdapat banyak sampah plastik yang berceceran di saluran air dan sungai sehingga menyebabkan beberapa daerah terkena banjir.

2. Jumlah rangkaian kemasan dalam satu produk

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Gbr.2. Kemasan mi instan di Indonesia (kiri), kemasan mi instan di Jepang (kanan)

Contoh yang paling mencolok dan dikonsumsi hampir di 90% warga Indonesia adalah produk mi instan. Terdapat berbagai macam varian mi instan sesuai dengan selera orang Indonesia. Kepedulian perusahaan terhadap selera pelanggan menyebabkan mereka harus memisahkan masing-masing bumbu dalam plastik berbeda, seperti minyak, bawang goreng, bumbu pedas, sayuran kering, dan sebagainya.

Sementara produk mi instan di Jepang, hanya menggunakan dua macam plastik, satu untuk bumbu dan satu lagi untuk sayuran kering. Dari segi pembuatan, tentu kemasan produk Jepang tidak memerlukan energi sebesar pembuatan produk mi instan Indonesia.

3. Kebiasaan dalam pemilahan sampah

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Gbr.3. Tempat sampah umum di Indonesia (kiri) dan Amerika (kanan)

Kebutuhan produk yang tinggi dalam kategori consumer goods seperti makanan instan, produk sabun dan sebagainya menghasilkan limbah berupa bekas kemasan produk tersebut dalam jumlah yang masif, hal ini tidak diseimbangi dengan pengolahan sampah yang baik. Berbagai macam material limbah disatukan dalam satu tempat sehingga menyulitkan dan menurunkan nilai jual limbah yang dapat didaur ulang.

Jepang dan Amerika sudah menerapkan sistem pemilahan sampah dan menerapkan sistem denda bagi yang tidak melaksanakannya dengan baik. Sistem hukuman yang tegas membuat masyarakat negara-negara tersebut menjadi terbiasa mengatur sampah mereka meskipun tanpa pengawasan.

4. Ketergantungan transportasi dan tren mobil pribadi

Di Indonesia transportasi angkutan umum utama yang digunakan adalah angkot, di mana mobil dengan berbagai macam jurusan dapat ditemukan di mana saja dan diberhentikan di mana saja sesuai kebutuhan. Hal ini membuat orang Indonesia memiliki ketergantungan untuk menaiki transportasi daripada jalan kaki meskipun dalam jarak dekat. Di Jepang, orang hanya menaiki transportasi apabila akan pergi ke kota lain, selebihnya berjalan kaki atau naik sepeda. Maka dari itu tidak heran apabila turis Jepang mampu berjalan dari satu tempat ke tempat lain di suatu kota di Indonesia walaupun orang Indonesia cenderung harus menggunakan transportasi.

Selain itu, orang Indonesia yang sangat mudah terpengaruh oleh iklan dan keinginan aktualisasi diri yang tinggi, menyebabkan banyak individu ingin memiliki mobil pribadi agar status sosialnya meningkat. Berbeda dengan di Jepang, orang Jepang yang mapan atau menengah ke atas cenderung tidak memiliki mobil dan memilih menggunakan transportasi umum. Orang Jepang yang memiliki mobil justru tinggal di desa-desa karena mereka membutuhkannya untuk membeli kebutuhan di kota. Meskipun sebagian besar perusahaan mobil dan motor berasal dari Jepang, target pasar mereka justru negara-negara berkembang seperti Indonesia, sementara di negara sendiri tidak begitu banyak peminatnya.

5. Ketergantungan pada rokok

Pada tahun 2008 menurut WHO (sumber: http://swa.co.id/) , Indonesia menempati urutan ketiga sebagai negara dengan jumlah perokok terbanyak di dunia. Sebagaimana kita ketahui rokok memberi dampak negatif pada lingkungan dengan asapnya, juga berbahaya bagi kesehatan. Namun, zat adiktif yang terdapat di dalamnya membuat warga Indonesia dari berbagai kalangan sulit untuk berhenti. Sementara di Jepang dan Australia (sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/ ) jumlah perokok justru menurun drastis, banyaknya penyakit yang disebabkan oleh rokok menyebabkan pemerintah menaikan pajak tembakau hingga 60%, sehingga satu bungkus rokok dapat berharga 200ribu rupiah. Upaya tersebut telah menurunkan jumlah perokok hingga 20%.

Kesimpulan dari perbedaan kebiasaan di atas adalah di Indonesia peraturan dan sistem cenderung memberi kebebasan dan kepraktisan kepada warganya tetapi tidak didasari oleh keberlanjutan lingkungan. Sementara di negara maju, pemerintah mereka tidak segan untuk membuat warganya repot asalkan keberlanjutan lingkungan dapat dipertahankan. Poin-poin di atas, tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat kebiasaan lain di negara maju yang dapat diterapkan di Indonesia. Hal-hal besar tidak dapat diubah secara instan, namun harus secara perlahan melalui kebiasaan sehari-hari. Dewasa ini kita sudah merasakan perubahan iklim yang cukup drastis, dari hujan yang besar hingga panas yang terik. Bencana alam seperti banjir yang terjadi di beberapa kota besar, terutama Jakarta, sebagian besar disebabkan oleh beberapa kebiasaan masyarakat yang sangat sulit untuk diubah karena telah dilakukan sejak lama. Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan agar bumi kita dapat bertahan untuk anak cucu kita nanti.