Bandung, Contoh SDG Dunia

 

ekrafbdg NEW.002

Menjelang Pertemuan Tahunan Jejaring Kota-kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/ UCCN) yang ke-11 Juli lalu di Enghien-les-Bains, Kota Media Art di Perancis, Bandung dihubungi oleh UNESCO, diminta untuk mempresentasikan salah satu kegiatan rutinnya dalam sesi khusus mengenai Sustainable Development Goal (SDG) dalam rangkaian pertemuan tersebut.

Bagi Bandung, yang bergabung dalam UCCN sebagai Kota Desain pada tanggal 11 Desember 2015, Pertemuan Tahunan yang ke-11 ini merupakan yang kedua kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan di Östersund, Kota Gastronomi di Swedia. Dalam pertemuan UCCN ke-10 tahun 2016 itu, dalam sesi konferensi Valuing and Evaluating Creativity for Sustainable Regional Development, Bandung mengutarakan prinsip dasarnya sebagai “Kota Desain”, di mana “Desain” bagi Bandung tidaklah terbatas pada kualitas fisik dan estetik suatu obyek/ komoditi, atau sebuah profesi berbasis ilmu-ilmu desain yang diketahui selama ini, namun “Desain” yang juga sebagai cara berpikir warganya dalam mengatasi permasalahan lokal, sebagai cara menciptakan purwarupa solusi berbagai isu perkotaan, dan sebagai alat untuk mengurangi kesenjangan antara warga dengan pemerintah, kebijakan, dan regulasi. Prinsip inilah yang membawa Bandung diterima masuk ke dalam jejaring tersebut, yang terbukti telah memberikan  peluang yang sangat luas  untuk mengembangkan potensi ekonomi kreatifnya.

Kali ini, Bandung diminta untuk mempresentasikan DesignAction.bdg, yang dinilai oleh UNESCO sebagai salah satu contoh terbaik penerapan tujuan SDG #11, Sustainable City. Dalam proses persiapan materi presentasinya, dilakukan beberapa kali asistensi, hingga terdapat versi akhirnya, seperti yang ditampilkan sebagai slideshow di sini.

More on DesignAction.bdg, coming up!

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Apa Kata Prof. John Howkins Sekarang?

Name tag sebagai pembicara di #ASEANCC2017

ASEAN menyelenggarakan Creative Cities Forum & Exhibition di Manila, Filipina, pada tanggal 26-27 April ini. Bandung diundang sebagai pembicara di hari kedua sebagai salah satu kota di Asia Tenggara yang telah menjadi anggota Jejaring Kota Kreatif UNESCO (UNESCO Creative Cities Network/ UCCN), yaitu sebagai Kota Desain, sejak Desember 2015. Selain Bandung, kota yang telah masuk jejaring UCCN adalah Pekalongan (Kota Kriya & Seni Rakyat), Phuket (Kota Gastronomi), dan Singapura (Kota Desain). Suatu kehormatan untuk dapat mewakili Bandung di forum ini, terutama waktu tahu bahwa ada teman dari jejaring BCCF, SouthEast Asian Creative Cities Network (SEACCN), yang juga akan hadir. Lebih semangat lagi ketika mengetahui bahwa pembicara kunci untuk forum ini adalah Prof. John Howkins, yang pertama kali memunculkan istilah “Ekonomi Kreatif” sekitar 20 tahun lalu.

Prof. John Howkins membawakan materinya di #ASEANCC2017

Catatan berikut ini adalah beberapa hal dari materi yang disampaikan oleh Prof. John Howkins pada keynote speech-nya yang berjudul What, When and How? The Creative Economy in The Philippines.

  1. What? Dalam tahun-tahun belakangan ini, lebih dari 150 negara dan ribuan kota membuat komitmen tingkat tinggi terhadap ekonomi kreatif. Terjadi peningkatan luaran secara global dari 2,200 Milyar USD di tahun 2000 menjadi 4,600 Milyar USD di tahun 2016.
  2. What? Kreativitas memanfaatkan berbagai gagasan untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru. Sifatnya individual, pribadi, subyektif, dan ekspresif. Ekonomi Kreatif adalah menghasilkan uang dari gagasan-gagasan (The Creative Economy is making money out of ideas).
  3. What? Di UK (DCMS), Industri Kreatif bernilai sebesar 89 Milyar GBP, atau berkontribusi hingga 5,2%. Ekonomi Kreatif (seluruh bisnis kreatif) bernilai 133 Milyar GBP, atau 8,1%. Di Amerika (BEA), industri kreatif terhitung sebesar 704 Milyar USD, atau 4,2% dari GDP.
  4. When? Sejak kapan fenomena menguangkan gagasan ini terjadi? Bisnis kreatif memiliki sejarah panjang. William Shakespeare, seorang pujangga Inggris, adalah seorang jutawan. Mengutip Daniel Defoe, seorang penulis dan pebisnis, “Menulis telah menjadi sebuah cabang dalam dunia komersil di Inggris yang sangat diperhitungkan” (1725).
  5. When? Apa istilah yang tepat untuk fenomena ini? Berbagai istilah telah diperkenalkan, seperti Information Economy di tahun 1962 oleh Fritz Machlup, kemudian Knowledge Economy oleh Peter Drucker (1969), Post-Industrial Society oleh Daniel Bell (1973), dan Digital Economy oleh Don Tapscott (1995). Selain itu, muncul pula istilah-istilah lain seperti entertainment economy, attention economy, wired economy, network economy, dan cultural economy. Namun sejak tahun 1990an hingga kini, lebih dikenal dengan istilah Creative Economy.

    Grafik pertumbuhan sub-sektor industri kreatif di UK tahun 2008-2014

  6. Apa yang terjadi di tahun 1990an? Kreativitas menjadi gerakan massal. Orang-orang kreatif jadi bersikap seperti pebisnis. Para pebisnis menjadi lebih kreatif. Konsumen menginginkan kebaruan, gaya, dan hiburan. Pemerintah Inggris mempromosikan kreativitas sebagai sumber kesejahteraan, mengoleksi data industri inti, meluncurkan paket kebijakan menyeluruh.
  7. Apa yang terjadi di tahun 1990an? Teknologi digital mengubah konten, jejaring, format, produksi, promosi, harga, dan distribusi.
  8. Kita sekarang berada di mana? Prof. Howkins mengutarakan tiga konsep terkait Ekonomi Kreatif yang belum berubah banyak sejak dahulu: (1) Setiap orang terlahir kreatif, (2) Kreativitas memerlukan kebebasan, (3) Kebebasan memerlukan pasar.
  9. (1) Setiap orang terlahir kreatif. Setiap orang terlahir dengan memiliki imajinasi, dan gairah untuk memanfaatkannya untuk kesenangan pribadi dan tujuan umum. “Menjadi kreatif adalah berlaku sewajarnya.”
  10. (2) Kreativitas memerlukan kebebasan. Kita menginginkan kebebasan dalam mengatur hubungan kita dengan gagasan-gagasan.
  11. (2) Kreativitas memerlukan kebebasan. Untuk berkata ya, berkata tidak, berekspresi, mengeksplorasi, mengungkap, mempertanyakan, mengikuti, menyadur, mengendalikan, menolak, memuntir, mempopulerkan, memproduksi, mengemas, menampilkan, membingkai, meminjam, menggandakan, mencuri, mengembangkan, meneliti, menguji, menguji lagi, mengetahui, berbagi, bertukar, membuat purwarupa, mempromosikan, menjual, membeli, … “Cari, Tiru, Gabung dan Pelajari.”

    Bagian 1 graphic note Howkins

  12. (3) Kebebasan memerlukan pasar. Dalam Ekonomi Kreatif, terdapat aset, industri, pasar, dan transaksi. Sektor-sektor inti adalah: seni, desain, entertainment, media, dan inovasi – selain juga makanan, penjaga pesisir (US) dan pertanian (Cina).
  13. Bekerja dalam Ekologi Kreatif. Kreativitas adalah hal yang sangat kompetitif: lebih kompetitif dari pekerjaan yang sifatnya berulang, selalu berupaya mencari kebaruan, “sebuah ekonomi kegagalan”? Terdapat risiko pribadi: kesepian dan ketakutan, karena proses kreatif bagi penciptanya biasanya dilakukan secara pribadi. Terdapat risiko bisnis: aset takbenda (ide, kekayaan intelektual), ketidak-pastian pasokan, permintaan dan nilai; dan pengusaha pemula (start-up) memiliki tingkat kegagalan yang sangat tinggi.
  14. Bekerja dalam Ekologi Kreatif. Kita semua menghadapi dua ‘hakim’: yang satu akan selalu mempertanyakan: apakah ini hal terbaik yang bisa kamu lakukan? Sementara yang satu lagi akan bertanya, mungkin karyamu ini cukup baik, tapi apakah ini yang dikehendaki pasar? Pertimbangannya adalah pada “suara pribadi dan kekuatan kelompok.”

    Bagian 2 graphic note Howkins

  15. Universality: Kepemimpinan Pemerintah. Pemerintah UK (1998) menyatakan bahwa kreativitas merupakan hal yang penting untuk: kepuasan pribadi, kesejahteraan sosial, kekayaan ekonomi. Adanya pernyataan ini berdampak pada meningkatnya rasa percaya diri para pelaku kreatif, politisi, orang tua dan generasi muda – yang makin menjadi yakin akan pilihan masing-masing pada bidang kreatifnya. Aksi: deklarasi tingkat tinggi bahwa ekonomi kreatif adalah sebuah sumber daya nasional untuk semua orang.
  16. Universality: Pendidikan. Mereka yang berpendidikan tinggi menjadi semakin memiliki keinginan bereksplorasi dan lebih ekspresif, dan ingin bekerja di bidang bisnis kreatif (pasokan) dan ingin membeli produk kreatif (permintaan). Terdapat generasi baru: angkatan kerja dengan kapasitas pengetahuan, 70% lapangan kerja baru kini mensyaratkan “kreativitas” (McKinsey). Aksi: memperpanjang durasi edukasi, menambah kampus-kampus spesialis. Mahasiswa kini harus makin dihadapkan pada berbagai permasalahan nyata.
  17. Universality: Pendidikan. “Para pembelajar muda” harus “didorong untuk berkreasi, untuk mau mengambil risiko” (Peraturan Edukasi Prasekolah). Aksi: membuat hal ini menjadi dasar pendidikan di pra-TK, setelah TK, dan sepanjang hidup (belajar secara terus-menerus).

    Bagian 3 graphic note Howkins

  18. Kebebasan: Belajar. Edukasi tidak sama dengan belajar. Edukasi merupakan hal yang diarahkan oleh negara, bersifat wajib, dan memiliki batasan umur. Belajar merupakan hal yang diarahkan oleh diri sendiri, bersifat sukarela, dan terus berlanjut. Belajar lebih penting dibandingkan edukasi. Mengacu dari Soedjatmoko mengenai Kapasitas Pembelajaran: infrastruktur SDM perlu diolah untuk mewujudkan masyarakat pembelajar. Aksi: membuka lebih banyak kesempatan belajar di luar sistem edukasi (UK Skillset).
  19. Pasar: Managing Talent. Keberhasilan memerlukan keterampilan khusus: kepemipinan (mengintegrasikan kreativitas dan bisnis), memaksimalkan gagasan baik, kontrak (cara menuliskan, cara menutup perjanjian), finansial (menyertakan aset takbenda dalam neraca), pemasaran (memanfaatkan media sosial), dan penjualan (hubungan konsumen). Aksi: kampus manajemen dan bisnis.
  20. Pasar: Copyright. Copyright adalah mata uang ekonomi kreatif. IP memungkinkan kita untuk memiliki dan mengendalikan aset kita. Tapi kita memerlukan keseimbangan antara kepemilikan dan akses. Aksi: mendirikan sebuah pusat konsultasi IP gratis dan sebuah simpul untuk Digital Copyright Exchange.

    Bagian 4 graphic note Howkins

  21. Pasar: Retail. Di seluruh hal ekonomi, penjualan sama pentingnya dengan pembuatan. Drucker: sebuah perusahaan memiliki hanya dua fungsi, inovasi dan penjualan. Penjualan dalam hal ini bertujuan: menghasilkan pendapatan, memungkinkan pengembangan bisnis, dan menyebar gagasan-gagasan baru. Aksi: ikuti pendapat Drucker, dan kebijakan yang mendukung distribusi dan penjualan.
  22. Empat kriteria untuk memulai aksi: Perubahan dan Keberagaman, dan Pembelajaran dan Adaptasi.
  23. “Masa depan tidak menunggu untuk ditemukan. Masa depan itu untuk diciptakan, terlebih dahulu dalam pemikiran, lalu dalam kegiatan.” Walt Disney.

Prof. Howkins dengan graphic note dari materi keynote speech

Beberapa hal yang tertangkap dalam graphic notes antara lain:

  • mengenai pentingnya bagi pemerintah untuk memiliki kepemimpinan dan cara berpikir yang berbeda (mau menanyakan, “apa yang bisa kami bantu? apa masalah yang kalian hadapi?” pada para pengusaha pemula), dan bahwa pemerintah seharusnya mendengarkan juga saran dari para pelaku dalam bidang desain dan media;
  • karya ekonomi kreatif merupakan hal yang subyektif, sehingga sulit untuk menjadikannya sebuah kebijakan yang memerlukan perhitungan-perhitungan kuantitatif;
  • mengenai cara meyakinkan pemerintah lokal: melalui demo/ pilot project yang tidak terlalu mewah, tapi dapat menjadi sebuah simpul yang dihargai baik oleh sektor bisnis maupun oleh komunitas;
  • bahwa kita makin hidup dalam dunia jejaring takbenda, di mana konsumen lebih memilih untuk bukan lagi membeli, melainkan memiliki benda, dan lebih menginginkan untuk mendapatkan akses ke sebuah pengalaman;
  • setiap negara perlu memiliki sekolah seni khusus (film, desain, dsb.).

Dan ada banyak hal lagi yang membuat bahasan mengenai ekonomi kreatif ini menjadi tak kunjung habis. Bagi yang masih penasaran, terutama yang berada di Bandung November 2017 ini, bisa berinteraksi langsung dengan Prof. John Howkins yang telah bersedia hadir di Bandung Design Biennale! Nantikan update selanjutnya ^_^

Prof. Howkins menutup presentasinya dengan kutipan dari Walt Disney, tokoh kreatif dunia

Riung Gunung: children as co-designers

DAbdg putihChildren are important stakeholders of a city. In the next 20-30 years, they will be the ones taking over and making decisions for the city. However, they are often neglected, or not taken into account, by public facilities and infrastructures that are built in Bandung. The streets – and even sidewalks – are too dangerous for them to walk or ride bicycles alone, city parks are neither closed nor unkempt, playgrounds are almost non-existent, and so on. It is due time that they should say their desires for the city and to be listened to. This is the main reason why Riung Gunung is on!

REV [RG]Poster_05 (pendaftaran)

Riung Gunung promotional poster

Riung Gunung is a workshop organized by Sahabat Kota, a community/organization in Bandung that has been active in holding programs and events for children and youth who want to learn about the City of Bandung and urban life. As a part of the pre-event series approaching DesignAction.bdg, Riung Gunung is coming up really soon as the next one. This workshop is held for 60-90 children between the ages of 9 to 12, whose main task is to make a scenario of Bandung 2035. In this 6-days workshop, they will go through the phases of exploration, city adventure, envisioning, co-design workshop, and realization. As a result, they will make a model or a physical miniature of the city according to their design, and will act it out, according to the systems they create. These results will be performed and exhibited on July 7, 2013, at Selasar Sunaryo Art Space, a gallery at the North of Bandung, and also during DesignAction.bdg event on October 1-3, 2013.

The 30 instructors who will accompany these children during this workshop have been having their own workshops in order to be prepared with appropriate knowledge, with the following subjects: design thinking, sustainable development, child psychology, education for sustainable development, city planning, performance, games, child handling and creativity.

Detailed program of Riung Gunung

Detailed program of Riung Gunung

We are really looking forward to having this workshop. Hope for a lot of fun and incredible results!

More about Sahabat Kota: http://kisahsahabatkota.wordpress.com/

Sahabat Kota at Facebook: https://www.facebook.com/sahabat.kota

Sahabat Kota at Twitter: https://twitter.com/sahabatkota

Sahabat Kota videos at YouTube: http://www.youtube.com/user/komunitassahabatkota

7 Prinsip Keberlanjutan untuk Komunitas Interaktif

Limpahan informasi, terutama tautan ke berbagai situs, salah satunya telah membawa saya ke sebuah tulisan berjudul Designing a Movement: Seven Principles for Sustainable Action (Valerie Casey), di mana Valerie Casey, pendiri Designers Accord, menyimpulkan prinsip-prinsip “keberlanjutan” yang dapat ia tawarkan ke komunitas desainer interaktif – sekelompok orang yang secara mendarah-daging selalu menganggap bahwa keberlanjutan adalah suatu desain sistem. Selengkapnya tentu saja bisa dibaca langsung di situs tersebut; di sini saya hanya merunut ke-tujuh prinsip tindakan berkelanjutan yang disampaikan Valerie.

1. Sebuah sistem bukanlah hanya sebuah gabungan dari bagian-bagian dari sistem tersebut. Satu bagian sistem pasti berpengaruh pada yang lain; tidak ada yang berada di luar sistem.

Tindakan: Memahami konsep sistem. Di sebuah bentangan benang yang ujung-ujungnya telah tertanam pasti/fixed (diagram Bruce Mau), tarikan pada satu bagian pasti akan mengulur bagian-bagian yang lain. Petakanlah proyek, sumber daya dan dampaknya dengan cara ini.

2. Masukan yang tertunda menyebabkan “jebakan desain”. Desainer bisa membuat keputusan buruk bila masukan/tanggapan terlambat datang.

Tindakan: Jangan mendesain untuk gejala tertentu saja. Banyak proyek desain terfokus hanya pada pemecahan masalah yang mudah untuk dicerna, daripada mengatasi sumber permasalahannya. Contohnya, orang lebih dianjurkan untuk mendaur ulang, tapi tidak pernah benar-benar dianjurkan untuk mengurangi belanjaan atau membeli produk-produk lokal.

3. Tidak ada yang namanya efek samping. Kita sering menentukan batasan-batasan artifisial di sekitar proyek kita bukan saja untuk memfokuskan diri pada permasalahan, tapi juga untuk menghindari tanggung-jawab terhadap hal-hal di luar batasan tersebut.

Tindakan: Alamilah produk-sampinganmu sendiri. Cobalah membawa-bawa sampahmu sendiri selama seminggu. Jangan buang benda-benda non-organik yang kamu pakai: botol plastik, kemasan, tisu, peralatan makan, semuanya. Ini akan jadi sebuah pelajaran kilat untuk mengetahui ‘efek samping’ dari semua konsumsi kita.

4. Tetapkan ukuran-ukuran kesuksesan yang tepat. Kurang buruk tidak berarti baik.

Tindakan: Buka sebuah jejaring sosial dengan sebuah tujuan sosial. Kita suka menciptakan jejaring, tapi bagaimana kalau kita menciptakan sebuah alasan untuk berjejaring? Kalkulator jejak karbon jadi kurang laku karena keabstrakan data hasilnya, berbeda dengan situs-situs di mana orang berbagi kasus-kasus nyata, perkembangan-perkembangan dan usaha-usahanya.

5. Pilih tingkatan yang tepat untuk perubahan.

Tindakan: Jadilah seorang mentor. Luangkan enam minggu bekerja dengan seorang siswa tingkat menengah atas, dan pelajari dirimu sendiri sambil membantu orang lain memakai pemikiran desain untuk mengubah lingkungan mereka (misalkan, sebuah sekolah).

Peta perjalanan bahan pembuat sebuah taco, menempuh hingga 64,000 mil (sumber: http://www.fastcompany.com/1567625/the-anatomy-of-a-taco)

6. Kenali hubungan antara struktur dan perilaku. Struktur sebuah kelompok, organisasi, komunitas, industri secara keseluruhan menentukan perilakunya.

Tindakan: Lakukan investigasi terhadap sebuah sistem. Telitilah sistem makanan dalam segala kejayaan politisnya yang korup. Mengertilah bahwa yang kau masukkan ke mulut adalah sebuah aksi politis. Cari berbagai referensi yang membuat kita tahu bagaimana pasar makanan global membuat lapar pihak-pihak yang miskin. Bayangkan dan berbagilah sumber-sumber mengenai hal-hal yang kau sukai, dan tambahkan sedikit data dalam investigasimu, mungkin kau bisa mempertentangkan berbagai asumsi tentang keberlanjutan, dan meluncurkan cara baru dalam berpikir.

7. Perhatian publik seringkali tidak mencerminkan perubahan dalam kondisi sebenarnya. Jangan terbuai oleh efek memabukkan dari isu-isu yang beredar tentang keberlanjutan – kamu juga harus melakukan sesuatu!

Tindakan: Kontribusi, distribusi. Bertindaklah sekarang!